Ebola Kembali Fokus Global, WHO Tegaskan Wabah Darurat

Kartika D. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 87 dibaca
Bisik.id
Ebola Kembali Fokus Global, WHO Tegaskan Wabah Darurat

Gambar atau konten salah?

Ebola kembali menjadi sorotan global setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan wabah di Afrika sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional. Kasus yang terus bertambah menimbulkan kekhawatiran publik, terutama ketika laporan menyebut varian Bundibugyo, salah satu bentuk langka Ebola, belum memiliki vaksin atau terapi yang disetujui secara luas.

"Anda pasti sudah melihat bahwa kemarin, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional," ujar juru bicara PBB Farhan Haq, Sabtu (17 Mei 2026).

Virus Ebola memicu pertanyaan di kalangan masyarakat: bagaimana cara penularannya, dan apakah bisa menyebar lewat makanan? Penjelasan berikut akan menguraikan asal, cara penyebaran, gejala, risiko, serta langkah pencegahan yang dapat diambil.

Secara ilmiah, Ebola termasuk penyakit berbahaya dengan potensi wabah. Menurut laman resmi Kementerian Kesehatan, virus ini diperkirakan menular dari kelelawar buah (keluarga Pteropodidae) yang menjadi inang alami. Masa inkubasi berkisar antara 2 sampai 21 hari, biasanya 4 sampai 10 hari. Penularan ke manusia terjadi ketika darah, sekresi, organ, atau cairan tubuh lain dari hewan terinfeksi bersentuhan langsung dengan kulit atau luka terbuka seseorang.

Virus ini termasuk dalam genus Ebolavirus, keluarga Filoviridae. Strukturnya berupa molekul lurus dan RNA negatif. Ada lima spesies berbeda:

  • Bundibugyo ebolavirus (BDBV)
  • Zaire ebolavirus (EBOV)
  • Reston ebolavirus (RESTV)
  • Sudan ebolavirus (SUDV)
  • Tai Forest ebolavirus (TAFV)

Penularan melalui makanan memang dapat terjadi, namun bukan jalur utama. Penularan ini biasanya terjadi ketika seseorang mengonsumsi hewan pembawa virus yang tidak diolah dengan baik atau masih mentah. Daging hewan liar yang terkontaminasi, seperti kelelawar buah, monyet, atau satwa liar lainnya, dapat memicu infeksi jika proses pemasakan tidak higienis.

Selain itu, makanan juga menjadi media penularan bila terkontaminasi cairan tubuh penderita Ebola—darah, muntah, atau cairan lain. Kebersihan makanan dan proses penanganannya menjadi kunci penting. Meski demikian, penularan paling sering terjadi melalui kontak langsung dengan penderita atau hewan yang terinfeksi, bukan melalui makanan sehari-hari.

Gejala Ebola mirip demam berdarah dan muncul secara tiba-tiba. Berikut beberapa tanda yang perlu diwaspadai:

  • Demam tinggi, biasanya di atas 38,3° Celsius
  • Kelemahan ekstrem, mirip influenza
  • Perlambatan nafsu makan (anoreksia)
  • Sakit kepala, nyeri otot, dan nyeri sendi
  • Sakit tenggorokan, muntah, diare, dan nyeri perut
  • Ruam pada kulit, muncul 5–7 hari setelah gejala pertama
  • Perdarahan luar maupun dalam, mulai 5–7 hari setelah gejala awal
  • Perdarahan di mulut, hidung, tenggorokan, atau bekas suntikan, termasuk muntah darah, batuk darah, dan buang air besar berdarah
  • Perdarahan di mata, menyebabkan mata tampak merah
  • Pembengkakan (edema) dan napas pendek
  • Penurunan kesadaran atau kebingungan (confusion)

Komplikasi serius dapat mengancam nyawa, seperti syok akibat kekurangan cairan, perdarahan hebat, dan gangguan pembekuan darah. WHO mencatat tingkat kematian rata-rata sekitar 50%, dengan angka lebih tinggi pada beberapa wabah tergantung kecepatan penanganan medis dan fasilitas kesehatan.

Meski Ebola sangat berbahaya, penyembuhan masih memungkinkan jika pasien mendapatkan perawatan medis cepat dan tepat. Perawatan intensif, pemberian cairan, pemantauan oksigen, serta penanganan gejala lain dapat meningkatkan peluang kesembuhan. Penyintas tetap perlu waspada karena virus dapat bertahan di beberapa cairan tubuh, terutama cairan sperma, hingga tiga bulan setelah sembuh. Oleh karena itu, penyintas dianjurkan berhati-hati, terutama saat berhubungan intim, guna mencegah penularan.

Pencegahan Ebola melibatkan beberapa langkah penting:

  • Kurangi risiko penyebaran dari hewan terinfeksi, seperti monyet dan babi, dengan memeriksa hewan terhadap infeksi dan membuang hewan yang terpapar sesuai prosedur aman.
  • Pastikan daging hewan terinfeksi dimasak hingga matang sempurna sebelum dikonsumsi.
  • Rajin mencuci tangan dengan benar, terutama setelah berada di sekitar penderita atau menyentuh benda yang berpotensi terkontaminasi.
  • Tangani sampel cairan dan jaringan tubuh penderita dengan hati-hati, mengikuti prosedur keamanan yang berlaku.
  • Vaksinasi jika akan bepergian ke daerah atau negara yang sedang mengalami wabah.
  • Gunakan alat pelindung diri (APD) lengkap sesuai standar operasional prosedur (SOP), terutama bagi tenaga kesehatan yang menangani pasien.
  • Jaga kebersihan lingkungan dan segera periksa diri di fasilitas kesehatan jika mengalami gejala yang mengarah pada infeksi, terutama setelah melakukan perjalanan ke wilayah terjangkit.

Dengan memahami cara penularan, gejala, dan langkah pencegahan, masyarakat dapat lebih waspada dan mengurangi risiko terpapar Ebola. Masyarakat juga disarankan untuk tetap mengikuti petunjuk resmi dari lembaga kesehatan, menjaga kebersihan, dan menghindari kontak dengan hewan liar atau penderita.

Informasi ini bertujuan memberi pemahaman yang jelas tentang Ebola, sehingga setiap orang dapat mengambil tindakan preventif yang tepat dan mengurangi potensi penyebaran virus berbahaya ini.

EbolaWHOBundibugyoWabahPenularanGejalaVaksinasi

Komentar

Memuat komentar...