Borobudur Dihiasi Chattra Perunggu, Rencana Fadli Zon

Wahyu T. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 99 dibaca
Bisik.id
Borobudur Dihiasi Chattra Perunggu, Rencana Fadli Zon

Gambar atau konten salah?

Fadli Zon menjelaskan rencana pemasangan chattra perunggu di puncak Candi Borobudur pada bulan Agustus nanti. Ia mengungkapkan bahwa chattra ini akan dibuat oleh seniman asal Jogja dan memiliki diameter sekitar 6,2 meter. Pemasangan akan dilapisi emas, namun masih dalam proses.

“Rencana (pemasangan chattra di puncak Candi Borobudur) mungkin kurang lebih bulan Agustus kali, ya,” ungkap Fadli saat ditemui detikJateng di sela menghadiri pembukaan Pameran Filateli di Kota Lama, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu 31 Mei 2026.

Ia juga menyebut bahwa saat ini pihaknya telah memindahkan patung Mbah Belet ke lapangan Kenari di kompleks Candi Borobudur. “Kalau sekarang ini kita pindahkan patung Mbah Belet, orang lokal menyebutnya. Waktu itu saya menginisiasi, sekarang sudah jadi. Itu patung dari unfinished Buddha di lapangan Kenari,” jelas Fadli.

Chattra yang akan dipasang bukan berasal dari batu. “(Chattra dibuat) Oleh orang kita, oleh seniman kita, orang Jogja. Kalau tidak salah nanti besarnya 6,2 meter dari perunggu dilapis emas, masih dalam proses,” tambahnya.

Menurut Fadli, permintaan pemasangan chattra datang dari sejumlah organisasi Buddha. “Ini permintaan dari umat Buddha, dari Dirjen Bimas Buddha, dari organisasi-organisasi Buddha terbesar. Kita harapkan dengan pemasangan chattra ini Borobudur bisa menjadi living heritage. Jadi kita laksanakan semua prosedur karena tidak ada mengubah apapun,” ia katakan.

Ia menegaskan bahwa bahan yang digunakan memang perunggu, bukan batu. “(Bahan betul dari perunggu yang dipasang bukan batu) Bukan, bukan. Bukan dari batu. Adaptasi istilahnya itu,” ujar Fadli saat berbicara di sela-sela menghadiri kirab pusaka di Candi Borobudur, Jumat 17 April 2026 malam.

Fadli menjelaskan bahwa adaptasi ini lebih ringan dan dipakai di berbagai situs. “Itu adaptasi jadi jauh lebih ringan. Itu semua dipakai di seluruh situs-situs ya, bahkan di tempat lahirnya Sang Buddha juga digunakan. Begitu juga di India, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Myanmar,” lanjutnya.

Ia berharap pemasangan chattra dapat menarik lebih banyak wisatawan. “Dengan begitu akan semakin banyak yang hadir baik wisatawan karena alasan sejarah. Karena alasan religi, ya mudah-mudahan semakin banyak juga nanti umat Buddha dari seluruh dunia yang datang ke sini (Candi Borobudur),” ujarnya.

Fadli menambahkan perkiraan jumlah umat Buddha di dunia. “Umat Buddha kalau tidak salah jumlahnya itu 500 sampai 600 juta di seluruh dunia. Kalau satu persen saja bisa 5-6 juta,” ia menyatakan.

Selama kirab pusaka, miniatur chattra juga dikirab sebagai bagian dari upaya pengenalan kepada masyarakat. “Ya ini juga bagian dari upaya kita mensosialisasikan ya. Karena ini juga bagian dari aspirasi ya komunitas yang cukup lama terutama dari masyarakat umat Buddha,” kata Fadli.

Ia menegaskan bahwa langkah ini sah-sah saja dan sejalan dengan misi UNESCO. “Menurut saya itu sah-sah saja. Karena UNESCO sendiri kan sekarang tahun ini kalau tidak salah mendorong upaya situs-situs itu menjadi living heritage,” tuturnya.

Dengan rencana pemasangan chattra perunggu, Candi Borobudur diharapkan menjadi contoh living heritage yang menarik minat wisatawan sejarah dan religi, sekaligus memperkuat hubungan antara situs warisan budaya dan komunitas Buddha global.

Candi BorobudurChattra perungguFadli ZonUNESCOLiving heritageWisatawan BuddhaPatung Mbah Belet

Komentar

Memuat komentar...