Banjir Berlarut‑larut di Dusun Sayung: Rakit Jadi Transportasi

Hendra M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 78 dibaca
Bisik.id
Banjir Berlarut‑larut di Dusun Sayung: Rakit Jadi Transportasi

Gambar atau konten salah?

Di Dusun Sayung Kidul, Desa Sayung, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, warga melaporkan banjir yang belum mereda sejak akhir tahun lalu. Jalan desa terendam, kendaraan tak bisa melintas. Setiap pagi, warga harus menunggu air menuruni perumahan sebelum bisa keluar kampung.

Di RT 2 RW 3, titik terdalam banjir mencapai sekitar paha orang dewasa, yakni 70 cm. Warga terpaksa menggunakan rakit buatan sendiri untuk dapat bergerak keluar kampung. Rakit ini menjadi satu-satunya sarana transportasi di tengah banjir yang terus menggenang.

“Mulai bulan November 2025. Penyebabnya mungkin kali (sungai) ini dangkal, debit air di kali tinggi terus, tempatnya enggak muat, akhirnya air yang ada di kampung enggak bisa keluar,” kata Sumardi saat ditemui detikJateng di lokasi, Senin (27/4/2026). Ia menilai bahwa penumpukan sedimen di Sungai Sayung telah mempersempit aliran, sehingga air tidak dapat keluar dari kampung.

“Kalau pas hujan deras bisa limpas ke sini (perkampungan). Tingginya pernah sampai segini,” ujar Sumardi sambil membuat garis di pusarnya untuk menunjukkan ketinggian banjir. Ia menambahkan bahwa ketika hujan deras, air sungai bahkan melimpas dan menembus dinding rumah.

Sumardi menyebut setidaknya 50 rumah terdampak. Air masuk ke dalam sebagian rumah, menambah ketidaknyamanan. Beberapa keluarga harus menunggu sampai air turun sebelum dapat membuka pintu dan jendela. Kondisi ini membuat warga merasa terjebak di tempat mereka.

“Karena banjirnya terlalu lama, kalau dibuat mengungsi juga lama kan punya rasa malu sama saudara,” ungkap Sumardi. Ia menekankan bahwa warga lebih memilih bertahan di kampung meski banjir berlangsung lama, karena rasa malu dan keterbatasan fasilitas pengungsian.

“Sehari‑hari pakai getek (rakit) ini, buatan sendiri. Kendaraan ditaruh luar (depan kampung). Sebenarnya was‑was (menaruh kendaraan di sana, takut hilang karena tidak ada yang menjaga), tapi mau gimana lagi,” ucapnya. Ia menjelaskan bahwa kendaraan biasanya diparkir di depan kampung, namun tidak ada pengamanan yang memadai, sehingga warga khawatir kehilangan kendaraan.

“(Bantuan logistik) sempat sekali, sudah lama banget sampai lupa kapan itu. Sekarang ya ada mesin diesel (pompa) ini buat nyedot air,” kata Sumardi. Ia menambahkan bahwa satu unit mesin pompa diesel telah disiagakan di lokasi untuk menyedot banjir, meski belum beroperasi secara terus‑terus.

“Sangat‑sangat terganggu, harapannya ini ya dieselnya (pompa air) ini dihidupkan terus‑menyusul sehingga jalan ini bisa kembali normal, bisa dilewati kemudian warga nanti jadi kan bisa meninggikan rumahnya,” pungkas Sumardi. Ia berharap pompa dapat beroperasi nonstop agar jalan desa dapat kembali layak dilalui dan warga dapat membangun kembali rumah mereka.

Banjir berlarut‑larut di Dusun Sayung Kidul menempatkan warga dalam situasi yang sulit. Mereka mengandalkan rakit dan mesin pompa diesel yang masih belum beroperasi secara konsisten. Keberhasilan pemulihan tergantung pada kemampuan pemerintah untuk menyediakan sumber daya yang cukup agar banjir dapat segera surut dan infrastruktur dapat dipulihkan.

banjirDusun Sayung KidulSungai Sayungrakitmesin pompa dieselpemerintahinfrastrukturpenumpukan sedimen

Komentar

Memuat komentar...