Banjir Besar Desa Tegalluar 15 Apr 2026 Rendam 75% Rumah

Nurul H. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 108 dibaca
Bisik.id
Banjir Besar Desa Tegalluar 15 Apr 2026 Rendam 75% Rumah

Gambar atau konten salah?

Di Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, terjadi banjir besar pada 15 April 2026. Ketinggian air rata‑rata berada di antara 60 sentimeter dan 120 sentimeter, membuat permukiman terendam dan hanya dapat dilalui dengan perahu.

Jalan Raya Sapan menjadi jalur utama yang terendam. Kendaraan yang masih dapat melewati jalan tersebut hanyalah truk besar dan mobil bak terbuka. Banyak warga menumpang kedua kendaraan itu untuk menyeberangi genangan. Sementara itu, kendaraan roda dua warga terpaksa disimpan di pinggir jalan, di depan sebuah pabrik yang belum terendam.

Air banjir di wilayah ini berasal dari beberapa sungai, yaitu Sungai Cikeruh, Sungai Citarik, dan Sungai Citarum. Kepala Desa Tegalluar, Galih Hendrawan, menjelaskan bahwa hampir 75 persen wilayah desa terdampak banjir dan rumah-rumah warga terendam.

Menurut data yang dikumpulkan, 4.075 warga terdampak genangan banjir. Data tersebut dihitung mulai air menggenang sejak 11 April 2026 hingga hari ini. Dari total penduduk desa yang berjumlah 6.700, hampir tiga perempat rumah terendam.

Galih menambahkan bahwa banjir di Desa Tegalluar merupakan hasil “kiriman” dari Kota Bandung dan Kabupaten Sumedang. Air dari drainase tersebut mengalir ke permukiman di desa. Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa air datang dari Kotamadya, Sumedang, Jatinangor, dan Rancaekek. Contohnya, air masuk dari Ujungberung dan Gedebage, lalu ke Cinambo, dan akhirnya ke Sungai Cikeruh. Jatinangor dan Rancaekek juga mengalir ke Sungai Cikeruh.

Untuk menanggulangi banjir, pemerintah desa dan Pemerintah Kabupaten Bandung telah melakukan beberapa upaya. Salah satunya adalah normalisasi Sungai Cipamokolan Lama. Karena Cipamokolan Baru sudah tidak berfungsi, maka Cipamokolan Lama menjadi fokus utama. Galih menyatakan, “Alhamdulillah kita sudah melaksanakan secara pentahelix, terutama oleh Pemerintah Kabupaten Bandung itu sudah melaksanakan normalisasi.”

Ia menambahkan bahwa normalisasi tersebut sangat bermanfaat untuk aliran air, mempercepat penurunan debit air di wilayah Desa Tegalluar. Di masa depan, ketika kondisi kemarau, pemerintah desa akan kembali melakukan normalisasi saluran anak sungai. Anakan sungai tersebut nantinya akan disatukan ke Sungai Cipamokolan Lama.

Galih berharap, penanganan banjir harus dilakukan secara bersama‑sebagaimana di Bandung Raya dan dikomandoi oleh Pemprov Jawa Barat. Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas daerah agar solusi banjir dapat ditemukan. “Jadi harus turun ya dari tingkat Provinsi untuk bisa duduk bersama untuk mengkomunikasikan Bandung Raya untuk menghadapi permasalahan bencana banjir yang ada di Kabupaten Bandung,” ujarnya.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan banjir di Desa Tegalluar dapat dikurangi di masa mendatang. Pemerintah setempat terus berupaya memperbaiki saluran drainase dan menyesuaikan aliran air agar tidak menimbulkan kerusakan lagi.

Kesimpulannya, banjir di Desa Tegalluar menimbulkan dampak signifikan pada kehidupan warga. Upaya normalisasi sungai dan koordinasi antar lembaga menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini. Dengan kerja sama yang kuat, harapan akan solusi terbaik tetap terjaga.

Desa TegalluarbanjirSungai Cikeruhnormalisasi sungaiPemerintah Kabupaten Bandungkoordinasi lintas daerahpermukiman terendam

Komentar

Memuat komentar...