Gubernur Jabar Datangi Korban, Minta Pelaku Pengeroyokan Menyerah
Gambar atau konten salah?
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mendatangi korban pengeroyokan di Garut. Korban bernama Andika, seorang petugas penjaga pintu perlintasan kereta api. Pertemuan itu terjadi pada Selasa, 14 Juli 2026.
Dalam kesempatan itu, Dedi menyampaikan imbauan tegas. Ia meminta tiga pelaku pengeroyokan untuk menyerahkan diri. Jika tidak, polisi akan memburu mereka.
"Saya minta saudara yang melakukan penganiayaan, segera menyerahkan diri," kata Dedi, yang akrab disapa KDM.
Ia menambahkan, jika para pelaku tidak mau menyerah, ia berharap polisi segera menangkap mereka. Dedi ingin proses hukum berjalan cepat.
"Sekarang sudah dilaporkan di Polres Garut. Saya minta saudara menyerahkan diri. Kalau tidak, pasti ditahan dan ditangkap hari ini juga. Saya yakin Polres Garut bisa menangani ini dengan cepat," ujar KDM.
Peristiwa pengeroyokan terjadi pada Minggu, 12 Juli 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Lokasinya di pintu perlintasan kereta api Leuwigoong, Garut.
Andika bercerita kepada Dedi. Saat itu, ia hendak mengamankan lajur kereta yang akan lewat. Pintu perlintasan sudah ditutup. Namun, dua rombongan pengendara motor memaksa masuk. Satu motor berisi tiga orang, motor lainnya berisi dua orang. Mereka mengangkat palang pintu.
Andika menegur mereka. Tiga pria dari satu motor marah. Mereka mengejar Andika yang berlari ke pos jaga. Di sana, mereka mengeroyoknya.
Akibat pengeroyokan, Andika mengalami luka lebam di wajah dan memar di tangan. Ia kemudian dilarikan ke fasilitas kesehatan. Setelah itu, ia melapor ke Polres Garut.
Dedi mengecam keras kejadian ini. Ia menyebut perilaku para pelaku tidak pantas.
"Pokoknya ini cermin ketidakberadaban warga. Yang sudah ditutup, ini masih maksa lewat. Nanti kalau tertabrak kereta api, penjaga juga yang disalahkan," katanya.
Dalam pertemuan itu, Dedi memberikan bantuan untuk Andika. Ia memberi uang sebesar Rp 25 juta. Uang itu untuk uang muka atau down payment rumah.
"Ini sudah punya istri. Sudah dua tahun. Tadi saya kasih untuk DP rumah Rp 25 juta. Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Tapi bukan berarti kalau mau dapat DP rumah harus digebukin dulu," kelakar Dedi.
Sementara itu, Polres Garut masih memburu ketiga pelaku. Kasat Reskrim Polres Garut AKP Herman Saputra mengatakan, penyelidikan masih berjalan.
"Kasusnya sedang kami lakukan penyelidikan. Mohon doa agar para pelaku cepat tertangkap," ungkap Herman.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana tindakan memaksa di perlintasan kereta api bisa berujung pada kekerasan. Andika hanya menjalankan tugasnya. Namun, ia justru menjadi korban. Polisi kini terus mengejar para pelaku agar segera diproses hukum.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
