Erosi Parah Pantura Jawa: 65,8% Garis Pantai Luluh Lantai

Wulan M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 74 dibaca
Bisik.id
Erosi Parah Pantura Jawa: 65,8% Garis Pantai Luluh Lantai

Gambar atau konten salah?

Riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa mengalami erosi yang sangat parah. Menurut data, 65,8% garis pantai Pantura telah luluh lantak akibat abrasi selama periode 2000 hingga 2024.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Tubagus Solihuddin, mengungkap temuan ini dalam forum diskusi bertema Pantura Tangguh, Indonesia Lestari yang digelar di Gedung BJ Habibie, Jakarta. Ia menegaskan bahwa kondisi Pantura saat ini bukan sekadar masalah abrasi biasa. “Pantura Jawa sedang menghadapi krisis nyata. Tantangannya bukan hanya erosi, abrasi, dan banjir, tetapi juga kenaikan muka air laut dan penurunan tanah. Ini bukan isu lokal, melainkan isu nasional,” ujarnya dikutip dari siaran pers, 04 Mei 2026.

Analisis citra satelit Sentinel menunjukkan perubahan drastis pada wajah Pantura. Dominasi erosi mencapai 65,8%, sementara proses akresi atau penambahan daratan hanya menyentuh angka 34,2%. Fenomena ini tergolong tidak lazim. Secara alami, kawasan delta seharusnya menjadi wilayah sedimentasi, namun intervensi manusia di wilayah hulu—seperti kanalisasi, pembelokan arus sungai, hingga pembangunan bendungan—telah memutus suplai sedimen ke pesisir.

Hasilnya, dampaknya terlihat nyata di berbagai titik. Di Tanjung Pontang, Serang, seluas 1,72 kilometer persegi telah hilang ditelan laut. Di Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, air laut merangsek hingga 4 kilometer ke daratan dan menenggelamkan lebih dari 1.000 hektare tambak warga. Kondisi serupa menghantui Legonkulon, Subang, di mana intrusi air laut sejauh 2 kilometer merendam sekitar 700 hektare tambak. Di Indramayu, abrasi bahkan memutus akses jalan desa sepanjang 500 meter hingga 1 kilometer. Demak mencatatkan kondisi yang tak kalah tragis; air laut dilaporkan telah masuk hingga 5-6 kilometer ke daratan, mengubah kawasan persawahan dan permukiman penduduk menjadi lautan.

BRIN menjelaskan bahwa kerentanan Pantura juga dipengaruhi faktor geologis. Sekitar 84% wilayah pesisirnya tersusun dari endapan yang belum terkonsolidasi, membuat tanah sangat mudah tererosi dan mengalami pemampatan secara alami. Selain itu, 83% wilayah Pantura merupakan dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan laut, menjadikannya sangat “empuk” terhadap dinamika laut yang kian ekstrem.

Tekanan terhadap Pantura semakin berat akibat aktivitas manusia yang masif. Pembangunan pusat ekonomi, alih fungsi lahan, hingga hilangnya hutan mangrove sebagai benteng alami mempercepat laju kerusakan pesisir. Krisis ini kian sempurna dengan adanya fenomena kenaikan muka air laut (sea level rise) dan penurunan muka tanah (land subsidence). Berdasarkan data altimetri periode 1993-2025, kenaikan muka air laut di Pantura mencapai rata-rata 0,41 hingga 0,42 sentimeter per tahun. Jika diakumulasikan, permukaan laut telah naik sekitar 15,5 sentimeter dalam 32 tahun terakhir.

Dengan fakta-fakta ini, jelas bahwa Pantura tidak hanya menghadapi tantangan lokal. Dampak erosi, intrusi air laut, dan penurunan tanah memerlukan perhatian nasional. Upaya mitigasi dan adaptasi harus melibatkan koordinasi lintas sektor, pemantauan berkelanjutan, dan perlindungan ekosistem mangrove yang masih tersisa. Tanpa tindakan yang terkoordinasi, kawasan pesisir ini akan terus menurunkan batasnya, mengancam kehidupan dan infrastruktur di sepanjang Pantura.

Pantai Utara (Pantura)erosi pantaikenaikan muka air lautBRINmangrovepenurunan muka tanah

Komentar

Memuat komentar...