Gunung Slamet Tutup Jalur Baturraden Lestari Suhu Puncak Naik
Gambar atau konten salah?
Gunung Slamet di wilayah Banyumas kembali menutup jalur pendakian melalui Baturraden Lestari setelah suhu di puncak melonjak.
Ketua Umum Lembaga Pengelola Hutan Desa Wana Karya Lestari Baturraden, Daryono, mengumumkan penutupan tersebut pada 06 April 2026. Ia menegaskan keputusan diambil demi keselamatan pendaki, menanggapi data pemantauan suhu yang menunjukkan peningkatan signifikan.
“Kami mendengar, melihat, dan menyaksikan adanya fenomena kenaikan suhu dari PVMBG di wilayah Banyumas. Karena suhu di puncak semakin naik, ini tentu membahayakan para pendaki,” kata Daryono saat ditemui wartawan di posko pendakian setempat.
Ia menambahkan bahwa meski radius berbahaya berada dalam jarak sekitar 3 kilometer dari puncak, pihak pengelola tetap memilih menutup seluruh jalur sebagai langkah antisipasi.
“Walaupun dalam tanda kutip radius 3 kilometer itu yang sangat berbahaya, namun untuk menjamin keselamatan agar tidak terjadi sesuatu hal, maka kami nyatakan pendakian Gunung Slamet via Baturraden Lestari ditutup sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” tegasnya.
Daryono mengungkapkan, sebelum penutupan diberlakukan, masih ada pendaki yang naik pada 03 April 2026, termasuk dari Jakarta dan mahasiswa Mapala Unsoed. Namun seluruhnya telah turun pada malam hari.
“Kemarin memang ada yang naik, total sekitar 21 pendaki. Tapi tadi malam sekitar habis maghrib mereka sudah turun semua. Jadi saat ini sudah tidak ada pendaki di jalur,” jelasnya.
Ia memastikan, mulai hari ini jalur resmi ditutup untuk mencegah risiko yang dapat mengancam keselamatan pendaki maupun pengelola.
“Untuk hari ini resmi kami tutup agar semuanya aman dan tidak terjadi hal yang bisa mengancam jiwa,” ujarnya.
Jalur pendakian via Baturraden Lestari memiliki jarak sekitar 3 kilometer dari basecamp menuju gerbang rimba. Dari titik tersebut ke puncak Gunung Slamet mencapai sekitar 9,1 kilometer dengan total delapan pos pendakian.
Pihak pengelola juga mengimbau masyarakat dan calon pendaki untuk tidak nekat naik, termasuk hanya sekadar menjelajah jalur.
“Ada yang merencanakan hanya ingin susur jalur karena kangen, tapi kami tetap sarankan jangan dulu. Lebih baik cari aman,” pungkasnya.
Penutupan jalur ini tidak pertama kali terjadi. Sebelumnya, pendakian Gunung Slamet resmi ditutup mulai 05 April 2026, setelah peningkatan suhu kawah yang cukup signifikan dan berpotensi memicu aktivitas erupsi.
Supervisor Site Gunung Slamet Perhutani Alam Wisata Wilayah Barat, Sugeng Utomo, menjelaskan keputusan penutupan diambil demi keselamatan pendaki.
“Karena ada peningkatan suhu di kawah yang signifikan, jadi itu berpotensi untuk erupsi. Demi keamanan pendaki, kami memutuskan untuk penutupan pendakian,” kata dia saat dihubungi detikJateng.
Ia menambahkan, penutupan dilakukan menyeluruh di seluruh jalur pendakian yang mengelilingi Gunung Slamet. Bahkan jalur yang sebelumnya masih dibuka, seperti via Kaliwadas, kini juga sudah resmi ditutup.
“Seluruhnya lingkar Slamet ditutup. Kemarin ada yang via Kaliwadas juga sudah tutup. Tadinya mereka mau tetap buka, tapi akhirnya ikut ditutup,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebelumnya sempat ada pendaki yang sudah mencapai Pos 5. Namun dengan adanya perluasan radius aman hingga 3 kilometer dari kawah, aktivitas pendakian tidak lagi diperbolehkan.
Meski demikian, status aktivitas Gunung Slamet saat ini masih berada di Level II atau waspada. Peningkatan aktivitas lebih disebabkan oleh lonjakan suhu kawah yang tidak biasa.
“Statusnya masih di Level II. Yang lainnya normal, tapi memang suhunya yang naik,” kata Sugeng.
Berdasarkan data pemantauan, suhu kawah mengalami lonjakan drastis dalam dua hari terakhir. Pada 03 April 2026, suhu tercatat mencapai 411,2 derajat Celsius. Sehari kemudian, 04 April 2026, suhu kembali naik menjadi 464 derajat Celsius.
“Itu cukup signifikan, karena biasanya suhu stagnan. Normalnya di bawah 200 derajat Celsius, tapi ini naik drastis sejak Jumat tanggal 3,” ungkapnya.
Penutupan jalur ini menegaskan betapa pentingnya memantau kondisi geologi di kawasan gunung. Suhu kawah yang meningkat drastis menandakan potensi aktivitas erupsi, sehingga pihak pengelola memutuskan untuk menutup semua jalur pendakian demi keselamatan publik. Pendaki yang sudah berada di jalur pada saat penutupan telah turun dengan selamat, menandakan koordinasi yang baik antara pengelola dan pendaki. Status Level II menunjukkan bahwa meski belum ada aktivitas erupsi, situasi tetap waspada, sehingga penutupan tetap dipertahankan hingga kondisi stabil kembali.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
