Jawa Barat Dorong Penjual Kopi Lokal, Tutup Sachet Ciwidey

Rizki W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 72 dibaca
Bisik.id
Jawa Barat Dorong Penjual Kopi Lokal, Tutup Sachet Ciwidey

Gambar atau konten salah?

Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, menegaskan pentingnya meningkatkan perekonomian petani kopi lokal. Ia mengajak penjual kopi di kawasan wisata Ciwidey dan Pangalengan untuk lebih banyak menjual kopi hasil produksi daerah, alih-alih kopi kemasan sachet.

Dalam pernyataannya di Kantor Bank Indonesia Jawa Barat, Jalan Braga, Kota Bandung, pada 27 April 2024, Dedi menekankan bahwa Bandung memiliki potensi besar sebagai penghasil kopi berkualitas. Ia berkata, “Bandung itu penghasil kopi terbaik, tetapi orang yang meminum kopi khas Bandung belum benar-benar merasakannya. Maka di Ciwidey dan Pangalengan, terutama kios yang menjual kopi kemasan sachet, seharusnya menjual kopi tumbuk khas hutan Bandung.”

Ia juga pernah menyebut rencana pembatasan penjualan kopi kemasan sachet pada rapat paripurna Hari Ulang Tahun ke-385 Kabupaten Bandung di DPRD Kabupaten Bandung, 20 April 2026. Menurutnya, peralihan dari kopi kemasan ke kopi lokal dapat menambah nilai bagi identitas daerah sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan. Ia menegaskan, “Jadi ada kekhasan.”

Data dari Dinas Perkebunan Jawa Barat melalui Open Data Jawa Barat menunjukkan bahwa produksi kopi arabika di Kabupaten Bandung mencapai 8.567 ton pada tahun 2024. Kabupaten Bandung menjadi daerah dengan produksi kopi arabika tertinggi sejak 2017, dan produksinya terus meningkat setiap tahun: 5.277 ton pada 2017, 6.634 ton pada 2018, 6.700 ton pada 2019, 7.526 ton pada 2020, 7.680 ton pada 2021, 8.183 ton pada 2022, 8.318 ton pada 2023, hingga 8.567 ton pada 2024.

Dedi juga menyoroti potensi komoditas teh di wilayah tersebut. Ia menyebut kawasan Ciwidey, Pangalengan, dan Malabar sebagai penghasil teh unggulan di Jawa Barat. Ia mengucapkan, “Tehnya teh Ciwidey, teh Pangalengan, teh Malabar.”

Selain itu, Dedi menekankan pentingnya memperkuat identitas kuliner lokal. Ia menjelaskan, “Hal itu akan membangun daya ingat. Ketika berkunjung ke sana, rasa kopi berbeda, aroma teh berbeda, termasuk saat menikmati kuliner seperti lotek.” Ia menambahkan, “Itu yang harus bisa mengikat orang yang datang.”

Dengan langkah-langkah tersebut, Dedi berharap wisatawan dapat merasakan keunikan rasa kopi dan teh daerah, sekaligus mendukung petani lokal dan memperkaya budaya kuliner Jawa Barat.

Dedi MulyadiGubernur Jawa Baratkopi lokalCiwideyPangalengankopi arabikateh Ciwidey

Komentar

Memuat komentar...