Ayi Solehudin Ditemukan di Gunung Salak 3 Tahun Hilang
Gambar atau konten salah?
Ayi Solehudin, seorang warga Kabupaten Cianjur berusia 50 tahun, hilang selama tiga tahun sebelum ditemukan di lereng Gunung Salak. Penyelamatan yang berlangsung pada Senin, 25 Mei 2026, menjadi momen dramatis bagi relawan dan warga setempat.
Ketika Ayi ditemukan, tubuhnya tampak kaku, dingin, dan hampir tidak mampu berjalan. Video amatir yang beredar menunjukkan evakuasi dilakukan dengan alat seadanya. Warga dan relawan Ambulans Sukabumi Bersatu (ASB) merakit tandu darurat dari sebatang kayu dan sehelai kain sarung. Tubuh kurus Ayi dibungkus sarung tersebut sebelum dibawa keluar.
Tim ASB, bersama relawan lainnya, memanggul ujung dahan pohon sambil menelusuri hutan lebat. Penemuan Ayi terjadi di area sungai wilayah Cipari Girang, Desa Cisaat, pada ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Relawan ASB, Muh Irfan Maulana, mengungkapkan betapa beratnya rintangan yang harus dihadapi. “Sampai proses evakuasi itu, kita tersulitnya karena akses jalan. Kalau misalnya ditarik (dievakuasi) lewat sungai lagi ke bawah, kita susah,” kata Irfan pada Rabu, 3 Juni 2026. Ia menambahkan, “Akhirnya target kita bikin jalur baru dulu, kita buka akses jalan baru.”
Medan darurat yang dilalui tim sangat curam dan berbahaya. Relawan harus membabat rimbunnya semak belukar basah di atas pijakan tanah berlumpur yang licin. Selain ASB, Relawan Sosial Tangan Peduli, warga setempat, dan Pemerintah Desa (Pemdes) Cisaat turut berpartisipasi dalam proses evakuasi.
Instruksi dan seruan terus terdengar di lapangan. Beberapa relawan terpaksa berjalan merunduk untuk menghindari dahan pohon melintang. Upaya membuka jalan setapak harus dilakukan secepat mungkin. Irfan menyebut korban terancam hipotermia akibat suhu dingin kaki Gunung Salak. “Kalau kurang dari 24 jam saja di Gunung Salak (tanpa perlengkapan), bisa-bisa hipotermia kalau tidak meninggal. Kondisinya saat itu memang sudah sangat lemas,” ungkap Irfan.
Setelah bekerja membabat vegetasi hutan selama kurang lebih tiga jam, tim berhasil mencapai target. Mereka tiba di permukiman warga dengan selamat pada pukul 13.00 WIB.
Peristiwa ini menegaskan pentingnya persiapan dan koordinasi dalam evakuasi di daerah terpencil. Keterlibatan relawan lokal dan pemerintah desa menjadi kunci keberhasilan. Kesadaran akan risiko hipotermia di ketinggian juga menjadi pelajaran bagi semua pihak yang terlibat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026