ITB Tanggapi Dugaan Pemalsuan Data ISPPD oleh Prihantini

Mira T. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
ITB Tanggapi Dugaan Pemalsuan Data ISPPD oleh Prihantini

Gambar atau konten salah?

Nama Prihantini tiba-tiba menjadi sorotan di dunia riset Indonesia. Ia tidak dikenal karena hasil risetnya, melainkan karena dugaan pemalsuan data pada konferensi kesehatan internasional ISPPD-14 yang diadakan di Kopenhagen, Denmark.

Prihantini adalah alumni Program Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB angkatan 2020. Ia lulus pada tahun 2022 dengan tesis berjudul Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring.

ITB mengekspresikan keprihatinan atas sorotan publik terhadap tindakan Prihantini, yang diduga melakukan fraud atau manipulasi riset di konferensi tersebut.

Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, menyatakan bahwa materi yang dipresentasikan Prihantini tidak berkaitan dengan tesis atau aktivitas akademik di ITB. “ITB menyatakan sikap bahwa tindakan Saudari Prihatini tersebut merupakan tindakan hukum sebagai seorang individu. Dengan demikian jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud,” kata Aep pada Kamis (28 Mei 2026).

Aep menegaskan bahwa ITB menghormati proses hukum dan berkomitmen memperkuat budaya akademik, khususnya di ranah penelitian yang berintegritas dan bertanggung jawab.

Kasus ini menjadi sorotan setelah epidemiolog Indonesia, Wa Ode Dwi Daningrat, yang sedang menempuh studi doktoral di Oxford University, menemukan kejanggalan selama konferensi.

ISPPD-14 dihadiri lebih dari 1.300 peserta dari 86 negara. Namun, nama Indonesia justru menjadi bahan pembicaraan karena dugaan manipulasi identitas peneliti dan data riset yang dinilai janggal.

Dwi dan rekannya merasa penasaran sebagai sesama orang Indonesia ketika menemukan pemateri bernama Prihantini. “Gue sama teman gue aware karena dia pakai afiliasi Indonesia. Kalau kita baca paper tentang pneumonia di Indonesia orangnya itu-itu aja. Makanya kami scrutinize sampai ketahuan kayak gini karena dia afiliasinya Indonesia. Jadi naturally we are curious about that. Apalagi berasal dari satu negara sama-sama Indonesia di konferensi minimal saling sapa,” ujar Dwi.

Kecurigaan semakin kuat ketika Prihantini kerap menghindari interaksi dengan delegasi Indonesia lain. Saat didekati, ia memperkenalkan diri menggunakan nama berbeda kepada orang yang berbeda.

Dwi juga menemukan kejanggalan pada data yang ditampilkan. Salah satu hal paling mencurigakan adalah klaim pengumpulan data primer di wilayah dataran tinggi Andes, Peru, tanpa kolaborator lokal. “Mereka tuh ngumpulin data di Andes. Ngumpulin data dan enggak ada sama sekali kolaborator lokal di negara itu impossible untuk melakukan penelitian kayak gitu di negara orang. Itu salah satu keanehan yang paling menonjol,” ujarnya.

Dwi dan rekannya mengikuti sesi presentasi di mana Prihantini mempresentasikan risetnya. Pada sesi yang dijadwalkan atas nama Riana Dwi Kurniawati dengan judul Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal Pneonia Risk and Climate-Exposed Older Adult Hotspots in LMIC Megacities, ia memperkenalkan diri menggunakan nama Riana.

Sepuluh menit kemudian, pada sesi berbeda, Dwi melihat perempuan yang sama tampil lagi setelah mengganti jilbabnya menjadi warna merah. Ia juga mengeluarkan identitas bertuliskan nama Dimas Fajar Prasetyo dari dalam tasnya. Kemudian mempresentasikan penelitian berjudul AI-Fused Satellite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities. Perempuan ini menurut Dwi mengenalkan diri dengan nama Dimas.

Prihantini sendiri tidak berada dalam daftar penulis dalam kedua penelitian di atas. Ia memang mengirimkan lima judul penelitian dalam konferensi tersebut dan dipamerkan dalam bentuk poster.

Berikut adalah lima judul riset yang dipresentasikan oleh Prihantini:

  • Deep Reinforment Learning Guided Scheduling of Flagellin and Antibiotics For Precision Host-Directed Therapy in Pneumococcal Pneumonia
  • Global Data Mining of Resistant Pneumococcal Sepsis Transcriptomes Identifies Conserved Stress Modules Linking Virulence, Metabolism, and Vulnerability Axes
  • Multiscale Mathematical Modeling of Influenza-Pneumococcal Superinfection to Define Optimal Timing for Flagellin Host-Directed Therapy
  • Deep Learning Integration of Innate Lymphoid Cell States, Lung Transcriptomic Programs, and Cross-Vivarium Microbiota Predicts Interleukin-22-Dependent Disease Severity in Pneumococcal Pneumonia
  • Multi-Strain Machine Learning Identifies Transcriptomic Combination Vulnerabilities in Multidrug-Resistant Streptococcus Pneumoniae

Dikutip dari laman ISPPD, kelima judul tersebut dikerjakan bersama Rifaldy Fajar dan Rini Winarti.

Prihantini dan Rifaldy menggunakan nama AI-Biomedicine Research Group, IMCDS Biomed Research Foundation, Jakarta sebagai institusi asal. Sementara Rini Winarti memakai nama Departemen Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta sebagai afiliasi.

Kronologi ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara nama, afiliasi, dan data yang disajikan, serta ketidakhadiran Prihantini dalam daftar penulis dua presentasi utama.

ITB menegaskan komitmen untuk memperkuat budaya akademik dan menolak tuduhan pemalsuan, sambil menghormati proses hukum yang mungkin terjadi.

Situasi ini menyoroti pentingnya verifikasi identitas dan integritas data dalam konferensi internasional, serta peran lembaga akademik dalam menjaga reputasi penelitian.

Keputusan ini juga menegaskan bahwa publikasi dan presentasi harus didukung oleh kolaborasi lokal yang jelas, terutama ketika data diklaim berasal dari wilayah asing.

Investigasi masih berlangsung, dan ITB bersiap menindaklanjuti jika ada bukti hukum yang kuat.

Dengan demikian, kasus ini menjadi contoh penting bagi komunitas riset Indonesia untuk tetap waspada terhadap praktik yang dapat merusak kredibilitas ilmiah.

Prihantinipemalsuan dataISPPD-14ITBintegritas risetidentitas penelitikonferensi kesehatan internasional

Komentar

Memuat komentar...