Batik Fins Cimaja: Pekerja Sukabumi Genggam Pasar Global

Vera T. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 71 dibaca
Bisik.id
Batik Fins Cimaja: Pekerja Sukabumi Genggam Pasar Global

Gambar atau konten salah?

Batik Fins Cimaja telah menjadi nama yang dikenal di dunia selancar internasional. Sirip papan selancar (fins) yang terbuat dari resin transparan dan dibalut kain batik, diciptakan oleh R. Ilham Santosa (53) atau Ade Rabig, telah menembus ombak di Australia, Prancis, dan banyak negara lainnya.

Di balik reputasi global tersebut, tersembunyi kisah yang kontras di Kampung Marinjung Tengah, Desa Karangpapak, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Industri rumahan ini mampu menembus pasar dunia dengan peralatan sederhana, hampir tanpa campur tangan Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Sejarah usaha Ade Rabig bermula pada 01 Januari 1998, ketika Fathir Muchtar, aktor sekaligus peselancar nasional, mengamati potensi sirip buatan Ade. “Tahun 1998 itu, modal awalnya setengah-setengah, dibantu sama Patir (Fathir Muchtar). Waktu itu harga resin masih sekitar Rp20 ribuan per 10 kilo. Kami beli langsung banyak untuk uji coba formula. Dari sanalah bengkel ini bisa bertahan dan berjalan terus sampai sekarang,” kata Ade Rabig.

Modal dari Fathir Muchtar membantu memulai produksi. Namun, keterbatasan kapasitas karena masih sepenuhnya handmade membuat Ade sering berada di posisi yang kurang menguntungkan. Merek-merek besar dunia memanfaatkan keterbatasan teknologi tersebut dengan sistem white label atau maklon. Mereka membeli sirip handmade, lalu membundelnya dan menempelkan merek dagang mereka sendiri di luar negeri.

Beberapa perusahaan internasional rutin menggunakan pasokan produk Ade, antara lain Crown and Anchor (Australia), WJ Wares (Jepang), Island Lines (Slovenia), hingga Surf Era (Prancis). Bahkan, FCS, raksasa alat selancar asal Amerika Serikat, sempat mengawasi ketat agar lekukan produk Ade tidak meniru persis paten pola mereka. “Pabrik-pabrik besar di luar negeri itu sebetulnya mengejar nilai handmade-nya karena punya nilai seni tinggi. Mereka beli dari saya, tapi nanti di sana di-bundling atau dikasih merek dagang mereka sendiri,” ungkap suami dari Rinda Ayu ini.

Di Sukabumi, Ade Rabig dianggap satu-satunya perajin komponen selancar. Ia mengaku bahwa perhatian dari pemerintah daerah masih berjalan di tempat. Dukungan yang datang selama bertahun-tahun hanya sebatas seremonial foto bersama. Pada 01 Januari 2017, Wakil Bupati Sukabumi, Adjo Sardjono, mampir ke workshop-nya. Namun, setelah jepretan kamera itu berlalu, perhatian dinas terkait perlahan surut.

“Kalau ditanya soal dukungan pemerintah daerah mah, ya masih jauh keneh (masih jauh). Sejauh ini baru sebatas kunjungan‑kunjungan saja. Datang, lihat‑lihat, difoto, ya setelah itu tidak tahu bagaimana kelanjutannya,” tutur Ade sambil menggelengkan kepala.

Ade memiliki visi besar. Ia ingin melepaskan diri dari bayang‑bayang sistem maklon merek asing dan menempatkan produknya di pasar global dengan nama sendiri. Namun, langkah tersebut terganjal oleh satu hal: modernisasi teknologi. “Harapan saya sih besar sekali, karena terus terang produk saya ini sebenarnya sudah dikenal, disukai, dan diminati di luar negeri. Hanya saja, saya pengen produk ini bisa benar-benar bersaing dengan dunia atas nama kita sendiri. Kebutuhan saya sekarang ya modernisasi alat, harapannya pengen punya mesin CNC router wood, CNC laser, sama 3D scanner buat memotong dan ngebentuk lekukan (foil) siripnya secara presisi,” cetus Ade Rabig penuh harap.

Untuk mewujudkan digitalisasi workshop-nya, Ade merinci kebutuhan investasi teknologi. Mesin CNC Router Wood diperkirakan sekitar Rp135 juta untuk memotong lekukan presisi. 3D Scanner diperkirakan Rp17 juta untuk memetakan akurasi foil. CNC Laser diperkirakan Rp7,5 juta. Dengan total kebutuhan investasi sekitar Rp159,5 juta (atau digenapkan berkisar Rp160 juta), Ade optimistis bahwa pesisir Sukabumi bisa memproduksi dengan skala lebih besar, lebih cepat, tanpa kehilangan jiwa seni batiknya.

Kesimpulannya, meski produk Batik Fins Cimaja sudah dikenal di panggung selancar dunia, perajin di Sukabumi masih menghadapi tantangan kurangnya dukungan infrastruktur dan modernisasi. Dengan investasi teknologi yang tepat, Ade Rabig berharap dapat menempatkan nama Indonesia di atas produk yang sebelumnya hanya menjadi produsen hantu bagi merek asing.

Batik Fins CimajaIndustri rumahan SukabumiPemerintah Kabupaten Sukabumimodernisasi teknologiCNC router3D scannerwhite label

Komentar

Memuat komentar...