Banjir 3 April 2026: Tanggul Tuntang Runtuh, Rumah Tenggelam

Nurul H. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 112 dibaca
Bisik.id
Banjir 3 April 2026: Tanggul Tuntang Runtuh, Rumah Tenggelam

Gambar atau konten salah?

Jumat, 3 April 2026 menandai tragedi banjir di Kabupaten Demak ketika tanggul Sungai Tuntang di Desa Trimulyo dan Sidoharjo runtuh. Air mengalir setinggi satu meter, menenggelamkan perumahan warga dan menewaskan beberapa orang.

Di antara korban, seorang lansia berusia 70 tahun bernama Fadholi tinggal di RT 2 RW 5, Dusun Selondoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur. Rumahnya terletak sangat dekat dengan tanggul yang jebol, sehingga dinding kayu dan triplek rumahnya runtuh di sisi kanan dan kiri. Semua barang di dalam rumah hilang, kecuali dokumen haji yang berhasil ia bawa keluar.

Fadholi masih mengingat betapa kentalnya lumpur yang menutupi rumahnya. Ia mengucapkan, “Kemarin segini lumpurnya,” sambil menandai garis di pinggangnya.

Ia menceritakan bagaimana peristiwa itu terjadi begitu cepat. “Pas warga pada teriak 'jebol-jebol', langsung mlayu mrono (lari ke sana, ke jalan desa), cepet jebole (cepat jebolnya),” kata Fadholi. Sebelum lari, ia sempat berusaha mengamankan barang berharga, namun hanya dokumen haji yang berhasil ia bawa.

Fadholi menambahkan, “Mung nyandak mlayu nggowo dokumen ngulon, haji (cuma sempat lari membawa dokumen untuk ke barat, pergi haji).” Ia mengingat bahwa dokumen tersebut penting untuk keperluan ibadah haji, meski ia tidak tahu kapan akan berangkat.

Selama banjir, Fadholi kehilangan banyak barang. Ia berkata, “Lemari telu ilang kabeh, amben kursi ning ngarep yo ilang. Yo wis ilang kabeh. Sing wingking niki, omah anak kulo malah ilang.” Ia kehilangan tiga lemari, kursi panjang di depan rumah, dan bahkan rumah anaknya yang terletak di belakang rumahnya.

Meski mengalami kerugian besar, Fadholi tetap bersyukur atas keselamatannya. Ia mengungkapkan harapannya, “Alhamdulillah isih slamet (masih selamat). Harapannya ya ada bantuan untuk memperbaiki rumah.”

Menurut kepala desa Trimulyo, Rofiq, tanggul Sungai Tuntang runtuh sekitar pukul 11.00 WIB pada hari itu. Ia menjelaskan bahwa tanggul tidak mampu menahan debit air tinggi akibat hujan deras semalam. “Kejadian sekitar jam 11.00 WIB, mas. Karena debit air terlalu tinggi. Semalam hujan, tapi kalau hujan di sini tuh nggak ngaruh dengan Kali Tuntang. Yang fatal itu kalau hujan di daerah atas, daerah Kedungjati (Kabupaten Grobogan), itu tetap larinya ke Tuntang,” kata Rofiq.

Rofiq juga menjelaskan bahwa ada tiga titik tanggul yang jebol di dua desa. Dua di Trimulyo dan satu di Kelurahan Sidoharjo. Lebar tanggul jebol mencapai sekitar 15 meter. Ia menambahkan, “Tanggul jebol ada dua untuk Trimulyo, tambah satu untuk di Kelurahan Sidoharjo. Trimulyo (lebarnya) sekitar yang di RT 1 RW 4 itu kurang lebih di 10 meter, untuk yang di RT 1 RW 5 kurang lebih di 15 meter.”

Banjir ini menimbulkan kerusakan luas. Rumah-rumah di sekitar sungai terendam, dan banyak warga kehilangan harta benda. Pihak desa sedang mengkoordinasikan bantuan darurat untuk korban, termasuk penyediaan tempat tinggal sementara dan perbaikan rumah.

Peristiwa ini menegaskan betapa pentingnya kesiapsiagaan dan pemeliharaan tanggul di wilayah yang rawan banjir. Penurunan debit air yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan kerusakan serius pada infrastruktur dan kehidupan warga. Sementara itu, korban seperti Fadholi menantikan bantuan untuk memperbaiki rumah dan memulihkan kehidupan sehari-hari.

banjirtanggul Sungai TuntangKabupaten DemakFadholidokumen hajirumah anak hilangbantuan daruratkesiapsiagaan

Komentar

Memuat komentar...