Alpukat Berlebih, Burger Wagyu Mahal, Kopi Premium Terlalu
Gambar atau konten salah?
Alpukat, buah yang sering disebut “superfood”, banyak dikonsumsi setiap hari. Meskipun kaya nutrisi, tak sedikit orang yang tidak sadar kalau asupan berlebihan dapat menimbulkan efek negatif. Berbagai manfaat seperti lemak tak jenuh tunggal yang baik untuk jantung dan serat yang menjaga pencernaan memang ada, namun kalori juga tinggi.
Menurut ahli gizi Lauren Manaker, konsumsi alpukat harian pada umumnya aman bagi kebanyakan orang sehat. Ia menekankan pentingnya porsi dan keseimbangan pola makan. Asupan berlebihan dapat meningkatkan total kalori, sehingga bagi yang ingin menjaga berat badan atau memiliki kondisi tertentu, perlu memperhatikan jumlah yang dikonsumsi.
Berbeda dengan buah, dunia kuliner juga sedang memanas dengan munculnya gerai burger premium. Bobby's Burger, yang dimiliki oleh influencer terkenal Ben Sumadiwiria, menawarkan burger berbahan dasar full daging wagyu. Gerai ini terletak di sebuah cabang PIM yang cukup kecil, namun mampu menampung sekitar 15 orang. Menu andalan, Truffle Wagyu Deluxe, dijual seharga hampir Rp 150.000. Harga tersebut mencerminkan kualitas patty 100% wagyu dan isian burger yang tebal serta lengkap. Selain burger, pelanggan juga dapat menikmati kentang goreng dan chicken tenders yang tidak kalah lezat.
Di sisi lain, kafe viral asal Bali, Gigi Susu, membuka pop‑up di Yogyakarta. Menu kopi dan pastry di sini dibanderol mulai dari Rp 40 ribuan hingga Rp 60.000. Contohnya, croissant dan pain au chocolate masing‑masing dijual seharga Rp 60.000. Harga ini menjadi bahan perbincangan karena dianggap lebih tinggi dibandingkan Upah Minimum Regional (UMR) di Yogyakarta. Banyak netizen yang merasa harga tidak sebanding dengan nilai yang ditawarkan.
Reaksi publik terhadap ketiga fenomena ini cukup beragam. Di satu sisi, para pecinta makanan menikmati keunikan dan kualitas produk, baik itu alpukat segar, burger wagyu, maupun kopi premium. Di sisi lain, ada kritik yang menyoroti potensi overconsumption alpukat, harga premium burger yang mungkin tidak terjangkau, dan harga kopi yang dianggap tinggi. Semua perbincangan ini mencerminkan dinamika pasar makanan di Indonesia, di mana kualitas, inovasi, dan harga seringkali menjadi faktor penentu popularitas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
