Enam Hidangan Ekstrem Asia yang Masih Populer Setiap Tahun
Gambar atau konten salah?
Asia dikenal dengan ragam kuliner yang menakjubkan, mulai dari hidangan tradisional hingga sajian yang memicu rasa penasaran. Meskipun terdengar aneh bagi sebagian orang, banyak makanan ekstrem ini tetap digemari karena dipercaya memiliki cita rasa khas dan manfaat kesehatan tertentu.
Berikut enam contoh makanan paling aneh di Asia, yang sudah menjadi bagian dari budaya turun‑temurun dan masih populer hingga kini. Informasi ini berasal dari Backpacker Travel pada 21 Mei 2026.
-
Daging Kuda Mentah (Basashi & Yuuk‑hwe)
Di Jepang dan Korea Selatan, daging kuda mentah dikenal dengan nama basashi di Jepang dan yuuk‑hwe di Korea. Hidangan ini disajikan seperti sashimi, dengan irisan tipis yang biasanya disantap bersama kecap asin atau bawang putih. Meskipun terdengar aneh, masyarakat setempat percaya daging kuda kaya mineral dan nutrisi. Restoran tradisional di kedua negara sering menyajikan hidangan ini, menjadikannya pilihan populer bagi pencinta kuliner ekstrem.
-
Sup Daging Anjing (Ke‑go‑gi / Yong‑yang‑tang)
Sup daging anjing masih ditemukan di Korea Selatan, meski kini lebih sering disebut yong‑yang‑tang, yang berarti “sup penambah stamina”. Dahulu dikenal dengan nama ke‑go‑gi, sup ini biasanya disantap saat musim panas karena diyakini dapat meningkatkan energi tubuh dan vitalitas pria. Hidangan ini dibuat pedas dengan tambahan rempah‑rempah khas Korea. Meskipun menu ini mulai ditinggalkan generasi muda dan mendapat kritik, beberapa restoran tradisional masih menyajikannya hingga sekarang.
-
Sup Darah (Tiet Canh)
Negara-negara seperti Vietnam, Thailand, dan China memiliki sup darah, yang dibuat dari darah bebek atau darah babi disajikan bersama jeroan, tulang, dan rempah‑rempah. Di Vietnam, menu ini dikenal dengan nama tiet canh. Teksturnya mirip puding lembut dan biasanya disantap bersama minuman alkohol seperti arak beras. Meskipun terdengar ekstrem, warga setempat menganggap sup darah sebagai makanan tradisional yang kaya rasa dan cocok disantap saat berkumpul bersama teman atau keluarga.
-
Tong Zi Dan (Telur Anak Laki‑Laki)
China memiliki kuliner ekstrem bernama Tong Zi Dan, atau telur anak laki‑laki. Makanan khas Dongyang ini dibuat dengan merebus telur menggunakan urine atau air kencing anak laki‑laki yang masih kecil. Telur direndam lalu dimasak selama berjam‑jam hingga bumbunya meresap. Warga setempat percaya makanan ini dapat membantu melancarkan peredaran darah dan menurunkan panas tubuh. Tradisi kuliner tersebut bahkan pernah diakui sebagai warisan budaya lokal. Meski terdengar aneh, Tong Zi Dan masih dijual oleh pedagang kaki lima di beberapa wilayah China.
-
Guīlínggāo (Tortilla Kura‑Kura)
Guīlínggāo, atau tortoise jelly, adalah makanan penutup khas China yang awalnya dibuat dari cangkang kura‑kura dan campuran herbal. Teksturnya menyerupai agar‑agar berwarna hitam dengan rasa sedikit pahit. Hidangan ini dipercaya memiliki manfaat kesehatan, terutama untuk menjaga kondisi kulit dan menurunkan panas dalam. Karena bahan dasarnya mahal, sebagian besar guīlínggāo modern kini tidak lagi menggunakan cangkang kura‑kura asli. Namun, campuran herbalnya tetap dipertahankan sehingga masih populer sebagai dessert tradisional sekaligus obat herbal alami.
-
Paniki (Daging Kelelawar)
Indonesia juga memiliki makanan aneh, salah satunya paniki, kuliner ekstrem khas Minahasa, Sulawesi Utara. Menu ini menggunakan daging kelelawar pemakan buah atau kalong sebagai bahan utama. Sebelum dimasak, kelelawar dibakar terlebih dahulu untuk menghilangkan bulunya. Setelah itu, daging dimasak bersama santan dan aneka rempah khas Manado hingga menghasilkan rasa gurih pedas. Sering juga dimasak dengan bumbu woku atau diolah menjadi rica‑rica dengan cabai melimpah. Meski terdengar tak biasa, hidangan ini cukup populer di beberapa daerah Sulawesi Utara dan menjadi bagian dari kuliner tradisional masyarakat setempat.
Keunikan setiap hidangan mencerminkan cara masyarakat Asia memanfaatkan bahan makanan yang tersedia dan menambahkan nilai budaya pada setiap sajian. Meskipun beberapa makanan ini menimbulkan kontroversi, mereka tetap dihargai karena rasa khas dan kepercayaan akan manfaat kesehatan. Dengan demikian, kuliner ekstrem di Asia tidak hanya sekadar makanan, melainkan juga bagian penting dari identitas dan warisan budaya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz