Hantavirus Tunggal di RSHS Bandung, Kemenkes Jelas Tidak Wabah

Jaka M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 85 dibaca
Bisik.id
Hantavirus Tunggal di RSHS Bandung, Kemenkes Jelas Tidak Wabah

Gambar atau konten salah?

Media sosial baru-baru ini dipenuhi dengan laporan tentang seorang pasien yang meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung karena infeksi hantavirus. Kemenkes menanggapi kekhawatiran publik dengan menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan kasus medis yang terjadi pada tahun 2025 dan bukan merupakan wabah baru.

Menurut Kemenkes, kejadian ini tidak berkaitan dengan penyebaran hantavirus (Andes virus) yang sebelumnya dilaporkan terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Kemenkes menekankan bahwa ini adalah kasus tunggal dan tidak menandakan adanya penyebaran virus di masyarakat.

Pasien yang meninggal berusia 49 tahun dan bekerja sebagai buruh bangunan. Ia berasal dari kawasan Cibeunying Kolot, Kota Bandung. Pada 6 hari sebelum masuk rumah sakit, ia mulai merasakan demam yang tak menentu. Tiga hari sebelum masuk, nyeri di perut bagian kanan atas semakin terasa. Sehari sebelum masuk, ia menunjukkan gejala kuning pada badan dan mata (jaundice), urin pekat, serta nyeri otot. Pasien juga mengalami mual dan muntah setiap kali mencoba makan atau minum.

Di RSHS, pasien hanya menjalani perawatan selama tiga hari sebelum dinyatakan meninggal. Pada hari pertama perawatan, ia datang dengan kondisi demam, mata kuning, dan sesak napas. Hasil rontgen menunjukkan adanya bronkopneumonia, sementara USG menemukan pembesaran jantung (kardiomegali). Pada hari kedua, kondisi pasien memasuki fase kritis, saturasi oksigen terus menurun. Tim medis merekomendasikan intubasi untuk membantu pernapasan, namun keluarga menolak.

“Ketika diedukasi untuk tindakan intubasi, keluarga menolak. Akhirnya pasien meninggal dunia,” kata Dokter spesialis penyakit dalam RSHS, Elisabeth Hutajulu.

Hasil pemeriksaan laboratorium mengungkapkan bahwa pasien mengalami infeksi ganda: hantavirus dan leptospirosis. Kombinasi kedua infeksi ini memperparah kondisi fisiknya, menurunkan kadar trombosit secara signifikan dan meningkatkan indikator infeksi (prokalsitonin). Diagnosis akhir pasien adalah Weil's disease dengan infeksi hantavirus yang disertai syok sepsis. Pasien juga menderita Acute Kidney Injury (AKI) stage 3 dengan hiperkalemia sebelum meninggal.

“Setelah dikirimkan sampelnya, pasien ini positif hantavirus dan leptospirosis, jadi ini yang menjelaskan kenapa pasien itu cukup berat dengan prokalsitonin meningkat kemudian trombositnya juga sangat rendah,” ucap Elisabeth.

Kemenkes menekankan pentingnya masyarakat memahami perbedaan tipe klinis hantavirus agar tidak terjadi kesalahpahaman informasi. Tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang didiagnosis pada kasus RSHS menyerang ginjal. Tipe ini sudah terdeteksi di Indonesia sejak 1991 dengan angka kematian sekitar 5–15 persen. Sebaliknya, tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Andes Virus yang terjadi di kapal pesiar menyerang paru-paru dan jantung, memiliki tingkat kematian hingga 60 persen dan merupakan satu-satunya jenis yang dapat menular antarmanusia.

“Kasus ini di tahun 2025, tipenya HFRS, bukan tipe HPS yang di MV Hondius,” kata Direktur Jenderal P2P Kemenkes, Andi Saguni.

Kasus ini menegaskan bahwa meski hantavirus dapat menimbulkan penyakit serius, setiap tipe memiliki gejala dan tingkat keparahan yang berbeda. Kemenkes tetap mengingatkan bahwa tindakan pencegahan dan pengawasan medis tetap penting, terutama bagi tenaga kerja yang sering terpapar lingkungan yang berpotensi mengandung hantavirus.

Dengan kejadian ini, masyarakat diingatkan bahwa meski kasus tunggal, penting untuk tetap waspada dan melaporkan gejala yang mencurigakan kepada tenaga medis. Kemenkes akan terus memantau situasi dan memberikan klarifikasi bila ada perkembangan lebih lanjut.

hantavirusleptospirosisRumah Sakit Hasan SadikinKemenkesHFRSHPSinfeksi ganda

Komentar

Memuat komentar...