Anak Patah Ular Weling Rawat 10 Hari Biaya 200 Juta

Nita W. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 141 dibaca
Bisik.id
Anak Patah Ular Weling Rawat 10 Hari Biaya 200 Juta

Gambar atau konten salah?

Di Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Kabupaten Tasikmalaya, malam pada hari Minggu, 29 Maret 2026, suasana rumah keluarga Siti Hindun berubah menjadi mencekam. Anak laki‑laki berusia 12 tahun, yang biasa dipanggil DK, tidur di lantai beralaskan tikar ketika seekor ular weling menyelinap masuk ke dalam rumah.

DK terbangun di tengah remang‑remang, melihat makhluk melata itu. Tanpa curiga, ia mengira ular tersebut hanyalah mainan yang tertinggal di lantai. Ia memegangnya, lalu tiba‑tiba rasa sakit muncul di tangan kanannya. “Tidurnya di rumah bersama saya, tidur di ruangan tengah, tidak di ranjang. Kemudian dia bilang, ‘mah ada ular’. Dipegang, karena dikiranya mainan,” kata Siti Hindun, ibu kandung korban, ketika ia menceritakan kejadian tersebut di ruang ICU RSUD KHZ Musthafa pada Selasa, 7 April 2026.

Awalnya, DK tidak mengeluhkan rasa sakit. Namun, orang tua segera menyadari bahwa gigitan ular memerlukan penanganan segera. Mereka membawa DK ke tabib kampung, namun kondisi anak justru memburuk. “Dibawa dulu ke orang yang ‘bisa’, katanya dibawa ke rumah sakit saja. Langsung ke sini RSUD KHZ Musthafa,” ungkap Hindun, mengingat kepanikan saat itu.

Perjalanan menuju rumah sakit menjadi perlombaan melawan waktu. Di tengah perjalanan, DK mulai merasakan nyeri hebat di perut. Gejala neurotoksin ular weling mulai bekerja: kesulitan menelan, napas terengah‑terengah, hingga akhirnya kesadarannya hilang. “Anak saya pingsan, sampai akhirnya dibawa ke ruangan ICU,” kata Hindun dengan nada lirih.

Sejak kedatangan di RSUD KHZ Musthafa, DK telah berjuang di ruang ICU selama 10 hari. Tim dokter spesialis, termasuk ahli toksinologi dari Jawa Barat, dikerahkan untuk menangani kasus langka ini. DK mengalami gagal napas, sehingga ia harus bergantung sepenuhnya pada mesin ventilator. “Benar ada pasien anak dipatuk ular kami tangani dengan maksimal untuk membantu masyarakat,” sampaikan Direktur RSUD KHZ Musthafa, dr. Eli Hendalia.

Kasus DK tergolong anomali medis. Biasanya, pasien gigitan ular hanya membutuhkan tiga hingga empat vial anti‑venom untuk pulih. Namun, tubuh DK justru memerlukan dosis yang jauh lebih besar karena kuatnya bisa yang telah melumpuhkan otot‑otot paru‑paru. “Kami rumah sakit terus berupaya selamatkan pasien. Kami bolak‑balik juga ke Bandung untuk anti venomnya. Malahan karena ini kasusnya terbilang jarang, dari ahli toksin juga datang. Ini pasien sudah habiskan 50 vial anti venom,” ujar Eli.

Biaya pengobatan DK mencapai Rp 200 juta. Selama 10 hari dirawat, berbagai obat, penanganan, dan tenaga medis turun tangan demi menyelamatkan DK. Angka ini sudah melampaui plafon yang ditangung BPJS Kesehatan. Meski begitu, pihak rumah sakit tetap memberikan perawatan. “Kami berupaya selamatkan pasien bantu masyarakat. Kami sekuat tenaga dengan dinas provinsi adakan anti venom, anti venom saja sudah habis 50 vial. Pembiayaannya Rp 200 jutaan. Walau ke‑cover BPJS tapi sudah lewat dari ketentuan, kami tetap berusaha menyelamatkan jiwa apalagi anak ini insya Allah RS komitmen. Kita bisa cari dana untuk bantu pasien,” tambah Eli.

Dr. Eli juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di dekat area persawahan atau kolam. Kebiasaan tidur di lantai tanpa pengaman menjadi celah bagi hewan berbisa untuk menyerang. “Anak dipatuk ular lagi posisi tidur harus mendapat perhatian khusus. Biasakan tidur di atas, jangan di lantai. Pakai juga keselamatan lain kaya kelambu kalau ada. Kemudian juga yang rumahnya di areal sawah atau ada kolam hati‑hati,” pungkasnya.

Peristiwa ini menyoroti pentingnya kewaspadaan di lingkungan pedesaan. Meskipun kasus gigitan ular masih jarang, konsekuensinya dapat mengancam nyawa, terutama anak-anak. Penanganan cepat, penggunaan anti‑venom yang tepat, dan dukungan finansial menjadi kunci penyelamatan. Keluarga Siti Hindun dan tim medis di RSUD KHZ Musthafa menunjukkan komitmen tinggi dalam menghadapi situasi darurat, menegaskan bahwa keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama.

gigitan ularanak 12 tahunRSUD KHZ Musthafaanti-venombiaya pengobatankewaspadaan pedesaantoksinologi

Komentar

Memuat komentar...