Dinas Sosial Ciamis Buka Barbershop Pelatihan Sosial
Gambar atau konten salah?
Selasa, 19 Mei 2026, suara mesin cukur mengisi ruangan di Kantor Dinas Sosial Kabupaten Ciamis. Dari sudut ruang, suara itu bersahutan, menandakan aktivitas sedang berlangsung. Tampak seolah‑olah di dalam kantor tersebut ada barbershop biasa, lengkap dengan kursi cukur, cermin besar, dan peralatan pangkas rambut yang teratur.
Namun, barbershop itu bukan sekadar tempat cukur. De Sille Barbershop menjadi ruang praktik bagi peserta pelatihan pangkas rambut yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial Ciamis dalam rangka pemberdayaan sosial. Tempat ini dibuka sejak 11 Mei 2026 dan menyambut 14 peserta pelatihan yang langsung mempraktikkan kemampuannya.
Para peserta diberi kupon layanan khusus sehingga mereka dapat melayani pegawai Dinsos dan keluarga mereka secara gratis. Dalam proses ini, setiap peserta mengasah keterampilan dengan memotong rambut pelanggan di depan mata. Sebelum memulai, mereka telah mengikuti pelatihan intensif selama tujuh hari bersama barber profesional. Selain teori, para peserta juga dibekali alat cukur lengkap sebagai modal awal membuka usaha sendiri.
Di antara peserta, Ii Supriatna, 35 tahun, warga Kelurahan Ciamis, terlihat cekatan memotong rambut pelanggan sambil tersenyum. Ia pernah bekerja di sebuah bank sebagai tenaga outsourcing, namun kontraknya tidak diperpanjang setelah pandemi COVID‑19. “Dulu saya kerja di bank, tapi setelah pandemi kontrak tidak lanjut. Akhirnya sekarang sambil jualan roti bakar di kawasan Stadion Galuh,” ujarnya. Awalnya, Ii hanya ingin mencari tambahan penghasilan, namun semakin lama belajar, ia semakin tertarik menekuni profesi barber. “Awalnya cuma ingin ada pemasukan tambahan. Tapi ternyata profesi barber ini menjanjikan juga kalau ditekuni. Semua orang pasti butuh cukur rambut, jadi keterampilan ini bisa dipakai seumur hidup,” tambahnya.
Hasilnya, kesehariannya kini padat. Pagi hingga sore, Ia mempraktikkan memangkas rambut di De Sille Barbershop. Menjelang malam, Ia kembali melanjutkan usaha roti bakarnya di sekitar Stadion Galuh. Ia mengaku bersyukur mendapat kesempatan mengikuti pelatihan yang digelar Dinsos Ciamis. “Terima kasih kepada Dinsos karena sudah memberikan pelatihan dan kesempatan praktik. Jadi kami bisa lebih percaya diri sebelum nanti buka usaha sendiri,” ungkapnya.
Serupa cerita datang dari Totoh, 33 tahun, peserta lainnya. Ketertarikannya pada dunia pangkas rambut berawal dari hal sederhana: anaknya tidak mau dicukur oleh orang lain. “Awalnya karena anak saya susah kalau dicukur orang lain. Akhirnya saya belajar sendiri dan sempat ikut kursus dasar mencukur,” katanya sambil tertawa. Totoh, yang sejak 2008 bekerja membuat kusen aluminium, sering menerima jasa pangkas rambut ketika pekerjaan sedang sepi. Setelah mengikuti pelatihan dari Dinas Sosial, ia merasa kemampuannya semakin berkembang. “Sekarang jadi lebih percaya diri. Mudah‑mudahan nanti bisa buka barbershop sendiri dan membuka lapangan kerja juga untuk orang lain,” ujarnya.
Menurut Ihsan Rasyad, kepala Dinas Sosial Kabupaten Ciamis, program pelatihan barbershop ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat agar memiliki keterampilan bernilai ekonomi dan mampu mandiri secara finansial. “Ini bagian dari proses pemberdayaan masyarakat. Setelah pelatihan intensif selama tujuh hari, mereka kami fasilitasi praktik langsung agar kemampuannya semakin terasah,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa seluruh peserta tidak hanya dibekali teori dan praktik, tetapi juga diberikan perlengkapan cukur lengkap sebagai modal usaha awal. “Kami berharap mereka nantinya bisa mandiri, membuka usaha pangkas rambut di daerahnya masing-masing, dan memiliki penghasilan tetap untuk memenuhi kebutuhan sehari‑hari,” katanya.
De Sille Barbershop saat ini melayani pegawai Dinsos dan pilar sosial secara gratis. Namun, ke depan, tempat tersebut direncanakan tetap dibuka untuk masyarakat umum dengan tarif terjangkau. Penghasilan dari jasa cukur nantinya akan diberikan kepada alumni peserta pelatihan. “Jadi ini bukan untuk mencari keuntungan dinas, tetapi murni sebagai bagian dari pemberdayaan sosial,” jelasnya. Ia mengaku optimistis program tersebut dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Bahkan, sejumlah peserta sudah berencana menggelar bakti sosial pangkas rambut gratis di lingkungan mereka masing-masing.
Program ini menunjukkan bagaimana pelatihan keterampilan sederhana dapat membuka peluang ekonomi bagi warga. Dengan dukungan pemerintah, para peserta tidak hanya belajar teknik mencukur, tetapi juga mendapatkan modal usaha. Hasilnya, mereka dapat berkontribusi pada peningkatan pendapatan pribadi dan penciptaan lapangan kerja di komunitas mereka. Program semacam ini menandai langkah konkret dalam pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan keterampilan yang relevan dan berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
