Herman Suryatman Di TPS Pasar Baleendah, Sapu Sampah Menumpuk

Dwi H. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 109 dibaca
Bisik.id
Herman Suryatman Di TPS Pasar Baleendah, Sapu Sampah Menumpuk

Gambar atau konten salah?

Herman Suryatman, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, tiba di TPS Pasar Baleendah pada hari Kamis, 30 April 2026. Ia melakukan sidak mendadak setelah laporan sampah menumpuk dan mengganggu aktivitas warga. Pada saat itu, alat berat ekskavator sudah turun di lokasi. Mereka langsung mengangkat gunungan sampah dan menaruhnya ke dalam truk besar yang telah disiapkan untuk pengangkutan.

Herman mengatakan ia turun ke lokasi setelah diberi instruksi langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Setelah itu, Bupati Bandung, Dadang Supriatna segera mengirim personel untuk membantu mengangkut sampah. “Kita bahu‑membahu untuk menyelesaikan sampah di Pasar Baleendah yang tadi kita saksikan ini mah bukan tumpukan sampah, bukan timbulan sampah, ini lautan sampah. Karena jalan hampir tertutup,” ujar Herman saat ditemui di lokasi.

Ia menambahkan kesulitan melintasi area tersebut karena gunungan sampah menutupi jalan. “Jika sampah tersebut dibiarkan beberapa hari akan terjadi penumpukan hingga menutupi akses jalan masyarakat,” jelasnya. Sampah disimpan di pinggir jalan, menutupi badan jalan dan mengganggu drainase. Bau tidak sedap dan banjir kemudian menjadi masalah tambahan. Semua hal ini mengganggu aktivitas ekonomi warga.

Herman menekankan dampak sampah terhadap kesehatan, lingkungan, dan perekonomian. “Karena ini darurat, maka kami bahu‑membahu turun langsung saat ini. Kami mulai angkut dan insyaallah 2‑3 hari selesai. Pokoknya ini harus selesai. Kita akan bawa ke Sarimukti,” tambahnya. Ia meminta Pemkab Bandung dan pengelola Pasar Baleendah mengelola sampah secara mandiri agar tidak terlalu banyak sampah yang dikirim ke TPPAS Sarimukti. “Karena kalau terus‑menerus seperti ini, kami juga tidak sanggup karena Sarimuktinya kan penuh. Sarimukti ini kan untuk regional, bukan hanya Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Bandung Barat, Cimahi. Jadi kami akan sangat berat kalau mengandalkan dibuangnya ke Sarimukti,” ucapnya.

Ia mengajak pemerintah di kewilayahan untuk bahu‑membahu menyelesaikan sampah di lingkungan masing‑masing. “Terus ke warga sekitar jangan dibuang ke pasar, sehingga di sini hanya sampah pasar yang dikelola secara mandiri oleh pengelola pasar,” jelas Herman. Mayoritas sampah tersebut adalah sampah makanan dan organik. Ia berharap sampah dapat diolah menjadi maggot lalu menjadi kompos. “Mudah‑mudahan ini menjadi pembelajaran Pak Camat jajaran harapannya sih zero food waste. Untuk lingkungan ini zero food waste. Kurangi sampah, manfaatkan sampah, daur ulang sampah, sehingga yang keluar sampah itu hanya residu. Pasti tidak akan berat bebannya,” tuturnya.

Herman menambahkan bahwa penumpukan sampah dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat lain. Ia mengajak warga untuk mengelola sampah mulai dari rumah, warung, hingga restoran. “Pada akhirnya sampah yang keluar hanya sampah‑sampah residu yang selanjutnya pengolahannya lebih mudah. Dan Sarimukti pun tidak akan cepat penuh. Nah saya kira ini tantangan untuk kita semua, terutama untuk pasar ini,” kata Herman.

