Guru GTT di Pati: Yheni Bekerja Ganda, Gaji Mini

Ningsih R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 99 dibaca
Bisik.id
Guru GTT di Pati: Yheni Bekerja Ganda, Gaji Mini

Gambar atau konten salah?

Yheni Aprilia Susanti, seorang guru tidak tetap (GTT) di SMP Negeri 1 Tambakromo, Pati, memiliki rutinitas yang padat. Setiap hari, ia menempuh perjalanan sekitar enam setengah kilometer menuju sekolah, lalu kembali ke rumah di Desa Tambahmulyo, Kecamatan Gabus.

Ia memulai kariernya sebagai GTT pada tahun 2025, mengajar pelajaran seni tari. “Saya mengajar di SMP Negeri 1 Tambakromo Pati, status saat ini masih menjadi guru tidak tetap (GTT) sejak tahun 2025,” ujarnya pada Sabtu, 02 Mei 2026. Gaji yang ia terima hanya Rp 340 ribu per bulan, sementara biaya bensin tidak cukup menutupi pengeluaran. “Untuk bensin saja tidak cukup, tapi ya dijalani saja,” tambahnya.

Untuk menambah penghasilan, Yheni memanfaatkan keahliannya yang didapat dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, angkatan 2018. Ia membuka sanggar seni di rumahnya dan mengajar tari setiap hari Minggu, mulai pukul 09.00 WIB sampai 11.00 WIB. Sekitar 50 siswa mengikuti pelajaran, dan setiap siswa dikenai biaya Rp 5 ribu per sesi. “Saya mencari kesibukan dengan ahli saya, ada sanggar di rumah selain itu juga kalau ada panggilan saya melatih di sana,” ungkapnya.

Selain mengajar tari, Yheni juga bekerja sebagai sinden di acara campursari. Ia menerima pekerjaan sebagai cucuk lampah, pengiring acara pernikahan adat Jawa. “Kalau malam ada job menjadi sinden, campursari genre saya, kalau pagi atau siang itu cucuk lampah atau menari (di acara pernikahan). Untuk mencari pemasukan lain,” jelasnya.

Sejak masih sekolah, Yheni sudah terjun ke dunia seni. Ia lahir dari keluarga seni; ayahnya adalah dalang wayang kulit di Tambakromo. Yheni mulai menjadi cucuk lampah saat kuliah, dan terus melakukannya bahkan setelah menjadi GTT. “Kalau cucuk lampah dan menjadi sinden sejak sebelum mengajar di SMP. Kalau menjadi sinden sejak SMP. Terus kuliah, tiap Jumat pulang ke Pati, Jumat Sabtu Minggu jadwalnya ngejob kerja. Senin pagi kembali ke Solo kuliah,” ia ceritakan.

Yheni menekankan pentingnya pengaturan waktu. Ia harus menyeimbangkan jadwal mengajar, sinden, dan cucuk lampah. “Kalau saya bisa tukar jam mapel lain di kelas itu saya tukar. Kalau tidak, saya cover minggu sebelumnya. Jadi pertemuan ini sudah saya handle pertemuan selanjutnya,” jelasnya.

Kerjaannya sebagai sinden dan cucuk lampah biasanya hanya pada bulan-bulan tertentu, terutama saat bulan Syawal dan Besar. Pada periode tersebut, banyak pernikahan di Pati, sehingga ia dapat bekerja di empat lokasi dalam satu hari. “Bulan Syawal, Besar, alhamdulillah ramai. Sehari nari sampai 4 lokasi, malamnya nyinden,” tambahnya.

Di momen Hari Pendidikan Nasional, Yheni berharap bisa memperbaiki kariernya. Ia bercita-cita menjadi guru tetap dengan gaji yang layak. Bagi Yheni, seni dan pendidikan adalah dua hal yang saling melengkapi. Jika seni memberikan pemasukan finansial, maka mengajar memberikan kepuasan batin sebagai pendidik.

Yheni menutup percakapan dengan harapan bahwa masa depan akan membawa lebih banyak peluang. Ia tetap gigih, menyeimbangkan antara pekerjaan dan passion-nya, sambil terus menyalurkan kreativitasnya kepada generasi muda.

Guru Tidak TetapSeni TariSanggar SeniCucuk LampahSindin CampursariPatiPendidikan Nasional

Komentar

Memuat komentar...