Bandara Kertajati Butuh Penerbangan, DPR Tuntut Aksi
Gambar atau konten salah?
Bandung – Jawa Barat memiliki dua bandara utama, yaitu Bandara Husein Sastranegara di kota Bandung dan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka. Meskipun berkapasitas besar, kedua bandara tersebut masih jarang menerima penerbangan reguler bagi masyarakat.
Isu ini mendapat sorotan tajam dari Anggota Komisi V DPR RI Daniel Mutaqien. Ia menilai masalah ini bukan sekadar teknis, melainkan mencerminkan arah kebijakan dan keseriusan pemerintah dalam memanfaatkan infrastruktur yang dibangun dengan biaya besar.
“Iya karena ini berkaitan dengan Komisi V, beberapa kali saya sampaikan bahwa memang harus ada upaya ekstra untuk menghidupkan Bandara Kertajati,” ujar Daniel saat diwawancarai di Bandung pada 01 April 2026. Ia menekankan bahwa investasi besar yang telah digelontorkan untuk pembangunan Bandara Kertajati tidak boleh berakhir sia‑sia tanpa aktivitas penerbangan yang memadai.
“Karena biaya yang dikeluarkan untuk Bandara Kertajati lumayan, tidak sedikit yang dikeluarkan,” tegasnya. Daniel mendorong agar pemerintah pusat mencari terobosan konkret untuk menghidupkan bandara di Kabupaten Majalengka itu.
Salah satu opsi yang dinilai realistis adalah menjadikan Kertajati sebagai pusat penerbangan haji dan umrah. “Kemarin saya sempat menyampaikan, kalau memang Bandara Kertajati ada upaya yang bisa dilakukan adalah sebagai bandara haji dan umrah, ketika ada flight bisa lebih hidup kita dorong ke arah sana,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui pekerjaan rumah pemerintah masih panjang. Berbagai aspek, mulai dari kebijakan, operasional, hingga daya tarik maskapai, harus dibenahi secara serius. “Tapi memang masih banyak yang harus dilakukan oleh kami dari pemerintah pusat, saya juga sering menyampaikan masukan keterkaitan dengan Bandara Kertajati,” ujarnya.
Di sisi lain, Bandara Husein Sastranegara dinilai memiliki keterbatasan yang sulit diatasi dalam jangka panjang. Letaknya di tengah kota dengan runway yang terbatas membuat pengembangan menjadi sangat kompleks. “Untuk bandara di Kota Bandung memang runway-nya juga pendek, terus padat penduduk dan untuk mengupgrade status bandara itu agak sulit,” jelas Daniel.
Karena itu, perhatian kini harus difokuskan pada Bandara Kertajati sebagai masa depan transportasi udara Jawa Barat. Namun, satu hal krusial yang tak bisa diabaikan adalah akses menuju bandara tersebut yang harus terus dimaksimalkan. “Cuma memang akses menuju Kertajati harus dimaksimalkan menurut saya,” tandasnya.
Dengan kondisi ini, kebutuhan akan strategi konkret dan investasi berkelanjutan menjadi kunci agar Bandara Kertajati dapat berfungsi sebagai titik penting bagi mobilitas udara di wilayah tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