Pengangkutan dan pembersihan sampah dilakukan bersama. Tiga armada truk diturunkan oleh Pemprov Jawa Barat dan 11 truk tronton diturunkan langsung oleh Pemkab Bandung. “Ya, alhamdulillah pada kondisi ini tadi ya karena ada obrolan Pak Bupati dengan Pak Gubernur dan kita juga menyampaikan kaitan kondisi Baleendah. Saya selalu saya sudah tidak lagi mampu untuk mengangkut kan tadi keterbatasan kuota yang ada,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, Ruli Hadiana, saat ditemui di lokasi.

Ruli menjelaskan bahwa sampah di TPS Pasar Baleendah tidak hanya berasal dari pedagang pasar. Menurutnya, warga sekitar juga turut membuang sampah ke lokasi tersebut. “Nah, ini sampah dari luar (pasar) ini ya yang perlu kita evaluasi termasuk layanan pengelolaannya. Saya harapkan nanti ke depan kita ini selesai, ayo kita evaluasi ya,” kata Ruli. Ia menginginkan sampah ditangani sejak sumbernya agar tidak sampai dibuang ke TPPAS Sarimukti. “Pada prinsip dasarnya harus mengolah dengan zero waste. Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang), dan Rot (membusukkan/mengomposkan) diterapkan di sana. Mudah saja Pak Camat, kemudian Pak Lurah ya bisa juga menggerakkan RW-nya untuk melakukan tadi bagaimana sampah ini betul zero waste,” tegasnya.

Informasi sebelumnya menyebutkan tumpukan sampah kembali menggunung di TPS Pasar Baleendah pada hari Selasa, 28 April 2026. Sampah menutupi sebagian badan jalan dan mengganggu aktivitas warga. Sampah berserakan hingga menumpuk layaknya perbukitan dan menimbulkan bau tidak sedap. TPS tersebut berada tepat di belakang Pasar Baleendah. Berbagai jenis sampah menumpuk di lokasi, mulai dari limbah sayuran, plastik, hingga barang bekas lainnya. Sampah rumah tangga juga terlihat dibuang ke TPS itu. Tumpukan sampah mencapai ketinggian 1 meter dan meluber ke sudut jalan alternatif warga yang menuju area pasar. Beberapa tumpukan masih tertahan di gerobak dan belum dipindahkan. Di lokasi juga terlihat spanduk bertuliskan larangan membuang sampah ke lokasi tersebut.

Ketua Pengelola TPS Pasar Baleendah, Indra Sukoco, mengatakan kondisi pasar sudah dua bulan tidak ada penarikan sampah maksimal. Baru setelah Lebaran yang lalu ada penarikan sekitar 6 tronton, namun belum maksimal. “Kondisi Pasar Baleendah sudah 2 bulan belum ada penarikan yang maksimal. Baru habis Lebaran yang lalu ada penarikan sekitar 6 tronton ini belum maksimal,” ujar Indra Sukoco saat ditemui di lokasi.

Peristiwa ini menyoroti pentingnya pengelolaan sampah di pasar tradisional. Dengan penumpukan yang terus bertambah, akses jalan terhambat, drainase tersumbat, dan bau tidak sedap menjadi masalah serius. Pemerintah daerah berusaha menanggapi dengan mengirim alat berat, truk, dan personel. Namun, solusi jangka panjang menuntut partisipasi aktif warga, pedagang, dan pengelola pasar. Konsep zero waste diusulkan sebagai strategi untuk mengurangi sampah, memanfaatkan limbah organik, dan meminimalkan beban pada fasilitas pengolahan akhir seperti TPPAS Sarimukti.

Herman, Ruli, dan Indra Sukoco menekankan perlunya evaluasi layanan pengelolaan sampah di TPS. Mereka mengajak semua pihak untuk memulai pengelolaan sampah sejak sumber, menerapkan prinsip Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot. Dengan demikian, sampah yang keluar dapat menjadi residu yang lebih mudah diolah, mengurangi tekanan pada fasilitas pengolahan, dan menjaga kebersihan serta kesehatan lingkungan sekitar pasar.

Pasar BaleendahsampahJawa BaratHerman SuryatmanTPPAS Sarimuktizero wastedrainase

Komentar

Memuat komentar...