Kampung Lobster Banyuwangi: Budidaya & Wisata Kuliner Laut
Gambar atau konten salah?
Di Banyuwangi, kami menantikan rasa lobster segar sambil menikmati pemandangan Selat Bali yang memukau. Setelah menikmati air laut dan panorama Pulau Tabuhan, kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Lobster, hanya sekitar 500 meter dari dermaga perahu.
Lokasi ini terletak di kawasan Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Kami berjalan kaki, sekaligus mengeringkan pakaian yang basah karena ombak. Sesampainya di sana, suara azan Jumat terdengar dari musala dekat restoran, namun dua rekan muslim dalam rombongan tetap bertahan di tempat.
“Lagi pula kami kan musafir,” ujar salah seorang di antara mereka sambil tersenyum, seolah sudah menyiapkan pembelaan sebelum ada yang bertanya lebih jauh.
Di area budidaya, kami diajak melihat bangunan berbentuk dome yang menampung akuarium berisi berbagai biota laut. Di dalamnya, lobster berukuran berbeda, kepiting, dan ikan kerapu berbaris rapi. Di bagian lain, tumpukan kerang dan cumi‑cumi segar bersih siap diolah menjadi hidangan laut.
Kampung Lobster merupakan bagian dari PT Teras Samudra Sejahtera, perusahaan budidaya lobster sistem dasar sekaligus pemasok lobster untuk pasar ekspor. Di perairan Bangsring, perusahaan ini mengelola sekitar 300 keramba tenggelam yang menyerupai apartemen bawah laut. Ribuan benih lobster dibesarkan di sana hingga siap panen. Selain itu, terdapat dome lobster berukuran besar yang digunakan untuk pembesaran lobster maupun ikan konsumsi lainnya.
Chandra Astan, pemilik Kampung Lobster, menjelaskan bahwa awalnya lokasi tersebut murni digunakan untuk budidaya lobster ekspor. Namun, berkembangnya wisata bahari di Bangsring membuat mereka melihat peluang lain.
“Kampung Lobster awalnya tempat budidaya lobster untuk ekspor. Kemudian kami kembangkan menjadi wisata kuliner yang menyajikan berbagai olahan seafood dengan spesialis lobster,” ujar Chandra, yang juga politisi PDI Perjuangan.
Ia menjamin hampir seluruh menu andalan di restoran ini bertumpu pada kesegaran bahan baku. “Kuliner kita adalah kuliner laut. Mulai ikan dan spesial adalah lobster yang ditangkap langsung sehingga fresh,” tambahnya.
Pelayan restoran menambahkan bahwa waktu terbaik menikmati suasana Kampung Lobster bukan saat makan siang seperti yang kami lakukan, melainkan menjelang petang. “Di sini makin sore makin ramai karena bisa sekalian menikmati sunset,” ujarnya.
Meja‑meja sengaja ditata menghadap langsung ke Selat Bali. Dari kejauhan, perahu‑perahu wisata hilir mudik mengantar wisatawan menuju Pulau Tabuhan atau kembali ke daratan. Pemandangan Selat Bali yang cantik menambah keindahan saat makan.
Siang itu, laut berwarna biru kehijauan membentang di depan mata, sementara semilir angin pantai membuat suasana makan terasa lebih santai. Tepat setelah waktu salat Jumat usai, pengunjung mulai berdatangan. Restoran yang sebelumnya relatif lengang perlahan terisi. Selain wisatawan lokal, kami kembali bertemu dengan lima pasangan wisatawan asal China yang sebelumnya kami jumpai saat berkunjung ke Pulau Tabuhan.
Menu yang kami pilih tidak memerlukan waktu lama untuk diputuskan. Dua porsi lobster bakar saus mentega menjadi pesanan utama. Kami juga memesan kepiting saus Padang, kerang saus Padang, serta plecing kangkung sebagai pendamping masing‑masing dua porsi.
Ketika hidangan tiba di meja, aroma mentega dari lobster bakar langsung mendominasi. Daging lobster yang tebal dan manis berpadu dengan bumbu yang meresap sempurna. Kepiting dan kerang saus Padang pun tak kalah menggoda.
Untuk minuman, kami memilih jeruk peras dan aneka jus lainnya. “Sadar kolesterol ya bro…,” canda saya.
Dalam perjalanan kembali ke penginapan, saya malah mampir ke sebuah apotek untuk membeli simvastatin. Kali ini giliran anggota rombongan yang meledek saya. “Usia emang gak bohong, ya Kang. Gak cukup air jeruk tapi harus didoping simvastatin juga,” seru Audrey disambut tawa rombongan.
Pengalaman ini menunjukkan bagaimana Kampung Lobster menggabungkan budidaya, kuliner, dan wisata. Dengan pemandangan Selat Bali yang memikat, serta menu seafood segar yang disajikan langsung dari laut, tempat ini menjadi pilihan menarik bagi pencinta lobster dan wisatawan yang ingin menikmati suasana pantai yang tenang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
