Jemaah Haji Purbalingga Meninggal di Rumah Sakit Saudi
Gambar atau konten salah?
Seorang jemaah haji asal Kabupaten Purbalingga, bernama Santosa Partowiyojo, telah meninggal dunia di Arab Saudi. Ia merupakan anggota Kloter SOC 69 dari Kelurahan Penambongan, Kecamatan Kalimanah.
Menurut Ani Mufarokhah, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Purbalingga, almarhum meninggal pada 28 Mei 2026 sore waktu Arab Saudi. Kematian terjadi di RSAS Saudi German Hospital (SGH).
“Almarhum meninggal di RSAS Saudi German Hospital karena sakit jaringan otak akibat adanya sumbatan pada pembuluh darah di bagian kepala,” kata Ani dalam keterangan resminya pada 29 Mei 2026.
Menurut laporan tim medis, Santosa sudah merasakan gejala sejak perjalanan menuju Arab Saudi. “Saat berangkat di pesawat, jamaah mengeluh pusing berputar-putar berat disertai mual hingga telinga kanan tidak bisa mendengar,” jelasnya.
Setibanya di Makkah, kondisi Santosa terus dipantau oleh tim medis di hotel tempat ia menginap. “Di hotel Makkah dilakukan observasi oleh tim medis. Kondisi kesadaran cenderung mengantuk dan bicara mulai pelo,” ujarnya.
Karena kondisi terus memburuk, Santosa dirujuk ke RSAS SGH pada 15 Mei 2026. Pemeriksaan rontgen kepala menemukan sumbatan di bagian belakang kepala.
Dokter kemudian melakukan trombolisis, prosedur darurat untuk melarutkan gumpalan darah pada pembuluh darah. “Paska tindakan, kondisi jamaah sadar penuh dan mulai membaik hingga dilakukan rawat inap,” imbuh Ani.
Meski sempat menunjukkan perkembangan positif, kondisi Santosa kembali menurun. Ia menjalani perawatan intensif di ruang ICU sejak 23 hingga 28 Mei 2026. Setelah salat Ashar waktu setempat pada 28 Mei, tim medis menyatakan Santosa meninggal dunia.
Ani menyatakan masih menunggu informasi lebih lanjut terkait lokasi pemakaman almarhum. Ia juga mengungkapkan belasungkawa atas kehilangan jemaah haji tersebut.
“Atas nama Kemenhaj Kabupaten Purbalingga, kami menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya jamaah haji tersebut. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” pungkasnya.
Peristiwa ini menegaskan pentingnya pemantauan kesehatan jemaah haji selama perjalanan dan di tempat ibadah. Kondisi kesehatan yang tidak terdeteksi dapat berujung pada komplikasi serius, bahkan kematian. Kementerian Haji dan Umrah harus terus meningkatkan sistem perawatan dan koordinasi dengan rumah sakit di luar negeri untuk melindungi para jamaah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
