Anak 7 Tahun Meninggal, SSPE Akibat Campak Tak Terduga

Rini S. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 111 dibaca
Bisik.id
Anak 7 Tahun Meninggal, SSPE Akibat Campak Tak Terduga

Gambar atau konten salah?

Kasus tragis menimpa seorang anak laki‑laki berusia tujuh tahun di Amerika Serikat. Ia meninggal setelah mengalami komplikasi otak akibat campak. Peristiwa ini menambah kekhawatiran tentang dampak jangka panjang penyakit menular tersebut.

Anak itu terinfeksi campak saat masih berusia tujuh bulan. Pada usia enam tahun, ia mulai menunjukkan penurunan fungsi kognitif dan kejang. Dokter kemudian menegaskan bahwa ia mengidap Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), gangguan otak langka yang muncul bertahun‑tahun setelah infeksi campak.

SSPE biasanya dimulai dengan perubahan halus: gangguan memori, mudah marah, atau perubahan suasana hati. Seiring waktu, kondisi dapat berkembang menjadi kejang otot, kehilangan koordinasi, kerusakan otak berat, hingga koma, dan hampir selalu berujung kematian. Gejala biasanya muncul dalam rentang enam hingga sepuluh tahun setelah infeksi awal.

Campak sendiri dimulai dengan gejala mirip flu—batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan mata berair—yang kemudian berkembang menjadi demam tinggi dan ruam merah yang menyebar ke seluruh tubuh. Virus campak dapat bertahan di dalam tubuh dan mengalami mutasi tertentu yang memicu SSPE di kemudian hari.

“Campak itu seperti menetap di otak Anda dan menyebabkan perubahan pada tingkat seluler yang terjadi secara diam‑diam,” kata Sharon Nachman, kepala penyakit infeksi pediatrik di Children’s Hospital of Orange County, California. “Anda bisa saja terkena campak saat berusia dua tahun, dan sekarang Anda kuliah, dan tiba‑tiba otak Anda rusak dan Anda tidak memiliki masa depan,” tambahnya, dikutip dari NYPost.

Secara statistik, sekitar empat hingga sebelas dari seratus ribu kasus campak berkembang menjadi SSPE. Risiko meningkat hingga delapan belas per seratus ribu jika infeksi terjadi pada anak di bawah usia lima tahun. Kasus serupa pernah terjadi, termasuk kematian anak usia sekolah di Los Angeles akibat komplikasi setelah terinfeksi campak saat bayi, sebelum memenuhi syarat vaksinasi.

Hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan SSPE. Penanganan yang tersedia hanya bertujuan memperlambat perkembangan penyakit. Meskipun jarang—sekitar empat hingga lima kasus per tahun di AS—jumlah SSPE diperkirakan meningkat seiring lonjakan kasus campak.

Data menunjukkan, pada tahun 2024 terdapat dua ribu dua ratus empat puluh dua kasus campak di AS, dengan sembilan puluh tiga persen terjadi pada individu yang tidak divaksinasi atau status vaksinasinya tidak diketahui. Bahkan, tiga kematian terkait campak dilaporkan pada tahun 2025. Status vaksinasi anak tersebut tidak diketahui.

Pencegahan paling efektif terhadap campak dan komplikasinya adalah vaksin MMR (measles, mumps, rubella). Vaksin ini diberikan pertama kali pada usia dua belas hingga lima belas bulan, dan dosis kedua sebelum anak memasuki usia sekolah. Tingkat vaksinasi MMR dan imunisasi rutin lainnya dilaporkan menurun sejak pandemi COVID‑19, sehingga meningkatkan risiko munculnya kembali wabah penyakit menular seperti campak.

Kasus ini menyoroti pentingnya vaksinasi rutin dan kesadaran akan komplikasi jangka panjang campak. Meskipun SSPE jarang, peningkatan kasus campak menandakan perlunya upaya preventif yang lebih kuat. Penyakit ini tetap menjadi ancaman serius bagi anak-anak yang belum divaksinasi, dan upaya vaksinasi harus dipertahankan agar risiko SSPE dapat diminimalkan.

Subacute Sclerosing PanencephalitisCampakVaksin MMRKomplikasi otakVaksinasi anakImunisasi rutinWabah penyakit menularRisiko kesehatan

Komentar

Memuat komentar...