Hendra: Ultra-Endurance Menjadi Jembatan Ekonomi Lokal

Hari W. · 6 min baca · 3 bulan lalu · 110 dibaca
Bisik.id
Hendra: Ultra-Endurance Menjadi Jembatan Ekonomi Lokal

Gambar atau konten salah?

Di dunia yang sering diukur lewat angka, ada yang memilih ukuran lain. Mereka menilai diri lewat batas tubuh, ketahanan pikiran, dan keberanian menghadapi risiko. Hendra, seorang pelari ekstrem asal Bogor, adalah salah satu contoh.

Dia bukan sekadar peserta lomba. Ia menempuh jalur yang banyak orang hindari. Dari medan panas, suhu dingin, hingga situasi yang tak memberi ruang untuk kesalahan, semua menjadi bagian dari rutinitasnya.

"Bukan soal medali. Saya ingin tahu dunia," ujarnya di Mitosh Sentul City, Senin malam 30 Maret 2026.

Perjalanan Hendra tidak dimulai dari podium. Semua bermula ketika ia jatuh dari sepeda, lalu memaksa diri bangkit dan berlari. Dari lari kecil menjadi puluhan kilometer per hari, dari latihan biasa menjadi keputusan tak lazim: ikut lomba 100 kilometer tanpa melewati jarak 'aman' seperti 10 atau 20 kilometer.

Rutinitas itu membentuk pola pikirnya. Jika tubuh mampu, batas hanyalah soal keberanian mengambil risiko. Dari situ, ia melangkah ke dunia ultra-endurance, arena yang bukan lagi tentang kecepatan, melainkan tentang bertahan.

Di banyak lomba ekstrim, logika umum sering runtuh. Kecepatan bukan lagi penentu. Otot bukan lagi faktor dominan. Hendra menyebut, kontribusi fisik hanya sekitar 20 persen. Sisanya, 80 persen, adalah kekuatan pikiran, gabungan pengalaman, wawasan, sikap, dan kecerdasan mengambil keputusan.

Di beberapa lomba, peserta bisa bergerak 18 hingga 20 jam sehari. Tidur menjadi kemewahan. Kesalahan kecil bisa berujung fatal: tersesat, hipotermia, dehidrasi, atau sekadar kehilangan fokus di jalur yang salah. "Tubuh hanya mengikuti. Pikiran yang memimpin," tambahnya.

Hendra pernah berada di ketinggian lebih dari 5.000 meter, di suhu yang menggigit, dengan napas yang mulai terasa berat. Di tempat lain, ia menembus lintasan panjang tanpa henti, bahkan lebih dari satu hari tanpa tidur. Dalam lomba sepeda ekstrem di Kirgistan, ia memilih fat bike—sepeda dengan ban besar yang lebih berat dibanding sepeda biasa. Pilihan yang tidak efisien bagi banyak orang, tapi ia menempatkan dirinya di jalur yang menantang batas.

Keraguan sempat muncul dari peserta lain. Usia 60 tahun dan postur tubuh yang tidak besar membuatnya dipandang sebelah mata dalam mengendalikan sepeda berban gemuk. Hasilnya justru sebaliknya: ia menyelesaikan lomba dan menjadi orang pertama yang finis dengan fat bike.

Di balik pengalaman itu, ada biaya yang jarang dibicarakan secara terbuka. Hendra mengaku, selama bertahun-tahun mengikuti berbagai lomba ekstrem di berbagai negara, ia telah mengeluarkan dana hingga mendekati Rp9 miliar. Angka itu mencakup biaya perjalanan, logistik, peralatan, hingga persiapan fisik. Bagi sebagian orang, itu angka yang sulit dibayangkan. Untuk sebuah kegiatan yang bahkan tidak menjanjikan hadiah finansial, bagi Hendra, nilai itu tidak diukur dari imbal balik materi. Ia mengejar pengalaman yang tidak bisa dibeli ulang. Keinginan untuk melihat langsung tempat-tempat yang sebelumnya hanya ia baca. Dari pegunungan ekstrem hingga wilayah seperti Greenland yang selama ini hanya hadir dalam buku pelajaran.

Perjalanan Hendra tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia juga menjadi salah satu pelopor event lari trail di Indonesia, termasuk di kawasan Gunung Rinjani. Jalur-jalur yang dulu tidak dikenal kini menjadi destinasi internasional, mendatangkan peserta dari puluhan negara. Dampaknya terasa nyata. Jalur pendakian yang dulu sepi kini menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Dari tiket masuk, pemandu, hingga pelaku usaha kecil.

"Bukan soal berapa banyak event, tapi sesuatu yang tadinya tidak ada, menjadi ada dan bermanfaat," ujarnya.

