BMKG: Hanya 7,8% Wilayah Indonesia Sudah Masuk Kemarau

Maya K. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 91 dibaca
Bisik.id
BMKG: Hanya 7,8% Wilayah Indonesia Sudah Masuk Kemarau

Gambar atau konten salah?

Pada 1 April 2026, Indonesia masih berada di fase hujan. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hanya 7,8 persen wilayah negara ini yang sudah memasuki musim kemarau. Angka ini menjawab ketidakpastian masyarakat yang masih sering mengalami hujan meski sudah memasuki periode peralihan musim.

BMKG menyampaikan informasi tersebut lewat akun Instagram resminya pada Selasa, 21 April 2026. Dalam postingan tersebut, mereka menulis: “April ini masih fase peralihan. Faktanya, awal April ini baru 7,8 persen wilayah Indonesia yang sudah masuk musim kemarau. Selebihnya masih musim hujan. Jadi wajar banget kalau daerahmu masih sering hujan,”

Perubahan musim di Indonesia tidak terjadi sekaligus di seluruh wilayah. Proses transisi dari hujan ke kemarau berlangsung bertahap, dimulai dari wilayah selatan dan timur. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian besar daerah masih mengalami hujan dengan intensitas tinggi.

Berikut rincian zona musim (ZOM) yang sudah masuk kemarau pada awal April 2026:

Jumlah ZOM yang sudah masuk kemarau masih kecil dibandingkan total wilayah Indonesia. Oleh karena itu, sebagian besar wilayah masih berada di musim hujan atau fase peralihan.

BMKG menegaskan bahwa banyak masyarakat salah memahami arti musim kemarau. Banyak yang menganggap kemarau berarti tidak akan turun hujan sama sekali. Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya benar. BMKG menjelaskan: “Musim kemarau bukan berarti tidak akan ada hujan sama sekali. Batas kemarau adalah saat curah hujan kurang dari 50 mm per 10 hari (satu dasarian) dan berkelanjutan selama 3 dasarian berturut-turut,”

Artinya, hujan masih mungkin terjadi selama musim kemarau, hanya saja frekuensi dan intensitasnya jauh lebih rendah dibandingkan saat musim hujan. Ini membantu masyarakat memahami bahwa kemarau tidak sepenuhnya kering.

Secara meteorologis, musim kemarau dipengaruhi oleh pergerakan angin monsun. Angin monsun Australia bergerak dari selatan menuju utara wilayah Indonesia, membawa massa udara kering. Hal ini mengurangi potensi pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah. Akibatnya, kemarau tidak datang bersamaan, melainkan dimulai dari selatan dan bergerak ke arah utara.

Berikut wilayah yang diperkirakan akan lebih dulu memasuki musim kemarau pada tahun 2026:

  • Nusa Tenggara Timur (NTT)
  • Nusa Tenggara Barat (NTB)
  • Bali
  • Jawa Timur
  • Jawa Tengah

Wilayah-wilayah ini diperkirakan mulai mengalami kemarau pada periode April hingga Mei 2026. Sementara itu, sebagian besar Sumatra diprediksi baru memasuki kemarau pada Juni 2026. Beberapa wilayah di Kalimantan dan Sulawesi diperkirakan menyusul pada Juli 2026. Perbedaan waktu ini dipengaruhi oleh letak geografis dan dinamika atmosfer yang berbeda di setiap wilayah.

Berita tentang kemarau terparah dalam 30 tahun terakhir beredar di beberapa media. BMKG memberikan klarifikasi: “BMKG menyebut bahwa memang terdapat potensi kemarau 2026 yang lebih kering dibandingkan kondisi normal. Namun, hal tersebut tidak bisa langsung disimpulkan sebagai kemarau terparah dalam tiga dekade terakhir,”

Dengan demikian, meskipun kondisi cuaca berpotensi lebih kering, masyarakat tidak perlu langsung panik. Pemantauan informasi resmi dari BMKG tetap penting untuk mengetahui perkembangan kondisi cuaca secara berkala.

Sehingga, hingga awal April 2026, hanya 7,8 persen wilayah Indonesia yang sudah memasuki musim kemarau. Sebagian besar wilayah masih berada dalam fase musim hujan atau masa peralihan. Musim kemarau datang secara bertahap, dimulai dari wilayah selatan seperti NTT, NTB, Bali, dan Jawa, sebelum akhirnya menyebar ke wilayah lain di Indonesia.

BMKG mengingatkan bahwa kemarau tidak berarti tanpa hujan, serta meminta masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, termasuk isu kemarau terparah dalam 30 tahun. Dengan memahami pola musim ini, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi perubahan cuaca yang terjadi sepanjang tahun.

Mengetahui bahwa hanya sebagian kecil wilayah yang sudah mengalami kemarau membantu masyarakat menyesuaikan harapan cuaca. Perubahan musim yang bertahap menandakan bahwa pola monsoon tetap memengaruhi Indonesia, sehingga penting bagi semua pihak untuk mengikuti data resmi BMKG guna mengantisipasi perubahan cuaca.

BMKGmusim kemarauhujanwilayah Indonesiaangin monsunNTTNTB

Komentar

Memuat komentar...