Desa Jambu: Rumah Besar Perantau, Sukses Ekonomi Tergambar

Endah K. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 58 dibaca
Bisik.id
Desa Jambu: Rumah Besar Perantau, Sukses Ekonomi Tergambar

Gambar atau konten salah?

Desa Jambu, terletak di balik perbukitan Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, sering dipanggil kampung sultan. Nama itu muncul karena deretan rumah besar dan mewah yang tersebar di sudut-sudut desa.

Desa ini berada di ujung utara Kecamatan Wanareja, dikelilingi perbukitan, dan berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Rumah besar di sini menjadi simbol keberhasilan warga yang merantau ke kota.

Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Jambu, Enno Carsono, menyatakan bahwa banyak warga menjalankan usaha di luar desa. Bahkan, banyak perantau memiliki lebih dari satu tempat usaha.

"Usahanya itu sudah sukses. Bukan satu dua tempat. Rata-rata warga punya dua sampai tiga usaha, bahkan ada yang punya lima tempat usaha atau lebih," kata Enno pada Kamis, 05 Maret 2026.

Enno mencontohkan bahwa jika satu usaha menghasilkan sekitar Rp 5 juta per bulan, maka penghasilan perantau dapat mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan. Ia menjelaskan contoh konkret:

"Misalkan satu tempat dapat Rp 5 juta per bulan. Kalau punya lima tempat usaha kan bisa Rp 25 juta per bulan. Dalam setahun bisa sekitar Rp 300 juta," jelasnya.

Penghasilan tersebut memungkinkan para perantau membangun rumah besar di kampung halaman dan membeli kendaraan. Enno menegaskan:

"Jadi otomatis untuk bangun rumah, beli kendaraan, itu memang mampu dan bisa," ujarnya.

Meski rumah-rumah besar itu berdiri megah di desa, sebagian besar pemiliknya jarang menempati rumah tersebut. Enno menjelaskan:

"Sebagian besar usahanya di kota, tapi rumahnya dibesarkan di kampung. Kalau dihitung, setahun mungkin ditempati cuma satu atau dua bulan saja," kata Enno.

Beberapa warga hanya pulang setahun sekali, biasanya saat ada acara keluarga atau hajatan di kampung. Enno menambahkan:

"Ada yang pulangnya setahun sekali, kadang kalau ada saudara atau tetangga hajatan baru pulang," tambahnya.

Rumah-rumah tersebut biasanya tetap dihuni oleh anggota keluarga yang tinggal di desa. Enno menjelaskan:

"Rata-rata rumah diisi orang tuanya. Anak-anak yang sekolah juga biasanya ditungguin kakek neneknya," jelas Enno.

Namun ada juga beberapa rumah yang kosong. Hal ini biasanya terjadi karena orang tua pemilik rumah sudah meninggal atau ikut merantau menjalankan usaha. Enno menyatakan:

"Memang ada satu dua rumah yang kosong, karena orang tuanya sudah meninggal atau ikut usaha juga," ujarnya.

Meski begitu, sebagian besar rumah tetap terawat karena dihuni keluarga di desa, baik oleh orang tua, saudara, maupun kakek dan nenek. Enno menegaskan:

"Sebagian besar tetap ada yang mengurus. Ada yang ditempati orang tua, ada yang saudara, ada juga yang embahnya," kata Enno.

Ukuran rumah yang dibangun para perantau di Desa Jambu tergolong besar. Banyak rumah berdiri di atas lahan luas dengan bangunan megah. Enno memberi contoh ukuran:

"Ukuran tanahnya ada yang sekitar 60 x 80 meter. Kalau bangunan rumah yang bertingkat biasanya luasnya di atas 100 meter persegi," pungkasnya.

Dengan pendapatan yang tinggi, para perantau dapat menata kehidupan di kampung dengan standar tinggi. Rumah besar, kendaraan, dan fasilitas lain menjadi ciri khas desa ini. Warga tetap menjaga rumah meski jarang tinggal, sehingga desa tetap terlihat megah dan terawat.

Keberhasilan ini menunjukkan bagaimana migrasi ekonomi dapat memengaruhi struktur sosial dan arsitektur di daerah asal. Rumah-rumah mewah menjadi simbol prestasi, namun kehidupan sehari-hari masih terhubung dengan keluarga di desa.

Desa JambuKampung SultanRumah BesarPerantauUsahaPendapatan TinggiMigrasi Ekonomi

Komentar

Memuat komentar...