Dorong Pedagang Kopi Lokal Ciwidey, Perlunya Dukungan

Agus P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 81 dibaca
Bisik.id
Dorong Pedagang Kopi Lokal Ciwidey, Perlunya Dukungan

Gambar atau konten salah?

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengajak pedagang di Kawasan Wisata Ciwidey dan Pangalengan, terutama yang menjual kopi, untuk lebih memasarkan kopi lokal hasil petani setempat daripada kopi saset. Tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga citra kopi Jawa Barat di mata wisatawan.

Petani kopi dari Buhun Sendari, Sanjay Kuntara, menyambut baik usulan tersebut. Namun ia menekankan perlunya solusi konkret agar kebijakan tersebut dapat berjalan efektif.

“Kebijakan ini secara niat arahnya bagus, karena ingin ngangkat nilai ekonomi kopi lokal dan kasih ruang ke petani sendiri. Tapi kalau tanpa solusi, itu bisa jadi masalah,” kata Sanjay kepada detikJabar, Selasa (28/4/2026). Ia menjelaskan bahwa kopi saset masih menjadi pilihan utama di pasar karena harganya murah, praktis, dan sudah menjadi kebiasaan konsumen.

Menurut Sanjay, warung kecil menjual kopi saset karena perputaran modal yang cepat dan risiko yang kecil. “Jadi alangkah baiknya, bukan dilarang, tapi dialihkan pelan-pelan. Edukasi dan supply harus siap dulu. Pedagang bisa kehilangan omzet dan konsumen bisa kabur karena nggak nemu opsi murah,” ungkapnya.

Ia memaparkan gambaran ideal di mana kopi lokal hadir dalam bentuk yang praktis dan terjangkau. “Kalau dijalankan dengan benar, dampaknya bisa besar banget, permintaan naik langsung dari sektor wisata, harga jual biji kopi bisa lebih stabil dan nggak ditekan tengkulak terus. Petani nggak cuma jual cherry atau gabah, tapi bisa naik ke green bean, roasted bean dan bahkan brand sendiri,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya nilai tambah tetap berada di daerah, bukan lari ke merek besar luar negeri.

Ketika ditanya tentang kondisi kopi di Ciwidey, Sanjay mengakui bahwa kopi lokal belum mendominasi pasar wisata. “Jujur aja, sekarang yang jual kopi lokal ada, tapi belum dominan. Banyak tempat wisata masih jual kopi saset atau kopi tapi bukan dari petani sekitar,” ujarnya. Ia menyoroti bahwa petani belum semua bisa supply kualitas konsisten, belum banyak yang punya branding dan kemasan menarik, serta distribusi ke warung belum teratur.

Ia mengajak pemerintah untuk menangani keluhan secara serius. “Kalau boleh jujur dan realistis, ini yang paling dibutuhkan, bukan sekadar regulasi, tapi ekosistem bantu petani dari budidaya, pasca panen, roasting dan branding. Lalu standarisasi dan quality control, supaya kopi lokal yang masuk ke wisata, rasanya konsisten dan nggak bikin kapok wisatawan,” tuturnya.

Dalam hal alat dan pelatihan, Sanjay menekankan perlunya dukungan nyata. “Bantuan alat dan pelatihan. Mesin roasting, grinder dan packaging, karena naik kelas itu butuh alat, bukan cuma semangat. Branding besar seperti ‘Kopi Bandung’. Harus ada identitas kuat kayak Kopi Gayo atau Kopi Toraja. Kabupaten Bandung juga bisa punya positioning sendiri,” tuturnya.

Ia menutup dengan harapan kebijakan tidak hanya berupa larangan, melainkan sistem lengkap dari hulu ke hilir. “Kalau kebijakan ini cuma larangan, itu lemah. Tapi kalau dibarengin dengan sistem dari hulu ke hilir, ini bisa jadi titik balik kebangkitan kopi lokal di Bandung,” pungkasnya.

Secara keseluruhan, ajakan Dedi Mulyadi dan pandangan Sanjay Kuntara menyoroti pentingnya dukungan terpadu bagi petani kopi. Tanpa solusi konkret, upaya menggerakkan kopi lokal di kawasan wisata Ciwidey dan Pangalengan dapat terhambat. Namun, dengan sistem pendukung yang memadai, kopi lokal berpotensi menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dan meningkatkan pendapatan petani.

Dedi Mulyadikopi lokalpetani kopikopi sasetCiwideyPangalengankebijakanekosistem

Komentar

Memuat komentar...