Ikan Sapu‑sapu Di Danau Tondano, Nelayan Minta Dukungan

Wati N. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
Ikan Sapu‑sapu Di Danau Tondano, Nelayan Minta Dukungan

Gambar atau konten salah?

Minahasa, Sulawesi Utara, Danau Tondano kini menjadi tempat serbu ikan sapu‑sapu yang banyak tertangkap di perangkap nelayan. Kondisi ini membuat nelayan khawatir ekosistem danau terganggu jika tidak segera ditangani. Ikan sapu‑sapu ini tidak memangsa ikan lain, namun sering memakan telur ikan. Dampaknya menurunkan jumlah ikan di danau, menimbulkan ketidakpastian bagi nelayan.

"Danau Tondano sekarang sudah banyak ikan sapu‑sapu," ujar seorang nelayan bernama Hendro pada Senin (04 Mei 2026). Hendro menegaskan bahwa populasi ikan sapu‑sapu meningkat drastis belakangan ini.

Hendro menjelaskan bahwa ikan sapu‑sapu memang tidak memangsa ikan lain. Namun, keberadaannya kerap memakan telur‑telur ikan sehingga mengganggu perkembangan populasi ikan di danau. Hal ini menjadi perhatian utama bagi nelayan yang bergantung pada hasil tangkapan.

"Kalau telur ikan seperti karper, payangka, dan ikan mas dimakan sapu‑sapu bagaimana lagi mau berkembang," ucapnya. Ia menekankan bahwa telur‑telur penting bagi kelangsungan spesies.

Dia menyebut ikan payangka yang biasa mereka tangkap saat ini sudah sangat berkurang atau tidak seperti biasanya. Kondisi tersebut memperkuat keinginan mereka untuk mengurangi populasi ikan sapu‑sapu.

Melihat kondisi tersebut, Hendro pun berinisiatif membasmi ikan sapu‑sapu itu. Ia memulai diskusi dengan istri untuk mencari dana. Hendro yakin ada pihak yang bersedia bekerja sama.

"Saya kemudian berdiskusi dengan istri, bahwa ikan sapu‑sapu ini harus dibasmi tapi saya butuh dana. Tapi saya yakin pasti ada yang mau kerja sama basmi ikan sapu‑sapu," tuturnya. Ia berharap dukungan finansial dapat mempercepat upaya.

Dirinya kemudian memanggil nelayan lain untuk membasmi ikan sapu‑sapu yang dapat mengganggu ekosistem di danau Tondano. Hendro bahkan memberikan nelayan lain yang ingin membantunya berupa uang dan rokok.

Belakangan, Hendro menyebut sudah mulai banyak nelayan yang sadar dan ingin membasmi ikan sapu‑sapu itu. Karena mulai banyak nelayan yang membantunya, ia sampai kelelahan menimbun ikan sapu‑sapu yang berhasil ditangkap.

"Sudah lebih dari 1.000 ekor ikan sapu‑sapu yang kami tangkap, sampai berkarung‑karung sehingga membuat saya lelah menggali tanah sendiri, jadi harus membayar orang," tuturnya. Ia menekankan besarnya upaya yang diperlukan.

Hendro menceritakan, tahun lalu sekira bulan Juni perangkap ikannya pernah mendapat ikan sapu‑sapu sekitar satu hingga tiga ekor. Saat itu dirinya belum menyadari kalau ikan sapu‑sapu itu bisa berdampak buruk ke depannya.

"Setelah tahun ini ikan sapu‑sapu yang besar mulai banyak kami dapatkan, saya mulai serius dengan mengganti perangkap yang lebih besar jalan masuknya, meski harganya mahal," bebernya. Ia menyesuaikan strategi untuk menangkap lebih banyak.

Semakin banyak ikan sapu‑sapu yang ditangkapnya membuat perangkapnya ada yang rusak. Bukan hanya Hendro tapi juga sudah banyak perangkap nelayan lain yang rusak akibat ikan sapu‑sapu.

"Ada yang sudah berkali‑kali beli perangkap, dengan meminjam uang di koperasi tapi belum lunas dibayar sudah rusak," ungkapnya. Hal ini menambah beban ekonomi nelayan.

Hendro berharap pemerintah bisa turun tangan agar populasi ikan sapu‑sapu bisa berkurang dan tidak mengancam mata pencarian nelayan di Danau Tondano. Ia memohon bantuan teknis dan finansial.

"Kalau tidak dibasmi, saya tidak bisa bayangkan tahun depan, bisa‑bisa nelayan tidak dapat hasil lagi," pungkasnya. Ia menegaskan urgensi tindakan.

Kondisi serbu ikan sapu‑sapu di Danau Tondano menimbulkan ketidakpastian bagi nelayan. Upaya kolektif dan dukungan pemerintah menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mata pencarian nelayan.

Danau TondanoIkan sapu-sapuNelayanPerangkapTelur ikanEkosistemPemerintah

Komentar

Memuat komentar...