Desa Tutup, Blora: Kampung Santri Tua yang Dikunjungi Soekarno
Gambar atau konten salah?
Blora – Desa Tutup, yang terletak di Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, dikenal sebagai kampung santri tua. Desa ini pernah disinggahi oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, ketika masih muda. Kunjungan tersebut menjadi catatan penting dalam sejarah lokal, menandai hubungan antara desa ini dan tokoh nasional.
Sejarawan Blora, Dalhar Muhammadun, menegaskan bahwa Dukuh Sukorame di Desa Tutup merupakan salah satu kampung santri tua di Blora. Konon, dukuh ini dikembangkan oleh pasukan Diponegoro yang berkelana hingga dusun tersebut, yang bernama Zaenudin. Legenda ini menambah nilai sejarah bagi penduduk setempat.
Mbah Zaenudin setelah berada di Sukorame tidak meninggalkan sisa-sisa atau penjelasan asal usul, identitasnya cenderung bisa dikatakan misterius. Hanya sebatas tokoh tersebut bernama Mbah Zaenudin dan merupakan pelarian dari Mataram dan pasukan dari Diponegoro," jelas Madun. Kalimat ini menunjukkan betapa tersembunyi sejarah tersebut.
Keturunan Zaenudin kemudian membangun masjid serta pesantren di dusun itu. Hal tersebut menjadikan dusun itu memiliki pendidikan dan keagamaan yang cukup kental. Pembangunan infrastruktur keagamaan ini menjadi pusat kegiatan belajar bagi generasi santri.
Aktivitas keagamaan yang dilakukan di Dukuh Sukorame, Desa Tutup ini menjadikan wilayah tersebut dikenal sebagai kampung santri tua. Meskipun saat itu ada juga kampung santri yang ada di Desa Ngampel, Kecamatan Blora, Desa Tutup tetap menjadi titik fokus bagi para santri yang mencari ilmu.
“Ini terjadi kisaran akhir abad 19. Dan melihat tahun tersebut menjadi benar jika disimpulkan bahwa Sukorame (Desa Tutup) adalah salah satu kampung santri tua di Blora,” ucap pria Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Blora ini. Pernyataan ini menegaskan keaslian sejarah kampung santri ini.
Dalam catatannya, sekitar tahun 1920 Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau lebih dikenal H.O.S. Cokroaminoto pernah singgah di Dukuh Sukorame, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan. Keh
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
