Diaspora Indonesia Menyajikan Kuliner Asli di Australia
Gambar atau konten salah?
Di luar negeri, kuliner Indonesia semakin banyak ditawarkan. Banyak diaspora Indonesia yang menetap di berbagai negara, termasuk Australia, mencoba peruntungan dengan membuka tempat makan yang menampilkan hidangan khas tanah air. Mereka memanfaatkan konsep yang beragam, mulai dari kantin sederhana, bazar, restoran cepat saji, hingga restoran mewah.
Di Australia, para pengusaha Indonesia tidak ketinggalan. Beberapa membuka kafe matcha, warteg, restoran yang menyajikan indomie goreng, bazar sate, dan warung nasi khas Medan. Berikut lima contoh usaha kuliner yang didirikan oleh diaspora Indonesia di Australia.
San Java 2.0 adalah kafe matcha yang terletak di Surry Hills, Sydney. Kafe ini dirancang dengan gaya minimalis dan berada di pinggir jalan. Pemiliknya, Wilbert, adalah seorang diaspora Indonesia. Nama kafe merupakan perpaduan dua unsur budaya: “San” mewakili Jepang, mengekspresikan filosofi rasa dan kualitas, sedangkan “Java” menggambarkan Indonesia. Menu matcha di sini menggunakan matcha asli Jepang, dan kafe meracik sendiri blend yang terdiri atas premium matcha dan ceremonial‑grade pilihan. Racikan ini dibuat khusus untuk standar San Java 2.0.
Selanjutnya, Warteg Ria Sari hadir di Jalan Barker, Randwick, New South Wales. Warteg ini dibuka oleh seorang pria berkulit putih, Nick Molodysky, yang menikah dengan seorang diaspora Indonesia. Warteg ini menampilkan tampilan yang menyerupai warteg di Indonesia, lengkap dengan meja kayu dan lampu gantung. Menu yang ditawarkan meliputi nasi rames, nasi goreng ikan asin, dan berbagai lauk tradisional. Warteg ini menjadi tempat nongkrong bagi warga lokal yang ingin mencicipi rasa Indonesia.
Di Victoria, St Burg menawarkan menu unik berupa indomie goreng. Produk ini dinamakan Big D Sauce, yang terdiri atas campuran patty burger, mie goreng renyah, saus keju, dan saus cabai. Harga menu ini dibanderol Rp 157.000. Pembungkusan dalam mangkuk kertas membuatnya mudah dibawa, dan keunikan ini sempat menjadi viral di Australia. Banyak orang mencari kreasi mie tersebut untuk dijadikan konten media sosial.
Di bazar Ramadan di Lakemba, Sydney, terdapat warung sate Madura yang menjadi viral. Warung ini dimiliki oleh diaspora Indonesia yang menjual sate Madura dengan cita rasa asli. Lokasinya berada di sebuah bazar yang ramai, sehingga pelanggan sering menunggu hingga malam. Penjualnya mengenakan kaos garis‑garis merah putih ala Madura, menambah nuansa autentik. Proses pembuatannya menggunakan kipas angin besar, yang menambah keunikan pengalaman pelanggan.
Terakhir, Medan Ciak berlokasi di Sussex, Sydney. Warung ini menampilkan menu khas Medan, dengan andalan nasi kapau. Nasi kapau dapat dinikmati dengan lauk ayam sambal ijo, daging balado, ayam bakar, rendang, hingga iga bakar. Penyajiannya menggunakan bungkus kertas ala nasi rames yang banyak ditemui di Indonesia. Harga per porsi berkisar 20 AUD, setara dengan sekitar Rp 235.333.
Keberadaan lima usaha ini menunjukkan bahwa diaspora Indonesia di Australia tidak hanya membawa warisan kuliner, tetapi juga menyesuaikan konsepnya dengan kebutuhan pasar lokal. Setiap tempat menawarkan pengalaman rasa yang berbeda, mulai dari matcha Jepang yang autentik, warteg tradisional, hingga kreasi indomie goreng yang unik. Dengan harga yang kompetitif dan kualitas yang terjaga, mereka berhasil menarik pelanggan dari berbagai latar belakang. Hasilnya, kuliner Indonesia semakin dikenal dan dicintai di Australia, sekaligus memperkuat hubungan budaya antara Indonesia dan Australia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
