Amalan Dzulhijjah: Puasa, Dzikir, dan Larangan Penting
Gambar atau konten salah?
Dzulhijjah adalah bulan ke‑12 dalam kalender Hijriah, yang sering disebut Bulan Haji karena berisi pelaksanaan ibadah haji di Mekkah. Bulan ini juga menandai dua peristiwa penting: puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah dan Hari Raya Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah. Karena keutamaan yang tinggi, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah dan menghindari larangan‑larangan tertentu.
Berikut ini uraian singkat tentang amalan sunnah yang dianjurkan selama sepuluh hari pertama Dzulhijjah, serta larangan‑larangan yang harus dihindari, berdasarkan penjelasan NU Online, MUI, dan buku Memburu Syurga di Bulan Istimewa karya Miftah Fauzi.
- Berpuasa pada 10 Hari Pertama Dzulhijjah
- Menghidupkan Malam 10 Hari Pertama Dzulhijjah
- Memperbanyak Dzikir
- Memperbanyak Amal Saleh
- Melaksanakan Puasa Tarwiyah
- Melaksanakan Puasa Arafah
- Berkurban
- Menunaikan Ibadah Haji
Berpuasa pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan amalan yang sangat dicintai Allah. Rasulullah SAW bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ أَنَّهُ قَالَ: مَا الْعَمَلُ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِى هَذِهِ قَالُوا وَلاَ الْجِهَادُ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ
Artinya: "Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda: 'Tidak ada amal ibadah yang lebih utama selain yang dikerjakan pada sepuluh hari ini (maksudnya sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah).' Para sahabat bertanya: 'Apakah sekalipun jihad di jalan Allah?' Rasulullah saw menjawab: 'Sekalipun dari jihad. Kecuali seseorang yang keluar untuk berjihad dengan diri dan hartanya, lalu tidak ada sedikitpun yang pulang dari padanya'." (HR Bukhari)
Puasa pada tanggal 1‑7 Dzulhijjah disebut puasa Dzulhijjah, tanggal 8 disebut puasa Tarwiyah, dan tanggal 9 disebut puasa Arafah. Amalan ini diyakini dapat menghapus dosa dan dilipatgandakan pahala.
Selain puasa, umat dianjurkan menghidupkan malam‑malam sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Nabi Muhammad SAW menegaskan:
عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ ابْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا، وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Artinya: "Dari Qatadah, dari Ibnu Al-Musayyib, dari Abi Hurairah dari Nabi Muhammad SAW bersabda: Sepuluh hari pertama dalam Dzulhijjah merupakan hari yang sangat disenangi oleh Allah, karenanya beribadahlah pada-Nya, dirikanlah puasa dan hidupkanlah malam seperti menghidupi Lailatul Qadar." (HR Imam Tirmidzi)
Dengan menghidupkan malam, kita meniru sikap Nabi yang selalu berdoa dan berzikir di malam hari, menambah kedekatan dengan Allah.
Selama sepuluh hari pertama, umat juga dianjurkan memperbanyak dzikir. Hadits berikut menegaskan pentingnya dzikir:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
Artinya: "Dari Ibnu Umar dari Nabi Muhammad SAW bersabda: 'Sepuluh hari pertama dalam Dzulhijjah merupakan hari yang sangat diagungkan dan disenangi oleh Allah, karenanya perbanyak ucapan tahlil, takbir, tahmid.'" (HR Imam Ahmad)
Dzikir yang sering dibaca antara lain: “Allahu Akbar”, “Alhamdulillah”, “Subhanallah”, “La ilaha illallah”, dan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, la ilaha illallah.”
Selain dzikir, umat dianjurkan memperbanyak amal saleh secara umum. Hadits lain menegaskan:
قَوْلُهُ ﷺ: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ
Artinya: "Nabi Muhammad SAW bersabda: 'Beramal saleh di saat sepuluh hari pertama merupakan amal yang sangat disukai oleh Allah.'" (HR Imam Ahmad)
Amal saleh mencakup segala kebaikan: sedekah, membantu tetangga, menolong orang tua, dan menunaikan kewajiban ibadah lainnya.
