Cacing Hati Menurun, Pemeriksaan Kurban Bandung 2026 Di Kota

Wulan M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 78 dibaca
Bisik.id
Cacing Hati Menurun, Pemeriksaan Kurban Bandung 2026 Di Kota

Gambar atau konten salah?

Idul Adha 1447 Hijriah di Kota Bandung masih menampilkan masalah kesehatan hewan kurban. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mencatat ratusan kasus cacing hati yang terdeteksi saat pemeriksaan post mortem.

Meski demikian, petugas menegaskan bahwa bagian hati yang terinfeksi langsung dipisahkan dan tidak dibagikan kepada masyarakat. Proses pemisahan ini dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) maupun di lingkungan masjid dan DKM (Dinas Ketahanan Masyarakat) yang masih aktif.

Imam Setyadi, Kabid Keamanan Pangan DKPP Kota Bandung, mengatakan pemeriksaan post mortem masih berlangsung. Ia menambahkan bahwa aktivitas pemotongan hewan kurban di RPH dan DKM tetap berjalan, meski jumlah pemeriksaan menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

"Kalau jumlah pemeriksaan terjadi penurunan,dibandingkan tahun kemarin, tapi hari ini masih berlangsung di RPH dan DKM-DKM di Kota Bandung,"

Menurut data, total hewan yang diperiksa pada tahun 2026 mencapai 2.163 ekor, turun sekitar 30 persen dibandingkan tahun 2025 yang mencapai lebih dari 3.000 ekor. Imam Setyadi menegaskan, “Memang secara keseluruhan jumlah terperiksa 2026 mencapai 2163, ada penurunan 30 persenan, tahun kemarin 2025 mencapai 3.000-an,”.

Hasil pemeriksaan menunjukkan masih ada kasus cacing hati pada sapi dan domba. Pada tahun 2026, ditemukan 175 sapi dan 86 domba yang terinfeksi. “Dari hasil post mortem, masih ditemukan adanya kasus cacing hati. Jadi di tahun 2026, masih ditemukannya cacing hati di sapi 175 ekor dan di somba 86 ekor,”

Walaupun jumlah kasus masih cukup tinggi, tingkat keparahan infeksi menurun. Sebelumnya, satu ekor sapi bisa memiliki hingga 2 kilogram hati yang harus diafkir. Kini rata‑rata hanya sekitar 1 kilogram. “Tapi secara jumlah perekornya menurun, dulu dalam 1 ekor dua kilo (hati yang diafkir), sekarang jadi satu kilo, bahkan dulu sampai ada yang afkir semua,”

Menurut Imam Setyadi, penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan pola budidaya dan pengobatan yang dilakukan peternak. Ia menilai para peternak mulai memperhatikan kualitas kesehatan ternak mereka. “Berarti ada usaha peternak melakukan pengobatan. Biasanya juga di jantung atau limpa, tahun ini penurunan, limpa zero kasus. Ini dampak usaha peternak untuk memperbaiki sistem budidaya, kalau budidaya secara profesional seperti di perusahaan pemberian paka konsentrat pasti tidak akan ditemukan. Tapi ini sapi yang dirawat secara tradisional dengan pemberian rumput,”

Imam juga menjelaskan penyebab utama infeksi: kebiasaan memotong rumput pada pagi hari ketika telur atau larva cacing masih menempel akibat embun. “Yang jadi permasalahan hasil rumput hasil motong di pagi hari, biasanya kena infeksi cacing faksiola, baiknya potong rumput sesudah ada matahari, supaya cacingnya masuk ke tanah dulu,”

DKPP Kota Bandung mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi bagian hati yang terinfeksi. Organ yang terinfeksi harus segera dipisahkan untuk mencegah risiko gangguan kesehatan. “Himbauan kepada masyarakat, kami telah melalukan pengawasan sebelum pemotongan dan setelah pemotongan, ini bagian usaha kita agar hewan kurban aman dan kami hadir demi memberi keamanan kepada masyarakat,” pungkasnya.

Dengan penurunan jumlah kasus dan keparahan infeksi, langkah pengawasan dan edukasi peternak di Kota Bandung tampak lebih efektif. Masyarakat tetap diingatkan untuk memeriksa hati hewan kurban sebelum dikonsumsi, guna menjaga kesehatan dan keamanan pangan selama perayaan Idul Adha.

Idul AdhaCacing HatiDKPP BandungRumah Potong HewanPost MortemPenurunan KasusPeternak

Komentar

Memuat komentar...