Berikut daftar lomba yang diikuti Hendra dan event yang dilahirkan:

  • Majestic Ice Road 15.234 km (Bike), MITOSH Sentul City to Mecca for Hajj, 16 Februari - 27 Mei 2025
  • Iditarod Trail Invitational 1.000 miles (Bike), Alaska - USA, 25 Februari - Maret 2024
  • Silk Road Mountain Race 1.859 km (Bike pair), Kyrgyzstan, Agustus 2023
  • Iditarod Trail Invitational 350 miles (Bike), Alaska - USA, 26 Februari - 6 Maret 2022
  • Silk Road Mountain Race 1.859 km (Bike solo), Kyrgyzstan, 14 - 19 Agustus 2021
  • Iditarod Trail Invitational 350 miles (Bike), Alaska - USA, 28 Februari 2021
  • Iditarod Trail Invitational 320 km (Foot), Alaska - USA, 1 Maret 2020
  • Pendakian Gunung Aconcagua 6.962 m, Argentina, 30 Desember 2019
  • Pendakian Mont Blanc 4.810 m, France, 24 Agustus 2019
  • Yukon Arctic Ultra 100 miles, Canada, 4 Februari 2019
  • Run to Rebuilt (Bogor - Lombok - Palu) 2.176 km, 17 November 2018
  • Bandung 100 Ultra 100 km, 15 September 2018
  • Swisspeaks 360 km 26.000 m D+, Switzerland, 2 - 9 September 2018
  • Transpyrenea 900 km - 74.000 m D+, France, 1 - 16 Agustus 2018
  • TITI Ultra 200 km, Malaysia, 16 - 18 Maret 2018
  • Montane Spine Race 431 km - Winter, United Kingdom, 14 - 21 Januari 2018
  • Gede Pangrango 200 km - 20.000 m D+, Indonesia, 26 - 30 November 2017
  • Tor Des Geants 330 km - 24.000 m D+, Italia, 10 - 15 September 2017
  • Petite Trotte à Leon 300 km - 26.000 m D+, France, Swiss, Italia, 28 Agustus - 2 September 2017
  • Great Himalaya Race 1.600 km - 83.000 m D+, Nepal, April - Mei 2017
  • Gede Pangrango 100 km - 10.000 m D+, Indonesia, 9 - 11 Desember 2016
  • Alpine Challenge 160 km, Australia, 26 - 28 November 2016
  • Bromo Tengger Semeru 170 km - 10.000 m D+, Indonesia, 4 - 6 November 2016
  • MesaStila Peaks Challenge 100 km, Indonesia, 6 - 7 Oktober 2016
  • Ultra Trail Gobi 400 km - Desert Challenge, China, 4 September - 2 Oktober 2016
  • Transpyrenea 700 km - 46.000 m D+, France, Juli - Agustus 2016
  • Trans Sumatra Duathlon (Bike 2.087 km - Run 462 km), 10 - 24 April 2016
  • Ironman (Swim 19 km - Bike 900 km - Run 210 km), Meksiko, 19 - 28 Oktober 2015
  • 633 Arctic Ultra 566 km - Northpole, Canada, 20 - 28 Maret 2015
  • Singapore Ultra Marathon 320 km, Singapore, 1 - 3 Januari 2015
  • Tor Des Geants 332 km - 24.000 m D+, Italia, 7 - 14 September 2014
  • Pendakian Kilimanjaro 5.895 m (7 Summits Africa), Tanzania, 10 Juni 2014
  • Redfox Elbrus Vertical Race 5.642 m (7 Summits Eropa), Russia, 7 - 11 Mei 2014
  • Pendakian Carstensz Pyramid 4.884 m (7 Summits Oceania), Indonesia, April 2014
  • Hyperman (Swim 10 km - Bike 300 km - Trail Run 100 km), Hongkong, 13 - 16 Maret 2014
  • Trans Omania 300 km - Desert Challenge, Oman, 26 - 30 Januari 2014
  • Coast to Kosci Ultra Marathon 240 km, Australia, 6 Desember 2013
  • Bromo Tengger Semeru 170 km - 12.000 m D+, Indonesia, 22 - 24 November 2013
  • Ultra Trail Du Mont Blanc (UTMB) 168 km - 10.000 m D+, Chamonix, 30 - 31 Agustus 2013
  • Trans Singapore Run 230 km, Singapore, 7 - 9 Juni 2013
  • Ultra Trail Mount Fuji (UTMF) 161 km - 10.000 m D+, Japan, 26 - 28 April 2013
  • Hardcore 1 King of The Mountain 170 km - 13.000 m D+, Philippines, 22 - 23 Februari 2013
  • Great North Walk 174 km - 6.600 m D+, Australia, 10 - 11 November 2012
  • Craze Ultra 160 km, Singapore, 22 - 23 September 2012
  • Metaman (Swim 3.8 km - Bike 180 km - Run 42 km), Bintan, Indonesia, 15 September 2012
  • Vibram Hongkong 100, Hongkong, 18 Februari 2012
  • Sundown Ultramarathon 100 km, Singapore, 25 Juni 2011 (dir/dir)

Setiap kompetisi menuntut Hendra untuk menyesuaikan strategi, menyeimbangkan energi, dan tetap fokus pada tujuan. Ia belajar bahwa dalam ultra-endurance, tubuh hanyalah alat, sementara pikiran memegang kendali. Ketika ia menempuh rute-rute yang menantang, ia juga membuka peluang bagi komunitas lokal. Ekonomi desa yang dulunya bergantung pada pertanian kini mendapat tambahan pendapatan dari turis yang mengikuti event-eventnya.

Hendra menunjukkan bahwa hidup bisa diukur lewat pengalaman, bukan hadiah. Ia menekankan bahwa keberanian dan ketahanan mental lebih penting daripada kecepatan. Dengan menantang diri, ia tidak hanya menguji batas tubuh, tapi juga memperkaya komunitas di sekitarnya. Ia membuktikan bahwa perjalanan ekstrem dapat menjadi jembatan antara individu dan masyarakat, menghubungkan orang-orang dari berbagai latar belakang melalui tekad dan rasa ingin tahu.

Hendraultra-endurancelomba ekstrembiaya Rp9 miliarkomunitas lokaljalur trailpendapatan turis

Komentar

Memuat komentar...