Giant Sea Wall Pantura Tak Cukup, Subsidence Lebih Besar
Gambar atau konten salah?
Menteri Lingkungan Hidup, Muhammad Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa pembangunan tanggul laut raksasa tidak dapat menjadi satu-satunya cara mengatasi banjir rob dan abrasi di Pantura. Ia menyoroti masalah penurunan muka tanah, atau land subsidence, yang semakin memprihatinkan.
Jumhur menyampaikan hal tersebut di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Ia menilai tanggul laut raksasa penting untuk meredam banjir rob di Pantura, namun tidak boleh dianggap sebagai solusi tunggal.
"Dalam respons krisis ini, wacana membangun giant sea wall atau tanggul laut raksasa sepanjang kurang lebih 575 kilometer yang membentang dalam 15 segmen dari Banten hingga Jawa Timur mengemuka sebagai sebuah solusi strategis nasional," kata Jumhur di Unissula, Selasa (02 Juni 2026).
Ia menambahkan, “Giant Sea Wall dapat menjadi bagian penting dari strategi perlindungan Pantura. Tetapi dia bukanlah satu-satunya solusi,” tegasnya.
Jumhur menjelaskan bahwa akar persoalan tidak hanya berupa kenaikan muka air laut, melainkan juga penurunan muka tanah secara masif di beberapa daerah pesisir.
"Kenaikan muka laut regional di lepas pantai Semarang tercatat hanya sekitar 2,1 milimeter per tahun. Namun yang menjadi anomali mematikan laju penurunan muka tanah," ucapnya.
Ia menambahkan data spesifik tentang Semarang. “Di kawasan Semarang muka tanah atau land subsidence mencapai 0,01-0,15 cm per tahun, bahkan mencapai sekitar 100 milimeter per tahun di beberapa titik kritis di Semarang Utara,” lanjutnya.
Menurut Jumhur, angka tersebut menunjukkan bahwa penurunan muka tanah puluhan kali lebih cepat daripada kenaikan air laut. Ia menyebut ancaman utama saat ini adalah relative sea level rise, yaitu tampak naiknya muka laut karena daratan yang tenggelam.
“Penurunan muka tanah ini tidak terjadi secara alamiah. Ini harga mahal yang harus kita bayar dari masifnya ekstraksi air tanah berlebihan untuk kepentingan industri, beban konsumsi pada tanah aluvial yang lunak serta perubahan tata ruang yang menghilangkan area resapan air,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pembangunan giant sea wall saja tidak akan cukup jika persoalan di daratan tidak dibenahi. “Jika kita hanya membangun dinding beton raksasa di pesisir tanpa menghentikan ekstraksi air tanah secara masif dan tanpa membenahi tata ruang hidrologis di daratan, maka tanggul tersebut pada akhirnya akan ikut ambles bersama tanah yang menopangnya,” katanya.
Untuk menanggulangi masalah tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup menyiapkan Peraturan Menteri tentang water farming. Konsep ini bertujuan mengembalikan cadangan air ke dalam tanah sebagai kompensasi atas pengambilan air tanah oleh industri maupun bangunan skala besar.
"Water farming itu memastikan air yang diambil harus dikembalikan, kalau nggak ya itu pasti udah turun. Terutama di kota-kota besar itu di berbagai negara yang sudah lebih maju," ungkapnya.
Ia menjelaskan mekanisme water farming. “Aturannya, kamu ambil air di 1 tempat, tugasnya adalah membangun mungkin biopori air, atau danau misalnya, atau embung di sekitar, menanam tanaman di sana sehingga air terus terpelihara,” lanjutnya.
Selain itu, Jumhur menekankan perlunya memadukan infrastruktur fisik dengan solusi berbasis alam. Salah satu contoh yang ia sebutkan adalah rehabilitasi mangrove.
"Kita harus mendorong restorasi kawasan pesisir, termasuk menggalakkan pemanfaatan mangrove melalui pendekatan kesatuan lanskap mangrove," ujarnya.
Ia menyoroti manfaat hutan mangrove. “Menurutnya, hutan mangrove terbukti mampu meredam gelombang laut hingga 13-66 persen hanya dalam jarak 100 meter sekaligus membantu menahan abrasi dan mengembalikan habitat perikanan bagi masyarakat pesisir.”
Jumhur juga mengumumkan aksi konkret. “KLH melalui acara ini akan membantu Jawa Tengah menanam untuk 200 hektare mangrove yang bisa dimulai mulai hari ini, langsung dibikin petanya aja,” ucapnya.
Dengan menyoroti berbagai data dan strategi, Jumhur menegaskan bahwa perlindungan Pantura memerlukan pendekatan holistik. Tanpa mengatasi penurunan muka tanah, tanggul laut raksasa saja tidak akan mampu menahan ancaman banjir dan abrasi di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BMKG: Sebagian Jawa Tengah Berawan, Waspada Karhutla
Lansia Kaki Putus Ditabrak Motor, Pengendara Kabur
Jembatan Serayu Cepat Rampung, Perahu Tak Balik Modal
Kecelakaan Kerja Lagi di PLTSa Solo, Tangan Patah
Tarif Parkir Rp10.000 di Simpang Lima, Dishub Panggil Juru Parkir
Hasil Ujian Mandiri Undip 2026 Diumumkan Hari Ini