Banjir 60 cm di Jalan Raya Dayeuhkolot, Warga Ganti Transport

Dwi H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 94 dibaca
Bisik.id
Banjir 60 cm di Jalan Raya Dayeuhkolot, Warga Ganti Transport

Gambar atau konten salah?

26 Mei 2026, air banjir kembali menutupi Jalan Raya Dayeuhkolot di Kabupaten Bandung. Ketinggian air terpantau antara 40 hingga 60 sentimeter, membuat jalan tidak dapat dilalui kendaraan roda dua.

Hanya mobil pribadi, truk fuso, truk boks, dan truk sumbu tiga yang masih dapat menembus genangan. Di pinggir jalan, warga menunggu, sering meminta pengemudi agar melintas dengan kecepatan rendah.

Beberapa anak kecil menganggap genangan itu sebagai tempat bermain air. Mereka bahkan membantu mendorong sepeda motor yang tersangkut di tengah air. Jika kendaraan lewat dengan kecepatan tinggi, genangan berubah menjadi ombak dadakan yang sering menghantam warung-warung di sepanjang jalan.

Karena kondisi tersebut, banyak warga memilih berjalan kaki melewati banjir. Bagi yang tidak ingin basah, delman menjadi alternatif transportasi. “Banjir ini dari 3 hari yang lalu pas hujan gede,” ujar Ahmad Suhendra (23) saat ditemui di lokasi.

Ahmad baru saja selesai berdagang di Pasar Baleendah. Ia melintas menerjang genangan demi pulang ke rumah di Kampung Lamajang, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. “Saya di Pasar Baleendah dagang strawberry. Kalau rumah sekarang belum kebanjiran. Cuma akses jalannya susah aja kena banjir,” katanya.

Ia menegaskan bahwa jalan tersebut merupakan akses vital bagi masyarakat menuju Kota Bandung. “Dengan adanya banjir ini terganggu banget. Apalagi ini akses jalan satu‑satu dari kabupaten menuju ke kota bandung. Jadi kebanyakan lewat sini,” ujarnya.

Ahmad berharap pemerintah dapat menangani masalah banjir. Ia mengakui bahwa pemerintah sudah membangun dua bendungan, yaitu Kolam Retensi Andir dan Kolam Retensi Cieunteung, untuk meminimalisir banjir. Namun, ia menambahkan, “Tapi kan tetap aja karena dataran sini memang rendah, jadi tetap banjir. Ini juga jadi introspeksi warga supaya tidak membuang sampah kemana‑masi.”

Situasi ini menunjukkan bahwa meski sudah ada upaya infrastruktur, kondisi geografis masih menjadi faktor utama. Warga terus menyesuaikan cara beraktivitas, baik dengan berjalan kaki, menggunakan delman, maupun menunggu air turun. Pemerintah diharapkan dapat memperkuat solusi jangka panjang, termasuk pengelolaan sampah yang lebih baik, agar banjir tidak terus berulang.

banjirJalan Raya DayeuhkolotKabupaten BandungdelmanKolam Retensi AndirKolam Retensi Cieunteungsampah

Komentar

Memuat komentar...