Hasbi, Mahasiswa Tuli, Tanpa Mikrofon di Wisuda Unpad
Gambar atau konten salah?
Hasbi Ridla Ilahi menari di atas mimbar pada hari 6 May 2026 dengan senyum lebar. Ia berusia 25 tahun, berasal dari Tamanjaya, Tamansari, Kota Tasikmalaya, dan kini memegang gelar sarjana D4 di Universitas Padjadjaran. Meskipun ia tuli, Hasbi tidak pernah membiarkan keterbatasan itu menghalangi langkahnya.
Di hari wisuda, Hasbi memilih bahasa isyarat sebagai media pidatonya. Fransisca Octi, seorang Juru Bahasa Isyarat (JBI) dari Unit Layanan Disabilitas Unpad, membantu menerjemahkan setiap gerakan tangan Hasbi ke dalam kata-kata yang dapat dipahami semua orang. Pidato ini tidak terdengar lewat mikrofon, tetapi lewat gerak tangan yang penuh makna.
“Izin saya bercerita sedikit, saya sahasiswa tuli dan saya membutuhkan hak pendidikan dan hak informasi yang setara, baik teman dengar dan teman tuli dan bagaimana saya berjuang untuk mendapatkan ilmu yang mungkin dalam pemikiran saya bagaimana mendapatkan ilmu yang sulit diakses,” kata Hasbi saat ia memulai pidatonya.
Suasana di gedung berubah. Sebelumnya penuh tawa dan sorak-sorai, kini menjadi hening. Semua mata tertuju pada Hasbi yang berdiri tegap, mengenakan toga yang unik namun tetap ikonik. Ia menenangkan diri sebelum melanjutkan.
“Saya seorang tuli yang mengalami hambatan saat mengikuti perkulihan di awal, ada rasa ingin saya mundur karena tidak sesuai dan saya sulit memahami dosen dan teman-teman saya ketika berbicara. Ketika aplikasi trankipsi yang tidak jelas hasilnya dan saya merasa tidak cocok ada di sini,” ungkap Hasbi, menekankan betapa sulitnya memahami materi di kelas.
Hasbi kemudian mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan yang diberikan oleh Unpad. “Alhamdullilah Unpad memberi akses bahasa isyarat, ada juru bahasa isyarat yang membantu saya untuk mendapatkan informasi di dalam kelas dan luar kelas. Terimakasih Unpad dan kedepanya kita bersama-sama untuk melangkah lebih inklusif lagi,” ia sampaikan, menegaskan pentingnya aksesibilitas.
Ia menutup pidatonya dengan ungkapan kebanggaan. “Saya tuli, saya wisuda hari ini dan saya bangga bisa wisuda dengan teman-teman yang ada di sini. Aku kamu kita, salam satu Unpad,” ia ucap sambil menerima tepuk tangan.
Setelah acara, seorang wartawan mengambil kesempatan untuk menanyakan lebih dalam tentang perjalanan Hasbi. Ia menjelaskan bagaimana ia menyesuaikan diri selama masa kuliah. “Saya tidak paham apa yang dosen dan teman bicarakan, biasanya saya minta tuliskan di HP atau kertas. Pernah juga pakai aplikasi transkripsi tapi acak-acakan. Saya tanya ke mahasiswa dengar hasil transkripsi sesuai pembicaraan dosen gak? Ternyata gak sama. Aplikasi sering salah dengar dan tercampur suara lain,” ia ceritakan.
Beruntung, teman-teman dan dosen di Unpad bersedia membantu. “Teman-teman bantu catatan dan buat rekaman yang saya minta. Dosen ada yang bersedia kirim PPT dan jelaskan pake tulisan ke saya,” ia menambahkan, menyoroti kerja sama yang solid di dalam komunitas akademik.
Namun tidak semua dosen bersedia menyesuaikan metode pengajaran. “Buat skripsi, lumayan susah, karena banyak istilah jarang dipakai di sehari-hari. Juga saat sekolah SLB kurikulum beda banget dari SMA umum, saya harus adaptasi banyak. Jadi saya banyak bertanya pada dosen pembimbing, teman, dan kakak tingkat,” ia ungkap, menunjukkan ketekunan yang diperlukan untuk menyelesaikan skripsi.
Hasbi menulis skripsi berjudul Tata Kelola Arsip Digital untuk Layanan Inklusif di PT Kereta Api Indonesia (persero) pada tahun 2025. Ia mengakui bahwa prosesnya memerlukan banyak penyesuaian, mengingat istilah teknis yang jarang dipakai sehari-hari.
Selama kuliah, Hasbi juga bekerja sebagai tenaga pengajar. Ia memulai tinggal di Jatinangor, kemudian pindah ke Cibiru. “Saya mendapatkan fasilitas juru bahasa isyarat di semester 5, sementara sebelumnya belum ada. Hasbi berharap SDM JBI dapat ditambah dan kualitasnya terus ditingkatkan,” ia menyatakan.
Ia menilai pentingnya peningkatan jumlah dan kualitas JBI. “Iyah perlu ditambahin karena sekarang ada dua JBI tapi mahasiswa tuli ada beberapa dan beda jurusan, tapi lebih penting lagi peningkatan kualitas JBI. Saya rekomendasi Unpad kerjasama dengan lembaga penyedia JBI, misal PLJ Indonesia sehingga bisa kerjasama antara lembaga,” ia sarankan.
Walau sudah bekerja, Hasbi masih memikirkan masa depan akademisnya. “Sebenarnya saya sudah bekerja tapi ingin cari kesempatan bekerja lain sesuai ilmu dan kemampuan saya. Juga rencana lanjuti kuliah S2 tapi masih kendala biaya, mungkin perlu menabung atau cari beasiswa lagi, jadi rencana mau fokus cari kesempatan kerja dulu,” ia katakan, menegaskan tekadnya untuk terus belajar.
Hasbi menutup wawancara dengan ungkapan optimisme. Ia percaya bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar hak, melainkan peluang bagi semua. Dengan dukungan JBI dan kebijakan Unpad, ia berharap lebih banyak mahasiswa tuli dapat meraih cita-cita mereka tanpa hambatan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