Puasa Tarwiyah, yang dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, juga termasuk amalan sunnah. Mayoritas ulama menyarankan puasa ini karena setara dengan puasa satu tahun. Al-Qarafi menjelaskan:
وفي الجواهر يستحب صوم تاسوعاء ويوم التروية وقد ورد صوم يوم التروية كصيام سنة وصوم الأشهر الحرم وشعبان وعشر ذي الحجة وقد روي أن صيام كل يوم منها يعدل سنة
Artinya: "Menurut pendapat ulama mayoritas, berpuasa pada hari Tasu'a dan Tarwiyah disunnahkan. Sesungguhnya sudah disebutkan bahwa berpuasa pada hari Tarwiyah sama dengan puasa satu tahun, berpuasa pada bulan Haram dan Syaban, Dzulhijjah. Dan sesungguhnya diriwayatkan bahwa berpuasa pada hari-hari tersebut setara dengan setahun." (Al-Qarafi, Adzakhirah Lil Qarafi)
Walaupun hadits tentang puasa Tarwiyah dinilai dhaif oleh sebagian ulama, banyak yang tetap membolehkan amalkannya sebagai upaya memperoleh keutamaan amal.
Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah memiliki keutamaan besar. Nabi bersabda:
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ؟ قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Artinya: "Dari Abi Qatadah, Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa hari Arafah. Nabi menjawab: 'Puasa tersebut akan melebur dosa yang lampau maupun yang akan datang.'" (HR Muslim)
Puasa Arafah diyakini dapat menghapus dosa dua tahun, baik yang lalu maupun yang akan datang.
Berkurban pada tanggal 10 Dzulhijjah juga menjadi amalan utama. Ibadah kurban mengingatkan akan keteguhan iman Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Allah menegaskan dalam Al‑Qur'an surat Al‑Kautsar ayat 2:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ
Artinya: "Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah." (QS Al‑Kautsar ayat 2)
Kurban juga menjadi simbol rasa syukur, kepedulian sosial, dan penghapusan sifat kebinatangan.
Selain kurban, ibadah haji juga merupakan amalan utama pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Allah menegaskan pentingnya haji dalam surat Al‑Hajj ayat 27:
وَأَذِّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
Artinya: "Dan berserulah kepada manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS Al‑Hajj ayat 27)
Ibadah haji merupakan amal paling utama yang dikerjakan pada bulan ini karena waktunya khusus.
Berikut ini larangan‑larangan yang harus dihindari selama sepuluh hari pertama Dzulhijjah, terutama bagi yang hendak berkurban.
- Memotong rambut dan kuku bagi orang yang hendak berkurban
- Berpuasa saat Hari Raya Idul Adha
- Berpuasa pada Hari Tasyrik (tanggal 11‑13 Dzulhijjah)
Larangan pertama adalah memotong rambut dan kuku setelah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah, jika seseorang berniat berkurban. Hadits Ummu Salamah RA menyatakan:
إِذَا دَخَلَتِ العَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
Artinya: "Apabila telah masuk sepuluh hari pertama (Dzulhijjah), dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, hendaklah ia tidak mencukur rambut dan tidak memotong kukunya." (HR Ahmad dan Muslim)
Larangan ini berlaku setelah seseorang berniat berkurban. Jika rambut atau kuku dipotong sebelum berniat, tidak menjadi masalah. Larangan ini tidak berlaku bagi anggota keluarga orang yang berkurban.
Larangan kedua adalah berpuasa pada Hari Raya Idul Adha (tanggal 10 Dzulhijjah). Pada hari ini, umat diharamkan berpuasa dan dianjurkan menyembelih hewan kurban serta membagikannya kepada fakir miskin maupun keluarga.
Larangan ketiga adalah berpuasa pada Hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Hari-hari ini masih termasuk suasana perayaan Idul Adha, sehingga umat tidak diperbolehkan berpuasa. Beberapa ulama menganggap hukumnya makruh, bukan haram. Hadits Rasulullah SAW menjelaskan:
Sesungguhnya, Hari Tasyrik itu adalah hari makan, minum, dan dzikirullah. (HR Muslim)
Hadits tersebut menegaskan bahwa Hari Tasyrik adalah waktu untuk menikmati nikmat Allah, makan dan minum, serta memperbanyak dzikir.
Dengan memahami amalan dan larangan ini, umat dapat memaksimalkan ibadah selama bulan Dzulhijjah dan memperoleh keutamaan yang dijanjikan. Menjalankan puasa, dzikir, amal saleh, dan kurban, serta menunaikan haji, dapat meningkatkan kedekatan dengan Allah. Di sisi lain, menghindari memotong rambut dan kuku setelah sepuluh hari pertama, serta tidak berpuasa pada hari raya dan tasyrik, menjaga kesucian ibadah kurban dan keutamaan puasa Arafah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
