Gubernur Jawa Barat Dorong Gen Z Fokus Rumah, Bukan Pesta
Gambar atau konten salah?
Dedi Mulyadi, gubernur Jawa Barat, memimpin sambutan pada acara Peluncuran BSPS se-Jawa Barat, Sosialisasi dan Closing KUR Perumahan (Bank BJB), Sosialisasi Rumah Subsidi, serta PNM Melawan Rentenir yang digelar di SMAN 1 Katapang, Kabupaten Bandung, pada Senin malam, 13 April 2026.
Di tengah diskusi, Dedi menyoroti perubahan prioritas ekonomi di kalangan pasangan muda, khususnya Gen Z. Ia menegaskan bahwa banyak kalangan kini lebih memilih mengalokasikan modal besar untuk pesta pernikahan mewah daripada membeli rumah.
“Orang Jawa Barat itu dalam filosofi Sundanya begini, imah kudu pageuh, beuteung kudu seubeuh, baju kudu weuteuh (rumah harus kokoh, perut harus kenyang, baju harus baru). Ini merupakan penegasan bahwa rumah adalah kebutuhan primer yang tidak bisa ditawar,” tegas Dedi.
Menurutnya, gaya hidup semu ini menambah beban finansial pada pasangan muda. Banyak yang terpaksa meminjam dari bank emok atau lembaga pinjaman informal hanya demi gengsi sesaat. Dedi menilai bahwa keputusan semacam ini dapat memicu masalah keuangan jangka panjang.
Ia menekankan perbedaan antara pesta pernikahan dan memiliki rumah. “Pesta itu jadi rajanya cuma semalam. Kalau kita punya rumah, kita jadi raja selamanya,” ujarnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Dedi mengajak para pemuda memanfaatkan KUA (Kantor Urusan Agama) sebagai tempat pernikahan sederhana. Ia menekankan pentingnya kemandirian ekonomi bagi keluarga baru.
“Jadi mengajak lah, saya mengajak sekarang urusan perumahan hal sederhana ya, pada Gen Z yang mau nikah, lebih baik begini saja, enggak usah ada pesta yang panjang, enggak usah, seserahan segala dikerahkan tapi duitnya minjem ti bank emok,” ucapnya.
Ia juga menyoroti penggunaan voorijder (baju pengantin) dan dekorasi berlebihan yang sering didanai lewat pinjaman. “Ya kan? Segala dibuat-buat, pengantin pakai voorijder, pake bunga, jang naon sia duitna minjem mah (buat apa kaya gitu kalau hasil uang minjem). Lebih baik, pagi-pagi akad nikah di KUA, siang sudah pulang ke rumah sendiri walaupun nyicil,” pungkasnya.
Dengan kata lain, Dedi menegaskan bahwa prioritas utama bagi pasangan muda adalah memiliki tempat tinggal yang stabil, bukan pesta yang bersifat sementara. Ia berharap langkah ini dapat mengurangi ketergantungan pada pinjaman informal dan meningkatkan kesejahteraan generasi berikutnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
