Banjir Berlarut‑larut di Dusun Sayung: Rakit Jadi Transportasi
Gambar atau konten salah?
Di Dusun Sayung Kidul, Desa Sayung, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, warga melaporkan banjir yang belum mereda sejak akhir tahun lalu. Jalan desa terendam, kendaraan tak bisa melintas. Setiap pagi, warga harus menunggu air menuruni perumahan sebelum bisa keluar kampung.
Di RT 2 RW 3, titik terdalam banjir mencapai sekitar paha orang dewasa, yakni 70 cm. Warga terpaksa menggunakan rakit buatan sendiri untuk dapat bergerak keluar kampung. Rakit ini menjadi satu-satunya sarana transportasi di tengah banjir yang terus menggenang.
“Mulai bulan November 2025. Penyebabnya mungkin kali (sungai) ini dangkal, debit air di kali tinggi terus, tempatnya enggak muat, akhirnya air yang ada di kampung enggak bisa keluar,” kata Sumardi saat ditemui detikJateng di lokasi, Senin (27/4/2026). Ia menilai bahwa penumpukan sedimen di Sungai Sayung telah mempersempit aliran, sehingga air tidak dapat keluar dari kampung.
“Kalau pas hujan deras bisa limpas ke sini (perkampungan). Tingginya pernah sampai segini,” ujar Sumardi sambil membuat garis di pusarnya untuk menunjukkan ketinggian banjir. Ia menambahkan bahwa ketika hujan deras, air sungai bahkan melimpas dan menembus dinding rumah.
Sumardi menyebut setidaknya 50 rumah terdampak. Air masuk ke dalam sebagian rumah, menambah ketidaknyamanan. Beberapa keluarga harus menunggu sampai air turun sebelum dapat membuka pintu dan jendela. Kondisi ini membuat warga merasa terjebak di tempat mereka.
“Karena banjirnya terlalu lama, kalau dibuat mengungsi juga lama kan punya rasa malu sama saudara,” ungkap Sumardi. Ia menekankan bahwa warga lebih memilih bertahan di kampung meski banjir berlangsung lama, karena rasa malu dan keterbatasan fasilitas pengungsian.
“Sehari‑hari pakai getek (rakit) ini, buatan sendiri. Kendaraan ditaruh luar (depan kampung). Sebenarnya was‑was (menaruh kendaraan di sana, takut hilang karena tidak ada yang menjaga), tapi mau gimana lagi,” ucapnya. Ia menjelaskan bahwa kendaraan biasanya diparkir di depan kampung, namun tidak ada pengamanan yang memadai, sehingga warga khawatir kehilangan kendaraan.
“(Bantuan logistik) sempat sekali, sudah lama banget sampai lupa kapan itu. Sekarang ya ada mesin diesel (pompa) ini buat nyedot air,” kata Sumardi. Ia menambahkan bahwa satu unit mesin pompa diesel telah disiagakan di lokasi untuk menyedot banjir, meski belum beroperasi secara terus‑terus.
“Sangat‑sangat terganggu, harapannya ini ya dieselnya (pompa air) ini dihidupkan terus‑menyusul sehingga jalan ini bisa kembali normal, bisa dilewati kemudian warga nanti jadi kan bisa meninggikan rumahnya,” pungkas Sumardi. Ia berharap pompa dapat beroperasi nonstop agar jalan desa dapat kembali layak dilalui dan warga dapat membangun kembali rumah mereka.
Banjir berlarut‑larut di Dusun Sayung Kidul menempatkan warga dalam situasi yang sulit. Mereka mengandalkan rakit dan mesin pompa diesel yang masih belum beroperasi secara konsisten. Keberhasilan pemulihan tergantung pada kemampuan pemerintah untuk menyediakan sumber daya yang cukup agar banjir dapat segera surut dan infrastruktur dapat dipulihkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
