Banjir Cipalabuhan Merendam Pasar Palabuhanratu Puskesmas
Gambar atau konten salah?
Hujan deras di Kabupaten Sukabumi menimbulkan banjir di beberapa titik di Palabuhanratu. Sungai Cipalabuhan tidak mampu menampung debit air, sehingga meluap dan merendam fasilitas umum serta permukiman warga.
Informasi yang dikumpulkan menunjukkan debit air sangat besar dan berwarna cokelat pekat. Di kawasan Jembatan Cipalabuhan, arus air yang beringas hampir menutupi jalan, membuat warga panik. Titik ini sering menjadi tempat banjir setiap kali sungai meluap.
Banjir tidak hanya menutupi permukiman, melainkan juga menyapu sejumlah ruas jalan utama. Pasar Palabuhanratu, perempatan terminal, dan beberapa jalan utama lainnya terendam. Puskesmas Palabuhanratu juga dilaporkan terkena banjir. Warga di sekitar puskesmas sudah terbiasa, menjadi rutinitas tiap hujan deras.
Salah seorang warga, Khoer, mengungkapkan bahwa air sungai mulai meluber dan menutup akses jalan di pusat keramaian. Ia mengatakan, “Lihat di pasar itu meluap, yang sebelah sana yang mau ke Babakan Gumelar. Yang jalan ke Bakso Sabar, pas tikungan perempatan terminal.”
Menurut Khoer, luapan air diperparah penyumbatan di area jembatan. Ada fondasi penyangga jembatan di tengah aliran yang berada di pertigaan. Ia juga menyebut bahwa Sungai Cipalabuhan belum mendapatkan pengerukan sejak tahun lalu.
Situasi serupa terjadi di wilayah Kecamatan Simpenan, tepatnya di Kampung Ciporekat. Luapan air dari perbukitan tidak hanya membawa air, tetapi banjir lumpur pekat. Air cokelat kental bercampur tanah, batu, dan ranting pohon mengalir deras menuruni jalan desa yang curam. Lumpur ini langsung menerjang area permukiman di bawahnya.
Hingga saat ini, belum ada data pasti mengenai jumlah rumah yang terendam akibat peristiwa ini. Namun, dampak banjir sudah terasa di banyak tempat, termasuk di pasar, terminal, dan fasilitas kesehatan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sungai di wilayah Sukabumi belum optimal. Pengerukan rutin dan penanganan penyumbatan menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah banjir di masa depan. 24 Mei 2026 menjadi contoh nyata bagaimana cuaca ekstrem dapat menimbulkan kerusakan serius jika infrastruktur belum siap.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
