Desa Tutup Blora: Kampung Santri Tua, Tempat Hadir Soekarno

Iwan D. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 95 dibaca
Bisik.id
Desa Tutup Blora: Kampung Santri Tua, Tempat Hadir Soekarno

Gambar atau konten salah?

BloraDesa Tutup, yang terletak di Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, sudah lama dikenal sebagai kampung santri tua. Desa ini pernah menjadi tempat singgah Presiden pertama Indonesia, Soekarno, ketika masih muda.

Sejarawan Dalhar Muhammadun menjelaskan bahwa Dukuh Sukorame di Desa Tutup merupakan salah satu kampung santri tua di Blora. Konon, dukuh ini dikembangkan oleh pasukan Diponegoro yang berkelana ke dusun tersebut, dan tokoh yang memimpin dikenal sebagai Zaenudin.

Mbah Zaenudin tidak meninggalkan jejak atau penjelasan asal usulnya. Mbah Zaenudin setelah berada di Sukorame tidak meninggalkan sisa-sisa atau penjelasan asal usul, identitasnya cenderung bisa dikatakan misterius. Hanya sebatas tokoh tersebut bernama Mbah Zaenudin dan merupakan pelarian dari Mataram dan pasukan dari Diponegoro, jelas Dalhar Muhammadun saat ditemui di Masjid As Syakur Sukorame pada Kamis, 28 Mei 2026.

Setelah kematian Mbah Zaenudin, keturunan beliau membangun masjid dan pesantren di dusun itu. Pembangunan tersebut menambah nuansa pendidikan dan keagamaan yang kental di wilayah tersebut.

Aktivitas keagamaan di Dukuh Sukorame membuat daerah itu dikenal sebagai kampung santri tua. Pada masa itu, ada juga kampung santri di Desa Ngampel, Kecamatan Blora.

Menurut catatan, sekitar akhir abad ke-19, Sukorame (Desa Tutup) memang menjadi kampung santri tua. Ini terjadi kisaran akhir abad 19. Dan melihat tahun tersebut menjadi benar jika disimpulkan bahwa Sukorame (Desa Tutup) adalah salah satu kampung santri tua di Blora, kata Dalhar Muhammadun.

Di sekitar tahun 1920, Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau lebih dikenal dengan H.O.S Cokroaminoto pernah singgah di Dukuh Sukorame. Kehadiran beliau bersama rombongan bertujuan menggelar pertemuan.

Rumah tempat singgah tersebut terletak di sebelah selatan jalan raya Blora-Purwodadi, menghadap ke utara. Kini, di depan sebuah hotel di Tunjungan, rumah itu sudah tidak ada dan hanya menjadi lahan kosong. Rumah tersebut dulu dimiliki oleh Mbah Schatterder, yang sering dipanggil Mbah Skater. Ia bekerja di Pegadaian sebagai Juru Taksir.

Singgah di rumah Mbah Skater atau kadang ada yang menyebut dengan panggilan Mbah Juru, karena beliau memang seorang juru kir pegadaian di jaman Belanda. Mbah Skater adalah adik dari Mbah Citro atau paman dari Mbah Soedarwanto, jelas Dalhar Muhammadun.

Menurut cerita, pertemuan di Sukorame masuk akal karena pada saat itu Cokroaminoto adalah tokoh Sarekat Islam, sedangkan Sukorame sudah menjadi kampung santri.

Pertemuan di Sukorame ini menjadi masuk akal karena saat itu Cokroaminoto adalah tokoh Sarekat Islam, sementara di Sukorame itu sudah menjadi kampung santri, tambah Dalhar Muhammadun.

Catatan juga menyebutkan bahwa Desa Tutup pernah menerima tiga tamu dari Surabaya, termasuk Cokroaminoto. Salah satu tamu yang dipastikan adalah H.O.S Cokroaminoto. Tamu lainnya adalah seorang pemuda tampan yang diperkirakan adalah Soekarno muda.

3 tokoh tamu tersebut, yang 2 orang itu orang tua yang 1 anak muda. Salah satu dari orang tua itu adalah Cokroaminoto, sementara 1 anak muda yang wajahnya ganteng, bagus itu diperkirakan Soekarno muda, jelas Dalhar Muhammadun.

Menurut Dalhar Muhammadun, di Sukorame Desa Tutup Cokroaminoto bersama pemuda itu bertemu dengan sesepuh setempat. Pada masa itu, Soekarno muda diperkirakan hadir bersama Cokroaminoto.

Seorang tokoh desa, Yuda Wikanto alias Gilang, mengungkapkan bahwa wilayah Sukorame Desa Tutup menjadi pusat konstelasi politik di Blora. Di daerah ini sudah ada basis nasionalis, komunis, dan agamis.

Sukorame itu sebagai kiblat. Istilahnya kalau kita lihat konstelasi politik di Blora waktu itu, Sukorame menjadi pusat politik. Di situ ada kekuatan Nasionalis, Komunis dan Agamis, jelas Yuda Wikanto alias Gilang.

Keberadaan Cokroaminoto di Desa Tutup untuk pertemuan juga melalui jalur perdagangan, mengingat ia adalah pemimpin Sarekat Islam.

Secara historis, waktu itu Sukorame atau Desa Tutup menjadi pusat berpikir Blora bagian barat. Di sini ada pasar sebagai tempat jual beli hasil bumi. Pedagang di sana memiliki pengaruh sosial politik.

Yuda Wikanto juga mengomentari bahwa salah satu rombongan Cokroaminoto adalah Soekarno.

Itu sempat Cokroaminoto bersama pemuda panggilannya kan Kusno (Soekarno). Nama Bung Karno belum Sukarno, atau mungkin sudah diganti tapi nama kecil masih dibawa, jelas Yuda Wikanto alias Gilang.

Ia menjelaskan bahwa pertemuan Cokroaminoto di Desa Tutup diadakan di pertigaan Sukorame, tepatnya di lorong sebelah barat hotel K. Masuk sedikit ke utara.

Berkumpulnya para anggota SI (Sarekat Islam) itu lokasinya di belakang hotel K sebelah barat jalan. Ada halaman lebar, di situ dipakai untuk seperti rapat. Sekarang lahan itu menjadi musala dan rumah, tambah Yuda Wikanto alias Gilang.

Desa Tutup, Blora, memiliki sejarah panjang sebagai pusat pendidikan dan keagamaan. Dari kisah Mbah Zaenudin hingga pertemuan Cokroaminoto, desa ini menampilkan peran penting dalam perkembangan budaya dan politik lokal. Kehadiran tokoh-tokoh besar seperti Soekarno muda menambah nilai sejarah desa ini, menjadikannya bagian penting dalam narasi sejarah Blora.

Desa TutupSukoramekampung santriSoekarnoCokroaminotoMbah ZaenudinBlora

Komentar

Memuat komentar...