El Nino Godzilla 2026: Kemarau Panjang, Risiko Kering Nusantara

Arif S. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 129 dibaca
Bisik.id
El Nino Godzilla 2026: Kemarau Panjang, Risiko Kering Nusantara

Gambar atau konten salah?

Fenomena El Nino, yang dikenal sebagai pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator, diperkirakan akan muncul di Indonesia pada periode 01 April 2026 hingga 31 Oktober 2026. Menurut beberapa model global, intensitasnya akan mencapai level “Godzilla”, yang berarti kemarau dapat menjadi lebih parah daripada biasanya.

Yuk, kita lihat detailnya. BRIN, melalui akun Instagram resminya, menjelaskan bahwa El Nino kuat dapat memicu hujan yang terbatas di Samudra Pasifik. Akibatnya, wilayah Indonesia akan mengalami sedikit awan dan curah hujan yang lebih rendah.

Yakin? Lihat data. BRIN memprediksi bahwa El Nino akan bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Pada IOD positif, suhu permukaan laut di sekitar Sumatra dan Jawa menurun, sehingga awan terbentuk lebih sedikit. Akibatnya, hujan di Indonesia menurun secara signifikan.

Periode 01 April 2026 hingga 31 Oktober 2026 akan menjadi musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering. Kombinasi El Nino dan IOD positif diperkirakan memperpanjang durasi kemarau, menambah risiko kekeringan di banyak daerah.

Berikut wilayah yang akan lebih dulu masuk musim kemarau. Data BRIN menunjukkan bahwa dari 01 April 2026 hingga 31 Juli 2026, sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) akan mengalami kondisi kering. Faktor utama adalah kombinasi El Nino dan IOD positif yang mengurangi pembentukan awan dan hujan.

Berbeda dengan itu, wilayah Sulawesi, Maluku, dan Halmahera diperkirakan masih akan menerima curah hujan tinggi. Jadi, dampak El Nino dan IOD positif tidak merata di seluruh Indonesia.

Bagaimana dampaknya? Di selatan Indonesia, kekeringan berpotensi mengancam lumbung padi nasional, khususnya di Pantura Jawa. Sementara di timur laut, seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku, curah hujan tetap tinggi meski musim kemarau, sehingga risiko banjir meningkat.

Sumatra dan Kalimantan juga tidak luput. Bagian utara kedua pulau tersebut masih akan menerima hujan tinggi, namun kewaspadaan tetap diperlukan karena potensi kebakaran hutan dan lahan.

Di sisi lain, kondisi kemarau panjang dapat dimanfaatkan untuk produksi garam nasional. Peluang ini penting untuk mendorong swasembada garam pada periode 01 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027, terutama di wilayah selatan Indonesia.

Dengan semua informasi ini, pemerintah perlu menyesuaikan langkah mitigasi sesuai kondisi tiap daerah. Risiko dapat ditekan jika tindakan tepat diambil sebelum kondisi memuncak.

Secara keseluruhan, El Nino “Godzilla” dan IOD positif diharapkan memicu musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering di sebagian besar wilayah Indonesia. Dampak akan berbeda-beda: kekeringan di selatan, banjir di timur laut, kebakaran di Sumatra dan Kalimantan, serta peluang produksi garam di selatan. Pemerintah dan masyarakat harus siap menghadapi perubahan ini dengan perencanaan yang matang.

El NinoIndian Ocean Dipolemusim kemaraukekeringanbanjirkebakaran hutanproduksi garam

Komentar

Memuat komentar...