Canary Islands Tolak Kapal Pesiar Hondius, Kasus Hantavirus Terbukti
Gambar atau konten salah?
Di Kepulauan Canary, pemerintah menolak kedatangan kapal pesiar MV Hondius setelah muncul dugaan kasus hantavirus di atas kapal tersebut. Penolakan ini disampaikan langsung oleh Presiden Kepulauan Canary, Fernando Clavijo, pada 06 Mei 2024.
Menurut laporan, MV Hondius membawa sejumlah penumpang yang diduga terpapar virus yang menular lewat hewan pengerat. Dari delapan kasus suspek, tiga telah terkonfirmasi positif melalui tes laboratorium. Pemeriksaan ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi penyebaran hantavirus di wilayah tersebut.
Keputusan Clavijo berbeda dengan sikap pemerintah pusat Spanyol. Kementerian Kesehatan Spanyol sebelumnya menyatakan kapal tetap diizinkan bersandar agar penumpang dan awak dapat menjalani pemeriksaan medis. “Spanyol memiliki kewajiban moral dan hukum untuk membantu orang‑orang ini, di antaranya juga terdapat beberapa warga negara Spanyol,” ungkap pernyataan kementerian. “Awak kapal dan penumpang akan diperiksa, dirawat dan dipindahkan ke negara masing-masing dengan benar,” tambahnya.
Clavijo menilai kebijakan tersebut tidak sesuai dengan hasil pembahasan teknis yang telah dilakukan oleh otoritas kesehatan setempat. Dalam wawancara radio COPE Spanyol, ia menyatakan bahwa Kepulauan Canary sejak awal tidak menyetujui kapal tersebut merapat. Menurutnya, prosedur yang disepakati adalah melakukan evakuasi pasien terindikasi hantavirus menggunakan ambulans udara. Penumpang lain tetap berada di kapal dan akan dipulangkan ke Belanda, negara asal pelayaran.
“Saya tidak bisa mengizinkannya masuk ke Kepulauan Canary,” kata Clavijo. Operator kapal, Oceanwide Expeditions, menyebut jadwal pelayaran MV Hondius setelah singgah di Cape Verde tetap menuju Kepulauan Canary. Pada 06 Mei 2024, tiga penumpang yang diduga terinfeksi telah dievakuasi di Cape Verde dan diterbangkan ke Belanda untuk perawatan medis lebih lanjut.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan bahwa risiko kesehatan masyarakat secara umum masih tergolong rendah. Clavijo sendiri mempertanyakan alasan pemeriksaan kesehatan harus dilakukan di Kepulauan Canary, padahal proses serupa dapat dilakukan langsung di Cape Verde. “Mengapa harus membuat para penumpang ini melakukan perjalanan tiga hari ke Kepulauan Canary untuk melakukan hal yang sama di sini yang dapat mereka lakukan di Cape Verde,” ujarnya.
Perselisihan ini membuat Clavijo meminta pertemuan darurat dengan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez. “Saya tidak akan secara membabi buta membahayakan keselamatan Kepulauan Canary dengan pemerintah yang tidak bertindak loyal,” ungkap Clavijo.
Kesimpulannya, konflik antara otoritas regional dan pusat menyoroti perbedaan pendekatan dalam menangani potensi wabah. Keputusan Clavijo menekankan perlunya prosedur evakuasi yang cepat dan terkoordinasi, sementara pemerintah Spanyol menekankan hak untuk memberikan pemeriksaan medis di wilayahnya. Situasi ini menunggu keputusan akhir dari kedua belah pihak terkait langkah-langkah selanjutnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
