El Nino Memicu Kekeringan, Kebakaran, Konflik Satwa

Bayu K. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 96 dibaca
Bisik.id
El Nino Memicu Kekeringan, Kebakaran, Konflik Satwa

Gambar atau konten salah?

El Nino bukan sekadar panas atau kekeringan. Di Indonesia, fenomena ini menimbulkan gangguan ekologis yang lebih luas, memengaruhi habitat satwa liar dan menambah potensi konflik antara manusia dan hewan.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino adalah anomali iklim periodik yang muncul setiap 3–7 tahun. Penyebabnya adalah kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur. Akibatnya, musim kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama.

Abdul Haris Mustari, dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, menjelaskan bahwa kondisi ini menurunkan curah hujan secara signifikan. Hujan yang lebih sedikit membuat lingkungan semakin kering.

“Secara langsung, peningkatan suhu lingkungan dan kekeringan menyebabkan berkurangnya ketersediaan pakan dan air bagi satwa liar,” ujarnya. Ketika suhu naik, produktivitas tumbuhan—yang menjadi sumber pakan seperti buah, daun, dan vegetasi bawah hutan—menurun. Kemarau panjang mengancam kesehatan, reproduksi, dan kelangsungan populasi satwa.

Ketika sumber makanan dan air di habitat alami menipis, satwa liar cenderung memperluas wilayah jelajahnya. Mereka keluar dari kawasan hutan menuju area perkebunan, lahan pertanian, bahkan permukiman warga.

“Satwa dapat keluar dari habitat hutan menuju area perkebunan bahkan permukiman manusia untuk mencari makan dan air. Kondisi ini meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar,” kata Mustari. Situasi ini sering memicu kerusakan tanaman, gangguan terhadap warga, dan menimbulkan ancaman bagi keselamatan satwa itu sendiri.

Selain kekeringan, El Nino juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran tidak hanya menghilangkan tutupan hutan, tetapi juga merusak habitat satwa serta mengganggu rantai makanan.

“Ketika rantai makanan terganggu dan regenerasi hutan terhambat, maka keseimbangan ekosistem akan ikut terguncang,” ujarnya. Mustari menekankan perlunya upaya pencegahan melalui perlindungan habitat alami, pengawasan wilayah rawan kebakaran, serta kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Dengan menjaga kelestarian hutan, keberlangsungan hidup satwa liar dapat terjamin. Hal ini sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem yang berdampak langsung pada kehidupan manusia dalam jangka panjang.

Fenomena El Nino mengingatkan kita bahwa perubahan iklim memengaruhi lebih dari sekadar suhu. Ia menuntut perhatian serius terhadap habitat satwa dan upaya mitigasi risiko kebakaran, agar konflik manusia–satwa dapat diminimalkan dan ekosistem tetap berfungsi.

El Ninokekeringansatwa liarkebakaran hutankonflik manusia‑satwahabitatiklim

Komentar

Memuat komentar...