Bandung Dihadapi Cuaca Ekstrem, Pohon Tumbang & Reklame Roboh
Gambar atau konten salah?
Cuaca ekstrem melanda Kota Bandung pada Jumat, 03 April 2026, menimbulkan dampak yang cukup signifikan bagi warga dan infrastruktur.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kota Bandung mencatat 23 kejadian pohon tumbang di berbagai titik kota. Selain itu, satu unit reklame dilaporkan roboh akibat angin kencang.
Fenomena ini muncul setelah hujan deras yang disertai angin melanda wilayah Bandung dan sekitarnya. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, kejadian ini merupakan bagian dari fase peralihan musim atau pancaroba.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa saat ini wilayah Bandung tengah memasuki dasarian pertama April 2026, yang masih berada dalam periode musim hujan menuju peralihan musim.
“Masa peralihan ini ditandai dengan mulai melemahnya dominasi angin baratan dan mulai masuknya angin timuran pada masa peralihan musim (pancaroba). Pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) masih masif dan ketidakstabilan atmosfer,” kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Teguh Rahayu dalam keterangannya, Sabtu, 04 April 2026.
Ia menambahkan, keberadaan awan Cumulonimbus menjadi pemicu utama munculnya cuaca ekstrem yang bersifat tiba‑tiba dan intens.
“Awan Cumulonimbus (Cb) akibat arus udara kuat (updraft), sering terjadi pada musim pancaroba. Fenomena ini ditandai dengan udara panas/gerah sehari sebelumnya, hujan lebat mendadak, petir, dan angin kencang,” tambahnya.
Selain hujan lebat dan angin kencang, fenomena hujan es juga sempat terjadi di beberapa wilayah Kota Bandung. Meski berlangsung singkat, hujan es menjadi salah satu indikasi kuatnya aktivitas atmosfer saat itu.
“Hujan es terjadi dalam waktu singkat, butiran es dapat berdiameter antara 5 mm hingga lebih dari 15 cm. Terbentuk akibat udara panas yang naik membawa uap air, menciptakan awan Cb. Suhu sangat dingin di puncak awan membekukan uap air tersebut menjadi es, yang kemudian jatuh saat arus udara tidak lagi kuat menahannya,” ungkapnya.
Berdasarkan data BMKG, pembentukan awan Cumulonimbus mulai terdeteksi sejak pukul 12.00 WIB. Peringatan dini cuaca ekstrem pun telah dikeluarkan pada pukul 13.30 WIB hingga 16.00 WIB, mencakup potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang disertai petir, kilat, dan angin kencang di wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung dan sekitarnya.
“Hujan es disertai hujan sangat lebat, angin kencang dan petir serta kilat dengan kecepatan angin yang tercatat di BMKG Bandung 42.6 km/jam, terpantau beberapa titik di wilayah Bandung Raya terdampak pohon tumbang,” tuturnya.
Memasuki masa pancaroba ini, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu‑waktu. Risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga pohon tumbang menjadi ancaman yang perlu diantisipasi.
“Tetap waspada potensi bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor serta angin kencang yang menyebabkan pohon tumbang dan hujan es,” pungkasnya.
Kejadian ini menegaskan bahwa kondisi cuaca di Bandung masih rentan terhadap perubahan drastis, sehingga peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci dalam meminimalkan kerugian.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
