Covid-19 Indonesia: Dari OTG ke WFH, Perubahan Hidup 2020-2023

Teguh A. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 82 dibaca
Bisik.id
Covid-19 Indonesia: Dari OTG ke WFH, Perubahan Hidup 2020-2023

Gambar atau konten salah?

02 Maret 2020 menandai titik awal pandemi di Indonesia. Presiden Joko Widodo mengumumkan dua warga Depok, Jawa Barat, terkonfirmasi positif COVID‑19. Pada saat itu, penyakit tersebut masih terdengar hanya di negara tetangga. Seiring klaster-klaster penyebaran muncul, ritme kehidupan berubah secara perlahan.

Istilah‑istilah baru mulai mengisi percakapan sehari‑harian. Di awal pandemi, publik akrab dengan tiga singkatan: OTG (Orang Tanpa Gejala), ODP (Orang Dalam Pemantauan), dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan). OTG merujuk pada orang yang terinfeksi namun tidak menunjukkan gejala. ODP mencakup individu dengan gejala ringan atau riwayat kontak dengan kasus positif. PDP adalah pasien dengan gejala lebih serius yang memerlukan pengawasan lebih intensif. Untuk memudahkan komunikasi, istilah‑istilah ini kemudian disederhanakan menjadi suspek, probable, dan konfirmasi sesuai standar global.

Selanjutnya, kebijakan pembatasan sosial diberi nama singkatan. PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) adalah kebijakan pemerintah yang membatasi kegiatan tertentu di wilayah yang diduga terinfeksi. PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) menyesuaikan tingkat risiko penularan di setiap daerah melalui sistem level 1‑4. Pada 3‑20 Juli 2021, pemerintah menerapkan PPKM Darurat dan PPKM Mikro di Jawa dan Bali, menutup mal, menuntut 100% WFH bagi sektor non‑esensial, dan memperketat syarat perjalanan. Bagi banyak orang, istilah‑istilah ini identik dengan jalanan sepi dan aktivitas yang dibatasi.

Di ranah kesehatan, kampanye 3M dan 5M menjadi slogan nasional. 3M menekankan masker, mencuci tangan, menjaga jarak. 5M menambahkan dua elemen: menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. Slogan ini melekat kuat di ingatan publik.

Tes kesehatan juga menjadi bagian penting. Swab test mengambil sampel lendir dari hidung atau tenggorokan menggunakan kapas atau lidi. PCR (Polymerase Chain Reaction) merupakan teknologi yang sangat sensitif dan akurat untuk mendeteksi materi genetik virus. Rapid test memberikan hasil lebih cepat. Pada awal pandemi, klinik swab test ramai dikunjungi, namun harganya tinggi, terutama untuk PCR. Seiring menurunnya kasus dan masuknya vaksin, tren ini menurun.

Ketika rumah sakit penuh, istilah Isoman (isolasi mandiri) dan Isoter (isolasi terpusat) sering disebut. BOR (Bed Occupancy Rate) menjadi indikator krisis, mencerminkan tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit. Angka BOR sempat menjadi sorotan di berbagai daerah.

Fase penanganan melibatkan vaksin, booster, dan konsep herd immunity. Vaksin diberikan dalam dosis 1, 2, dan booster. KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) mencatat reaksi setelah imunisasi. Program vaksinasi menjadi harapan besar untuk mengendalikan pandemi.

Pandemi juga mengubah gaya hidup. New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) menggambarkan kehidupan baru dengan protokol kesehatan. WFH (Work From Home) dan SFH (School From Home) atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi norma. Zoom meeting menimbulkan Zoom fatigue, kelelahan akibat rapat online berulang.

Setelah lebih dari tiga tahun, situasi berangsur membaik. 05 Mei 2023, Organisasi Kesehatan Dunia mencabut status darurat kesehatan global COVID‑19. Di Indonesia, status pandemi resmi dicabut pada 21 Juni 2023. Masyarakat mulai kembali ke rutinitas, masker perlahan dilepas, dan aktivitas kembali normal.

Istilah‑istilah seperti OTG, PPKM, dan isoman perlahan menghilang dari percakapan sehari‑harian. Namun bagi banyak orang, kata‑kata tersebut tetap mengingatkan pada masa ketika manusia hidup dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya.

Perubahan ini menunjukkan bagaimana pandemi memaksa masyarakat menyesuaikan diri dengan protokol kesehatan, kebijakan pemerintah, dan teknologi medis. Meskipun istilah‑istilah tersebut kini jarang terdengar, dampaknya masih terasa dalam kebiasaan dan kebijakan yang ada.

COVID-19PPKMOTGIsomanVaksinWFHBOR

Komentar

Memuat komentar...