Harga Daging Babi Turun ke Terendah 8 Tahun Indonesia Maret
Gambar atau konten salah?
Harga daging babi di China turun drastis, mencapai level terendah dalam delapan tahun terakhir. Pada pekan keempat Maret 2024, harga babi hidup di seluruh negeri berada di Rp 23.000 per kilogram, turun 29,8 % dibandingkan tahun sebelumnya. Harga daging babi, yang biasanya lebih mahal, mencatat Rp 10.600 per kilogram dan turun 17,8 % secara tahunan, menurut data yang dikutip pada 07 April 2024.
Fenomena ini membuat beberapa jenis sayuran di pasar tradisional dijual dengan harga yang lebih tinggi daripada daging babi. Meski demikian, media menekankan bahwa tidak semua sayuran lebih mahal. Rata‑rata harga grosir 28 jenis sayuran berada di Rp 10.600 per kilogram, turun 1,2 % dari pekan sebelumnya dan naik tipis 0,4 % secara tahunan. Pemerintah memastikan ketersediaan sayuran tetap melimpah dan beragam, tanpa adanya kelangkaan.
“Ini adalah fenomena struktural yang tidak jarang terjadi,” tulis media tersebut. Penyebab utama penurunan harga daging babi adalah pasokan yang berlimpah bertemu dengan permintaan yang lesu. Dalam siklus industri peternakan babi, kondisi harga rendah ini sudah berlangsung cukup lama, memberi tekanan besar pada peternak. Selain harga jual yang turun, mereka juga menghadapi kenaikan harga pakan.
Sejak Oktober 2023, industri peternakan babi melaporkan kerugian menyeluruh. Pemerintah melalui media resminya mengimbau para peternak untuk menyesuaikan produksi. “Peternak harus secara tegas mengeliminasi induk babi dengan produktivitas rendah dan menurunkan kapasitas yang terlalu tinggi ke tingkat yang wajar,” tutupnya. Mereka juga diminta untuk tetap rasional dalam melihat kondisi pasar serta menyesuaikan waktu penjualan ternak.
Harga daging babi yang jatuh hingga setara dengan sayur menimbulkan reaksi publik. Istilah “sayur lebih mahal dari daging” mulai beredar di kalangan masyarakat. Namun, data menunjukkan bahwa rata‑rata harga sayur masih lebih rendah dibandingkan daging babi, baik di tingkat grosir maupun eceran.
Penurunan harga ini mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh faktor pasokan, permintaan, dan musim. Pemerintah berusaha menjaga keseimbangan, sementara peternak harus menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Situasi ini menandai tantangan bagi sektor peternakan babi yang harus mengelola kapasitas dan produktivitas dalam menghadapi harga yang lebih rendah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
