Banjir Tetap Menghambat Belajar Santri Madin Walisongo
Gambar atau konten salah?
Di Desa Sayung, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, banjir masih menguasai wilayah tersebut. Sudah hampir enam bulan sejak pertama kali air mulai menanjak, dan belum ada tanda-tanda penurunan. Santri di Madin Walisongo harus menyeberang tanggul sungai setiap hari untuk bisa masuk ke sekolah.
Pada sore hari, ketinggian banjir di depan Madin mencapai bawah lutut orang dewasa. Air genangan menembus halaman Madin dan bahkan meluber ke beberapa ruang kelas. Untuk mencapai ruang kelas, santri harus melewati tanggul sungai sempit di seberang jalan, lalu menyeberang jembatan kayu yang dipasang melintang di jalan agar tidak basah.
Guru pengajar Madin Walisongo, Saifudin (45), mengatakan bahwa kondisi ini sebenarnya sudah berlangsung menahun. Namun, baru kali ini banjir tidak surut dalam jangka waktu yang cukup lama. Ia mengungkapkan, “Sudah tahunan banjir surut banjir surut, tapi ya yang lama sekarang ini, sudah sekitar enam bulan ini nggak surut-surut,” kata Saifudin saat ditemui pada 27 April 2026.
Menurut Saifudin, penyebab banjir di wilayah itu adalah curah hujan yang cukup tinggi. Hal itu diperparah dengan adanya banjir rob. Ia menjelaskan, “Kalau hujan deras itu naik, kemudian rob di pesisir itu air kan jadi mbalik (kembali), nggak bisa ngalir jadi wilayah sini terendam,” ujarnya.
Ketika debit air banjir di sekitar Madin naik, Saifudin menyebut para santri terpaksa tidak bisa menggunakan ruang kelas di lantai bawah. Karena keterbatasan ruangan, sebagian santri bahkan harus belajar di rumah ustad dan tetangga. Ia berkata, “Kalau air tinggi ya ditinggikan ini jembatannya, pakai lantai atas tapi hanya tiga ruang, sementara jumlah santrinya sekitar 300. Lainnya karena tidak mencukupi, masuk ke rumah-rumah, rumah ustad, tetangga,” terang Saifudin.
Saifudin mengungkapkan pihaknya terpaksa menggunakan rumah-rumah warga sebagai ruang belajar karena tidak ada pilihan lain. Ia khawatir jika diliburkan, pendidikannya akan tertinggal. Ia menyatakan, “Kalau diliburkan nanti kasihan anak-anak pendidikannya tertinggal juga. Akhirnya jalan keluarnya seadanya saja (belajar di rumah-rumah warga),” ungkap Saifudin.
Ia berharap banjir ini dapat segera surut. Pihaknya juga berencana meninggikan Madin agar bisa digunakan lebih optimal. Ia menambahkan, “Harapannya segera bisa diatasi, bisa surut, karena ini sudah terlalu lama. Kita juga mau meninggikan Madin karena di sini rawan sekali banjir, tapi terkendala karena banjir ini jadi urukan tidak bisa masuk,” pungkasnya.
Situasi ini menyoroti betapa sulitnya melanjutkan pendidikan di daerah yang rawan banjir. Santri harus menyesuaikan diri dengan kondisi air yang terus menggenang, sementara guru berusaha mencari solusi sementara agar proses belajar tidak terhenti. Banjir yang berkepanjangan menuntut upaya bersama agar infrastruktur dan sistem pendidikan dapat menyesuaikan diri dengan realitas alam di wilayah tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
