Idul Adha 2026 27 Mei: Muhammadiyah, NU & Pemerintah Sepakat
Gambar atau konten salah?
Idul Adha, atau Hari Raya Idul Adha, merupakan salah satu hari raya besar umat Islam di seluruh dunia. Hari ini juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban karena umat melakukan ibadah kurban dengan menyembelih hewan. Ibadah ini menandai akhir ibadah haji dan menegaskan kesetiaan hamba kepada Tuhan. Setiap tahun, umat menantikan momen ini dengan penuh antusiasme, mengingat pentingnya pengorbanan dan rasa syukur yang diangkat melalui kurban.
Menurut dokumen MUI Digital, perintah kurban terdapat dalam Al‑Quran. Ayat tersebut berbunyi: «Sesungguhnya Kami telah memberikan karunia sangat banyak kepadamu, maka sholatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah qurban.» (QS al‑Kautsar: 1‑2) Versi ini menegaskan bahwa Allah memberikan nikmat yang melimpah dan memerintahkan umat untuk bersyukur melalui sholat dan kurban. Ayat ini menjadi dasar bagi pelaksanaan ibadah kurban di seluruh umat Islam.
Sejarah kurban bermula dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Dalam kisah tersebut, Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan anaknya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Namun, Allah menggantinya dengan seekor domba pada saat terakhir. Ibadah ini menampilkan ketaatan seorang hamba kepada Allah dan menjadi simbol pengorbanan. Meskipun cerita ini bersifat simbolis, pelaksanaannya memerlukan persiapan matang, mulai dari pemilihan hewan kurban hingga pelaksanaan sholat Id.
Karena Idul Adha jatuh di tengah tahun, banyak orang mulai mencari informasi tentang tanggal tepatnya pada tahun 2026. Penetapan tanggal ini penting bagi umat yang ingin mempersiapkan kurban, sholat Id, dan kegiatan ibadah lainnya. Oleh karena itu, kami rangkum penetapan dari Muhammadiyah, prediksi pemerintah, dan NU, sehingga masyarakat dapat merencanakan dengan lebih terstruktur.
Idul Adha dirayakan pada tanggal 10 Zulhijah dalam kalender Hijriah. Kalender Hijriah didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi, sehingga satu tahun Hijriah lebih pendek dibandingkan kalender Masehi. Sementara kalender Masehi mengikuti peredaran bumi mengelilingi matahari. Karena perbedaan ini, 10 Zulhijah tidak selalu bersamaan dengan tanggal yang sama di kalender Masehi, sehingga tanggalnya bergeser tiap tahun.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab wujudul hilal untuk menentukan awal bulan Hijriah. Metode ini menetapkan awal bulan ketika hilal atau bulan baru berada di atas ufuk saat matahari terbenam. Dengan demikian, perhitungan didasarkan pada observasi astronomi, bukan sekadar pengamatan visual. Hasil perhitungan ini dituangkan dalam Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang menjadi acuan resmi bagi Muhammadiyah.
Menurut KHGT, Idul Adha 1447 H jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 juga menetapkan 1 Zulhijah 1447 H pada Senin, 18 Mei 2026, sehingga 10 Zulhijah menjadi Rabu, 27 Mei 2026. Poin ini diteken pada 22 September 2025, menegaskan konsistensi penetapan tanggal di antara dokumen resmi Muhammadiyah.
Pemerintah belum mengumumkan tanggal resmi Idul Adha 2026. Penetapan masih menunggu sidang isbat setelah pemantauan hilal. Kementerian Agama RI telah menetapkan sidang isbat pada akhir bulan Zulkaidah, tepatnya 29 Zulkaidah 1447 H atau Minggu, 17 Mei 2026, di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta. Sidang ini akan menentukan apakah hilal terlihat dan memutuskan kapan 1 Zulhijah dimulai.
Sidang isbat mengacu pada kriteria MABIMS, yang menetapkan hilal memenuhi syarat jika memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat. Kriteria ini disepakati oleh Menteri Agama dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Berdasarkan kalender Hijriah Indonesia, 10 Zulhijah diperkirakan Rabu, 27 Mei 2026, namun tanggal tersebut masih bersifat sementara sampai hasil sidang isbat.
NU menggunakan metode hisab astronomi sama seperti Muhammadiyah, namun tetap melakukan rukyat untuk memastikan perhitungan. Metode rukyat ini serupa dengan yang dilakukan oleh pemerintah. Karena itu, prediksi NU biasanya sejalan dengan hasil sidang isbat. Menurut Almanak NU, 10 Zulhijah 1447 H jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, sehingga NU memprediksi Idul Adha 2026 akan pada tanggal yang sama persis dengan prediksi pemerintah.
Dengan demikian, Muhammadiyah, pemerintah, dan NU semua memprediksi Idul Adha 2026 akan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Artinya, Idul Adha akan datang dalam 20 hari lagi. Kesamaan penetapan ini menjadi kabar baik karena memungkinkan masyarakat merayakan Idul Adha secara serentak, sekaligus memudahkan dalam mempersiapkan berbagai kebutuhan ibadah, mulai dari sholat Id hingga pelaksanaan kurban.
SKB 3 Menteri Nomor 1497, 2, dan 5 Tahun 2025 mengatur libur nasional dan cuti bersama. Hari raya Idul Adha 2026 menjadi libur nasional pada 27 Mei 2026 dan cuti bersama pada 28 Mei 2026. 29 Mei 2026, yang jatuh pada hari Jumat, tidak termasuk libur nasional maupun cuti bersama. Dengan demikian, masyarakat dapat menyesuaikan jadwal kerja dan kegiatan lainnya sesuai dengan kebijakan resmi.
Penetapan tanggal Idul Adha 2026 yang seragam di antara berbagai lembaga memudahkan masyarakat merencanakan ibadah kurban dan sholat Id. Dengan libur nasional dan cuti bersama yang sudah ditetapkan, umat dapat menyiapkan segala kebutuhan tanpa kebingungan tentang kapan hari raya berlangsung. Kesepakatan ini juga menegaskan pentingnya koordinasi
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
