AS Serang Kapal Iran, Negosiasi Buka Selat Hormuz 60 Hari

Surya B. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 59 dibaca
Bisik.id
AS Serang Kapal Iran, Negosiasi Buka Selat Hormuz 60 Hari

Gambar atau konten salah?

Pasukan Amerika Serikat (AS) dilaporkan kembali melakukan serangan di wilayah Iran pada hari Selasa, 26 Mei 2026. Fokus serangan ini adalah kapal-kapal Iran dan beberapa lokasi peluncuran rudal di wilayah selatan negara tersebut.

Menurut laporan, tentara AS mengklaim operasi ini sebagai tindakan membela diri terhadap ancaman yang dikeluarkan oleh pasukan Iran. Juru bicara Komando Pusat Militer AS, Tim Hawkins, menyatakan, “Pasukan AS melakukan tindakan membela diri hari ini untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran.”

Hawkins menjelaskan bahwa target serangan kali ini mencakup lokasi peluncuran rudal serta kapal-kapal Iran yang berusaha memasang ranjau. Ia menambahkan, “Targetnya termasuk lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau. Komando Pusat AS terus membela pasukan kami sambil menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung.”

Di sisi lain, terdengar ledakan di kota pelabuhan Bandar Abbas di Iran selatan. Kantor berita semi‑resmi Mehr melaporkan bahwa situasi telah terkendali, meskipun belum ada detail lebih lanjut mengenai dampak ledakan tersebut.

Berita ini datang setelah AS dan Iran disebut-sebut akan menandatangani kesepakatan yang mengatur perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut diharapkan memungkinkan Teheran melanjutkan penjualan minyak dan membuka ruang negosiasi mengenai program nuklir Iran.

Seorang pejabat AS yang mengetahui draf kesepakatan tersebut mengungkapkan bahwa dokumen tersebut belum difinalisasi. Ia juga memperingatkan bahwa kesepakatan itu berpotensi gagal sebelum ditandatangani. Laporan menyoroti bahwa kesepakatan AS‑Iran kemungkinan besar akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan membuka kembali Selat Hormuz, yang telah ditutup oleh Teheran sejak akhir Februari lalu.

Draf nota kesepahaman menyatakan bahwa Iran akan membersihkan ranjau dari Selat Hormuz dan mengizinkan kapal-kapal lewat tanpa pungutan tol. Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan memberlakukan pengecualian sanksi terbatas, memungkinkan Teheran menjual minyak secara bebas selama periode 60 hari.

Kesepakatan tersebut juga mencakup komitmen Iran untuk tidak mengupayakan senjata nuklir dan untuk menegosiasikan penangguhan pengayaan uranium. Termasuk pemindahan pasokan uranium yang diperkaya tinggi. Setiap pelonggaran sanksi yang lebih luas atau pencairan dana Iran akan dibahas selama periode gencatan senjata, namun hanya akan diimplementasikan sebagai bagian dari kesepakatan akhir yang telah diverifikasi.

Selama periode 60 hari gencatan senjata diperpanjang, pasukan AS yang ditempatkan di kawasan tersebut akan tetap berada di tempatnya dan hanya akan ditarik jika kesepakatan akhir tercapai.

Kesepakatan tersebut juga tampaknya terkait dengan upaya untuk mengakhiri konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Seorang pejabat AS menyatakan bahwa Israel masih akan diizinkan untuk bertindak, jika Hizbullah mencoba mempersenjatai diri kembali atau melanjutkan serangan.

Beberapa pemimpin Arab dan Muslim, termasuk dari Arab Saudi, Qatar, Mesir, Turki, Pakistan, dan Uni Emirat Arab, mendukung upaya diplomatik tersebut, menyoroti pentingnya stabilitas di kawasan.

Secara keseluruhan, serangan AS di Iran dan upaya negosiasi antara kedua negara menandai dinamika yang kompleks di wilayah tersebut. Sementara serangan dipandang sebagai tindakan pembelaan diri, kesepakatan yang sedang dirundingkan berpotensi membuka pintu bagi perpanjangan gencatan senjata dan pemulihan aliran minyak, sekaligus menuntut Iran menahan diri dari pengembangan senjata nuklir. Keterlibatan negara-negara tetangga dan pemimpin regional menambah lapisan diplomatik yang harus diatasi untuk mencapai perdamaian jangka panjang di kawasan.

Serangan AS di IranSelat HormuzGencatan senjataNegosiasi nuklir IranPerdagangan minyakHizbullahIsrael

Komentar

Memuat komentar...