Empat Mahasiswa Disabilitas Menangut UTBK Unpad Berhasil
Gambar atau konten salah?
Pada pukul 16.45 WIB pintu ruang ujian Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran terbuka. Puluhan peserta UTBK, yang sebelumnya tertahan, berhamburan keluar, keringat menetes di dahi. Di antara kerumunan, empat peserta penyandang disabilitas menonjol. Mereka menempuh ujian bersama peserta lain, menunjukkan keteguhan. Setelah keluar, mereka langsung berpelukan hangat dengan orang tua yang menunggu, doa mengalir di udara.
Tahun ini, Pusat UTBK Unpad 2026 mencatat 6.632 peserta yang mengikuti ujian. Jumlah tersebut dibagi ke dalam dua sesi setiap harinya selama lima hari pelaksanaan.
Koordinator TIK, Rafly Chalil, mengonfirmasi adanya peserta penyandang disabilitas. Ia berkata, "Ada empat orang, dua disabilitas rungu dan dua disabilitas daksa. Untuk disabilitas rungu kita siapkan juru bahasa isyarat," kepada media.
Salah satu peserta adalah Nisrina Zakiah Zaininur (18), alumnus SMKN 12 Garut dan teman tuli. Ia datang ke Unpad didampingi ibu dan adik bungsunya. Sebelum ujian, ia selalu memanjatkan doa, yakin bisa melewati tantangan. Ia mengaku, "Saya sebagai tuli tidak pernah takut untuk memulai ujian, harus berani, jangan ragu, intinya lancar dan bisa,"
Nisrina menyatakan keinginannya menempuh pendidikan di IPB atau UPI. Ia menyebut, "Untuk IPB Jurusan Kehutanan, dan UPI Kebutuhan Khusus,"
Ia menjelaskan alasan memilih jurusan tersebut. Ia berkata, "Alasannya saya ingin masuk ke kehutanan dari waktu kecil suka melihat alam, lihat pemandangan di kampung dan suka menjelajah, pernah juga ke Kebun Raya Bogor sambil belajar. Buat yang UPI saya ingin berguna bagi orang-orang seperti saya, jangan pernah enggak percaya diri, tetap semangat pasti,"
Pesan yang ia sampaikan kepada teman-teman sebayanya adalah, "Pesan buat yang lain, tetap semangat jangan takut gagal karena bisa dicoba lagi,"
Sri Rahayu, ibu Nisrina, mengungkapkan kebahagiaan melihat putrinya. Ia berkata, "Ya itu yang membuat saya bahagia, anak itu punya motivasi dan gairah, itu modal penting dalam hidupnya, UTBK jadi pengalaman luar biasa bagi dia, bahwa berproses akan jadi pengalaman berharga di masa depan,"
Sri menjelaskan bahwa sejak sekolah, ia hanya mengarahkan dan membina agar putrinya memiliki keinginan kuat untuk melihat dunia luar. Ia tidak memberikan perlakuan khusus, melainkan memberi keleluasan bagi Nisrina untuk memahami lingkungannya secara mandiri. Ia menegaskan, "Meski Nisrina memiliki keistimewaan, Sri tak pernah memberikan perlakuan khusus. Ia justru memberikan keleluasan bagi Nisrina untuk memahami lingkungannya secara mandiri. Kebetualan saya tidak memanjanya, biarkan saja dia mengenal lingkungan luar bagaimana, kebutuhan kehidupan itu tidak selalu didampingi orang tua, kehidupan seperti apa. Meski anak saya istimewa, dia harus bisa mengatasi dirinya di lingkungan dan pergaulan sehari-harinya, itukan jadi bekal buat dia,"
Selanjutnya, Bastian Kamal (19), lulusan SMKN 1 Sumedang tahun 2025, juga penyandang disabilitas daksa. Ia mengaku mampu menjawab soal-soal ujian. Ia berkata, "Alhamdullilah cukup berjalan baik, meski ada kesulitan di PKPM, alhamdullilah bisa dikerjakan dengan baik, ingin kuliah di Unpad Jurusan Teknik Informatika ,"
Bastian menjelaskan langkahnya menuju Teknik Informatika. Ia mengatakan, "Motivasinya ingin kuliah karena ingin memberi yang terbaik kepada orang tua yang selalu mendukung dan support apa yang saya inginkan. Saya juga ingin memenuhi harapan orang tua yang sudah berusaha dan mensupport dari kecil sampai sekarang,"
Ia menegaskan optimisnya, "Tetap optimis kedepannya, ini bukan halangan untuk jadi orang yang berguna bagi bangsa. Dengan keadaan saya seperti ini saya tidak mau mengandalkan orang lain, meski saya mengalami kekurangan, saya tetap ingin melakukan segala sesuatunya sendiri. Tetap semangat,"
Muhammad Raihan, alumnus SMA El-Fitra Bandung, berusia 19 tahun, juga menghadapi UTBK. Ia bersyukur bisa menjalani ujian dengan lancar. Ia mengaku, "Alhamdullilah UTBK nya lancar dan semangat. Kuliah ingin ke ITB dan ISBI jurusan komunikasi visual,"
Raihan, yang memiliki spektrum autisme, percaya bahwa keterbatasan bukanlah halangan. Ia berkata, "Motivasi buat semangat belajar, ingin berbuat sesuatu untuk diri sendiri dan orang lain. Harus membuktikan bahwa kita bisa mengejar mimpi,"
Asri Hendayani, ibu Raihan, menegaskan semangat anaknya. Ia berkata, "Anaknya pantang menyerah, keinginan tinggi walaupun ada kekurangan tapi cita-citanya besar, saya sebagai orang tua ikhtiar terus,"
Raihan menjalani hari dengan dua dunia: jemari yang sibuk mengasah logika demi UTBK, dan lisan yang tak henti melantunkan ayat suci. Ia mengatakan, "Kesehariannya sekolah, alhamdiklah hafidz Quran 30 juz, sebelum UTBK storan terus. Saya sebagai orang tua menggali keahlian dia terus, termasuk menggambar, dari kecil, dari TK dia gambar banyak banget, bahkan dari SMP ke SMA sudah diarahkan, sebelum dia mondok,"
Keberhasilan empat peserta penyandang disabilitas ini menegaskan bahwa ujian tidak memandang latar belakang. Mereka menunjukkan bahwa dengan persiapan, dukungan, dan tekad, hambatan dapat diatasi. Ujian menjadi panggung bagi mereka untuk menampilkan kemampuan, bukan sekadar batasan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu