ITB dan Boeing Rencanakan Program BUILD Pusat Inovasi Dirgantara

Dwi H. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 117 dibaca
Bisik.id
ITB dan Boeing Rencanakan Program BUILD Pusat Inovasi Dirgantara

Gambar atau konten salah?

Institut Teknologi Bandung (ITB) mengumumkan kerja sama dengan perusahaan dirgantara Boeing. Tujuannya membangun ekosistem inovasi lewat inisiatif bernama Boeing University Innovation Leadership Development (BUILD). Program ini dirancang agar dunia akademik dan industri dapat berkolaborasi, sekaligus mendorong munculnya startup berbasis teknologi di Indonesia.

Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, menjelaskan bahwa BUILD merupakan kerja sama strategis antara kampus, industri, dan pemerintah. Ia menegaskan, “meningkatkan peluang keberhasilan inovasi di kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum.” Dengan demikian, inovasi tidak hanya berhenti di tahap konsep, melainkan dapat berkembang hingga implementasi di industri.

Ia menambahkan, “Ini adalah kerja sama antara Boeing dan ITB, didukung oleh Kemdiktisaintek. Tujuannya membangun ekosistem, di mana mahasiswa, alumni muda, maupun perusahaan pemula dibantu oleh Boeing untuk tumbuh dan berkembang menghasilkan gagasan-gagasan inovasi.” Pernyataan ini diucapkan pada hari Senin, 04 Mei 2026.

Menurut Tatacipta, banyak calon pengusaha teknologi di Indonesia yang belum memiliki akses langsung ke industri besar. Hal itu membuat inovasi sulit berkembang. Dengan program ini, Boeing akan berperan sebagai pihak yang menyediakan mentoring, pendanaan, hingga akses ke ekosistem industri global. Ia menyatakan, “Selama ini banyak calon pengusaha teknologi yang tidak langsung terkoneksi dengan industri besar. Boeing sekarang menjadi jangkarnya, yang akan memberikan mentor dan membangun ekosistemnya, sehingga tingkat keberhasilan dari gagasan inovasi ini sampai ke hilir bisa lebih tinggi.”

Program ini juga menjadi bagian dari strategi Boeing untuk memperluas ekosistem industri dirgantara di Asia, termasuk Indonesia. Tatacipta menegaskan, “Di Malaysia ada lebih dari 200 perusahaan yang terkait dengan Boeing. Di Indonesia masih sedikit sekali, padahal pesawat Boeing di Indonesia sangat banyak. Jadi Boeing perlu ekosistem di sekitar Indonesia untuk mendukung operasi dan bisnisnya.”

Ia menjelaskan bahwa ITB menjadi kampus pertama yang bekerja sama langsung dengan Boeing. Program yang meliputi hackathon dan inkubasi startup terbuka bagi peserta dari berbagai kampus, tidak terbatas hanya mahasiswa ITB. Tatacipta menegaskan, “Program ini meskipun di-host oleh ITB, pesertanya terbuka untuk semua orang, bukan hanya dari ITB saja.”

Sementara itu, Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, mengatakan kolaborasi ini telah melalui proses pematangan konsep selama satu tahun terakhir. Menurutnya, penguatan ekosistem tidak hanya berfokus pada produk akhir seperti pesawat, tetapi juga mencakup pengembangan riset. Ia berkata, “Ketika ingin mengembangkan ekosistem di Indonesia, yang perlu dipikirkan bukan hanya soal menghadirkan pesawat baru. Tetapi juga tentang membangun ekosistem itu sendiri, melibatkan universitas, perusahaan, dan berbagai pihak untuk mendukung pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia.”

Indra menambahkan, “Semua itu hanya bisa dimulai dengan fokus berinvestasi pada talenta, pada edukasi di bidang STEM.”

Program BUILD akan menjaring peserta dari kalangan mahasiswa tingkat akhir, lulusan baru, hingga pendiri startup tahap awal yang belum mendapatkan pendanaan eksternal. Peserta akan dibentuk dalam tim berjumlah 3-5 orang dari lintas disiplin ilmu. Dari sekitar 50 tim yang akan dipilih, 10 akan menjadi finalis terbaik. Dari finalis tersebut, tiga pemenang akan mendapatkan pendampingan lebih lanjut, pengalaman langsung di ekosistem inovasi ITB, serta peluang pendanaan.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, M. Fauzan Adziman, menekankan bahwa fokus topik inovasi berasal dari kebutuhan industri saat ini. Ia menyatakan, “Hackathon ini harus dimulai dari problem statement yang datang dari industri. Jadi, masalah-masalah itu akan menjadi sumber riset ke depan, sehingga lulusan kita tidak lagi mencari pekerjaan, karena keahliannya sudah dibutuhkan di industri.”

Fauzan menjelaskan bahwa fokus inovasi dalam program ini mencakup berbagai aspek dalam industri dirgantara. Mulai dari sistem elektronik, bahan bakar, material, hingga pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis sumber daya lokal Indonesia. Ia menambahkan, “Inovasi di sektor dirgantara menjadi hal penting karena kerap berperan sebagai penggerak inovasi di berbagai bidang teknologi lainnya. Pasalnya, banyak inovasi di sektor otomotif, energi, hingga logistik yang berawal dari pengembangan teknologi di bidang dirgantara.”

Ia juga berharap program ini dapat menggali potensi sumber daya alam Indonesia seperti nikel. Sebagai penghasil nikel terbesar dunia, Indonesia diharapkan bisa menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri dirgantara global. Ia menutup dengan kata, “Nikel ini disebut 'ningrat'-nya material. Kalau dijual harganya tinggi sekali. Kalau bisa kita kembangkan sendiri untuk dibuat menjadi super alloys, kita bisa jadi bagian dari supply chain (industri dirgantara global). Nilai tambahnya tinggi.”

Dengan adanya BUILD, ITB dan Boeing berharap dapat menciptakan jaringan yang kuat antara akademisi, pengusaha muda, dan industri. Program ini diharapkan mampu menghasilkan solusi inovatif yang relevan dengan kebutuhan industri, sekaligus membuka peluang bagi mahasiswa dan startup untuk mendapatkan pendanaan serta akses ke pasar global. Program ini menandai langkah awal bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam industri dirgantara, sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya alam nasional dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi dan teknologi.

BoeingITBBUILDekosistem inovasistartup teknologiSustainable Aviation Fuelnikel

Komentar

Memuat komentar...