Ereveld Kerkhof Cimahi: 5.200 Nisan, Warisan Dunia II

Lina F. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 68 dibaca
Bisik.id
Ereveld Kerkhof Cimahi: 5.200 Nisan, Warisan Dunia II

Gambar atau konten salah?

Di atas hamparan rumput hijau yang dipotong rapi, barisan nisan putih menata deretan garis lurus. Bentuknya beragam: beberapa menyerupai salib dengan ujung runcing dan bunga, bintang David, serta perisai segilima yang khas bagi umat muslim. Di tengah‑tengahnya, nisan‑nisan ini menandakan tempat peristirahatan bagi korban perang dan warga sipil.

Tempat ini dikenal sebagai Ereveld Kerkhof, salah satu taman makam kehormatan Belanda yang tersebar di beberapa daerah di tanah air. Terletak di pinggiran Kota Cimahi, ia berada di ujung TPU Kerkhof yang khusus bagi non‑muslim. Istilah Ereveld sendiri berarti Taman Makam Kehormatan, tempat khusus bagi korban perang dan warga sipil. Pengelolaannya langsung dipegang oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorlogsgravenstichting) atau OGS.

Pengunjung tidak sembarangan dapat memasuki Ereveld. Untuk masuk, mereka melewati pintu semacam lorong berbentuk benteng pertahanan. Setelah berjalan sekitar seratus meter, gerbang utama yang megah berwarna hitam menandai pintu masuk. Di tengah gerbang, sebuah monumen menuliskan: “Ter eerbiedige nagedachtenis aan de vele ongenoemoen die hun leven offerden en niet rusten op deerevelden.” Terjemahannya: “Untuk mengenang dengan hormat mereka yang tak disebut tetapi telah mengorbankan dirinya dan tidak bisa beristirahat di taman‑taman kehormatan.”

Ereveld Kerkhof resmi dibuka pada 20 Desember 1949. Ia dikelola oleh Yayasan OGS di bawah naungan Kedutaan Belanda. Tanah tempatnya berasal dari Indonesia, yang kemudian dihibahkan ke Pemerintah Belanda; sehingga status Ereveld kini menjadi milik Pemerintah Belanda. Menurut catatan, hingga kini terdapat 5.200 nisan di Ereveld Kerkhof, menandakan banyaknya orang yang dimakamkan di sana. Angka tersebut tidak akan pernah bertambah.

Di taman ini bersemayam jasad tentara Koninklijk Nederlandshe Indische Leger (KNIL) yang gugur saat masa penjajahan. Setiap tanggal 4 Mei, digelar Dodenherdenking atau The Commemoration of the Fallen, upacara resmi nasional Belanda yang diadakan untuk mengenang pihak sipil maupun militer yang gugur dalam Perang Dunia II pada tahun 1945.

Direktur Oorlogsgravenstichting (OGS) atau Yayasan Makam Kehormatan Belanda Indonesia, Eveline de Vink, menjelaskan bahwa sebelum tahun 1950‑an di Indonesia ada 22 Ereveld yang tersebar dari ujung Sumatera hingga ke tanah Papua. “Lalu di tahun 1950‑an, pemerintah Indonesia meminta pemerintah Belanda untuk memindahkan makam‑makam tersebut. Kami juga berpikir bahwa akan lebih mudah merawat jika tidak tersebar di 22 lokasi di seluruh Indonesia, karena jumlahnya terlalu banyak.” ujar Eveline saat dikonfirmasi pada 01 Juni 2026.

Selama kurang lebih sepuluh tahun, proses pemakaman kembali dilakukan. Jasad demi jasad diangkut dari liang lahad lalu dipindahkan dan disatukan lagi ke dalam satu lubang di lingkungan yang baru dan lebih layak. “Dari sebelumnya 22 lokasi, kemudian menjadi 12 makam korban perang, dan setelah itu menjadi 7 makam korban perang Belanda yang ada sampai sekarang.” tambahnya.

Ereveld yang cukup terkenal di Jakarta adalah Menteng Pulo dan Ancol, keduanya memiliki lokasi yang istimewa. Ereveld Ancol dianggap berbeda karena pernah menjadi tempat eksekusi selama Perang Dunia Kedua. Di Bandung, terdapat dua Ereveld, yaitu Leuwigajah dan Pandu. Sedangkan di Semarang ada dua lagi, Kalibanteng dan Candi. Satu Ereveld di Surabaya, Kembang Kuning, berfokus pada angkatan laut.

Di semua Ereveld tersebut, korban perang yang dimakamkan berasal dari tiga periode: Perang Dunia Kedua, periode revolusi nasional, dan pertempuran untuk Irian Barat. “Sebagai contoh, di (ereveld) Kembang Kuning terdapat korban dari ketiga periode tersebut. Sementara di sini (Ereveld Kerkhof) lebih berfokus pada Perang Dunia Kedua dan revolusi nasional, begitu juga di Pandu.” jelas Eveline. Korban yang dimakamkan terdiri dari warga sipil maupun militer. Secara keseluruhan di seluruh Ereveld di Indonesia, kira‑kira 75 persen adalah sipil dan 25 persen militer.

Pengelolaan Ereveld menuntut ketelitian tinggi, mulai dari penataan nisan hingga upacara peringatan. Proses pemindahan makam dari 22 lokasi menjadi 7 pusat memudahkan pemeliharaan, sekaligus menjaga warisan sejarah. Di setiap Ereveld, nisan putih tetap menjadi simbol kesunyian dan penghormatan bagi yang telah berkorban. Di tengah‑tengahnya, monumen dan tulisan berbahasa Belanda tetap mengingatkan akan sejarah panjang hubungan Indonesia‑Belanda. Dengan demikian, Ereveld bukan sekadar tempat pemakaman, melainkan juga ruang refleksi bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

Ereveld KerkhofYayasan OGSCimahiPerang Dunia IIPemerintah BelandaWarga sipilMiliter

Komentar

Memuat komentar...